Lindungi Anak dari Teror Bom, Ini Panduan Khusus dari Mendikbud

14 May 2018 09:41 Pendidikan

"Anak juga perlu diajak berdiskusi dan mengapresiasi kerja polisi, TNI, petugas kesehatan dan lainnya dalam melindungi, melayani, dan membantu kita saat tragedi terjadi. Keberanian petugas bisa lebih ditekankan ketimbang sisi kejahatan pelaku teror."

Peristiwa ledakan bom di dekat tiga gereja di Surabaya menjadi pelajaran masyarakat secara luas. Juga perlu dipahami bagi anak-anak usia sekolah. Kabar dan bahkan foto-foto terkait korban dan peristiwa ini dengan mudahnya menyebar di media sosial.

Nah, untuk itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) punya pesan khusus, bagi orangtua dan juga untuk guru di sekolah terkait panduan tentang cara bicara pada anak mengenai kejahatan terorisme.

Pesan tersebut disampaikan dalam akun Instagram Kemdikbud, @kemdikbud.ri. Apa saja panduannya?

Kepada orang tua, Kemdikbud mengimbau untuk mencari tahu apa yang anak pahami tentang peristiwa yang terjadi. Selanjutnya bersama anak bahas secara singkat yang terjadi, tapi ajak anak untuk menghindari isu spekulasi.

Kemdikbud juga mengimbau orang tua untuk menghindarkan anak dari paparan media massa maupun media sosial yang menampilkan gambar dan adegan mengerikan. Utamanya untuk anak yang usianya di bawah 12 tahun.

Anak juga perlu diajak berdiskusi dan mengapresiasi kerja polisi, TNI, petugas kesehatan dan lainnya dalam melindungi, melayani, dan membantu kita saat tragedi terjadi. Keberanian petugas bisa lebih ditekankan ketimbang sisi kejahatan pelaku teror.

Nah, Bagaimana bila di sekolah? Biasanya murid akan banyak bertanya ke gurunya karena mereka menganggap dari gurunyalah bisa mendapat banyak informasi tentang bom di Surabaya.

Seperti yang dilakukan orang tua, guru juga diimbau untuk membahas singkat fakta yang terjadi dan yang sudah terverifikasi. Sekali lagi, jangan membuka ruang untuk rumor dan spekulasi.

Jika anak merasa marah atas peristiwa ini, sebaiknya diarahkan marah pada pelaku. Bukan pada identitas golongan tertentu yang muncul dari prasangka. Selanjutnya ajak anak berkegiatan seperti biasa.

Anak-anak juga perlu diajak berpikir positif, di mana sebelumnya pernah terjadi tragedi tapi berhasil dilewati dengan tegar, semangat persatuan dan saling menjaga. (adi)

Reporter/Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini