Tupai yang dilepas Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, di Taman Surya, Kamis, 26 April 2018.
Tupai yang dilepas Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, di Taman Surya, Kamis, 26 April 2018.

Lepas 300 Tupai, Risma Kesampingkan Daya Dukung Habitat Satwa?

Ngopibareng.id Surabaya 26 April 2018 18:45 WIB

Pelepasan 300 ekor tupai oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dinilai sebagai keputusan yang kurang tepat. Meski pelepasan tersebut bertujuan untuk mempertahanakan ekosistem tumbuhan di Taman Surya Surabaya dan sekitarnya, tapi tupai bukan termasuk hewan pemakan serangga.

Aktivis ProFauna, Rosek Nursahid, mengatakan, tupai termasuk dalam jenis satwa rodentia, atau binatang pengerat. Maka tak tepat bila pelepasan tupai itu digunakan sebagai hewan pemangsa serangga hama tanaman.

"Serangga itu banyak jenisnya, apakah tupai itu makan serangga? tidak juga. Tupai itu lebih banyak memakan buah dan biji-bijian, bukan serangga," katanya.

Rosek mengatakan, akan lebih baik jika melepas burung-burung pemakan serangga, menurutnya itu akan lebih efektif, karena satu ekor burung bisa memakan ribuan serangga.

Sebelum ratusan tupai itu dilepas Pemkot Surabaya harusnya memenuhi prosedur standar pelepasan satwa liar. Pertama, kata Rosek, studi ilmiah tentang daya dukung habitat, yang meliputi ketersediaan pakan, populasi sejenis liar, competitor, dan keamanan dari gangguan manusia.

"Lokasi pelepasan satwa itu apakah mendukung, dalam hal ini apakah taman itu masuk dalam daya dukung habitat, soal ketersedian pakan itu harus diperhitungkan," ujarnya.

Lalu, apakah di lokasi pelepasan itu ada competitor, musuh ilmiahnya atau pemangsanya. Sebelum pelepasan juga tupai-tupai itu seharusnya telah melewati serangkaian proses karantina, cek kesehatan, dan pengamatan prilaku alaminya apakah sudah cocok untuk dilepas.

Tak sampai di situ, seandainya dua hal itu sudah dilakukan oleh Pemkot Surabaya, Rosek mengatakan, ada lagi kajian ilmiah berikutnya, yakni apakah betul ketika tupai itu dilepas di tempat tersebut masalah tak akan muncul?

"Dengan 300 ekor tupai, dan dengan luasan taman sekian, apakah sudah ada kajian soal populasinya kedepan. Karena tupai itu adalah jenis satwa yang mudah berkembang biak," katanya.

Menurutnya, ketika mudah berkembang biak, sementara di taman itu tidak ada pemangsa alaminya, maka suatu saat populasi tupai itu bisa saja meledak, hal itulah yang kemudian menimbulkan hama.

"Pemangsa alami tupai adalah ular dan elang, bila populasi itu tak ada, efeknya bisa negatif, seharusnya kajian ilmiah itu sudah dilakukan," katanya. (frd)

Penulis : Farid Rahman

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

20 Oct 2020 12:58 WIB

Amankan Kerusuhan Demo, Polisi Surabaya Terjunkan Ribuan Personel

Surabaya

Ribuat polisi diterjunkan untuk jaga demo Tolak Omnibus Law lanjutan.

20 Oct 2020 07:31 WIB

Pemkot Surabaya Sampaikan Pesan 3M Lewat Seni Mural

Rek, Ojok Angel Tuturane

Pemkot Surabaya berharap warga terus terapkan protokol kesehatan.

19 Oct 2020 21:30 WIB

Risma Marahi Pelajar SMP yang Ikut Demo Tolak Omnibus Law

Surabaya

Risma memarahi sekitar 50 pelajar SMP yang ikut demo UU Cipta Kerja.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...