Faisol (kiri) sedang menjangkau komunitas di Makam Kembang Kuning, Surabaya. (Foto: Istimewa)

Lika-liku PL HIV, Antara Sosialisasi HIV dan Covid-19

31 Oct 2020 21:45

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Pandemi covid-19 berdampak pada semua aspek perekonomian. Tak terkecuali pelaksanaan penanggulangan HIV pada populasi pekerja seks di Surabaya.

Sejak Walikota Surabaya menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pertama pada 28 April 2020 praktis semua tempat hiburan malam seperti karaoke, pub, diskotik, panti pijat, dan lain sebagainya tidak beroperasi. Sehingga proses outreach dengan mendatangi hotspot komunitas PSTL praktis berhenti.

Hal ini tak membuat Faisol menghentikan aktivitas sosialnya. Ia bersama teman-teman petugas lapangan dari Yayasan Orbit mendatangi tempat-tempat hiburan malam pada siang hari. Meski sebenarnya dianggap sia-sia, karena pada siang hari tempat-tempat hiburan itu tidak buka, tapi semangatnya tak parah arah.

Namun, meski hanya bertemu satu orang, bagi Faisol itu momen yang sangat berharga. Karena bisa memberikan informasi dua hal yang penting. Pertama informasi terkait HIV, dan kedua informasi terkait perilaku baru masa pandemi yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

"Ibarat sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Jadi, sambil menjangkau ya sekalian sosialisasi protokol kesehatan," katanya saat ditemui di Kantor Yayasan Orbit, Jalan Bratang Binangun, Gubeng, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu, 31 Oktober 2020.

Petugas lapangan juga menyasar tempat-tempat hiburan dengan menerapkan 3M.

Yayasan Orbit merupakan yayasan non profit yang bergerak dalam bidang penanganan HIV kepada komunitas pekerja seks dan pengguna napza suntik. Untuk pekerja seks, yayasan orbit mendapat pendanaan dari Global Fund melalui Yayasan Kerti Praja Bali.

Program penanganan HIV/AIDS pada pekerja seks ini sudah berjalan hampir 3 tahun. Tahun 2020 merupakan tahun terakhir program dengan target yang telah ditentukan awal tahun lalu.

Faisol merupakan salah satu dari 10 petugas lapangan yang setiap hari memberikan informasi dan edukasi, merujuk ke layanan kesehatan, dan memberikan materi pencegahan berupa kondom kepada pekerja seks dan pelanggan.

Setidaknya dalam sehari setiap petugas lapangan harus bertemu dengan 5 orang komunitas. Berbagai upaya dilakukan untuk bisa bertemu, mulai mendatangi langsung tempat kerjanya hingga harus mendatangi tempat kosnya. Ada juga yang hanya sekedar kontak lewat telepon, whatsapp, maupun call melalui media sosial.

"Masa pandemi ini kita harus pandai-pandai memanfaatkan peluang. bagaimana tidak, semua hotspotnya tutup. Otomatis kita kesulitan bila harus bertemu dengan dampingan. Karena itu, kita bisa komunikasi lewat telepon, whatsapp, atau media sosial lainnya. Yang penting dua misi yang kita bawa bisa sampai ke dampingan," katanya.

Saat ditanya, apa tidak takut dengan satpol PP atau aparat kepolisian yang melakukan razia, Faisol mengaku tak sedikit pun gentar dengan petugas.

Pembagian sembako kepada komunitas pekerja seks yang terdampak covid-19.

"Kenapa harus takut? Yang penting surat tugas, pakai masker, membawa hand sanitiser, dan kadang kita bawa face shield. Di lapangan kita juga menjaga jarak dengan dampingan. Kadang ,malah dampingan tidak nyaman kalau harus jaga jarak," katanya.

Kata Faisol, petugas penjangkau atau petugas lapangan ini sudah terbiasa dengan kebiasaan baru di masa pandemi. Karena, mereka membawa misi hidup sehat.

"Kita sudah terbiasa dengan perilaku baru penerapan protokol kesehatan, karena lingkungan kita adalah lingkungan HIV. Jadi, mencuci tangan, memakai masker ini sudah menjadi kebiasaan kita di lapangan. Dan kita juga mensosialisasikan ini kepada dampingan setiap kali bertemu," katanya.

Kata Faisol, justru kadang satpol PP atau kepolisian membantunya dalam sosialisasi HIV di liponsos dan tahanan. "Kita kadang diminta satpol PP untuk memberikan informasi kepada dampingan yang kena garuk satpol PP. Atau kadang dampingan yang kena razia narkoba di kapolisian," katanya.

Kata Faisol, yang paling penting untuk ditanamkan dalam pikiran para petugas lapangan penyuluh HIV/AIDS adalah berpikir positif, kewaspadaan universal, dan mematuhi aturan hukum.

"Di masa pandemi ini siapa pun bisa kena covid-19. Tapi kita yakin dan optimis bila kewaspadaan universal dan protokol kesehatan dipatuhi semua akan terhindar. Masa tiap hari kita promosikan hidup sehat, tapi diri kita tidak bisa menjaga kesehatan. Sama saja bohong," katanya.