ilustrasi

Lenyap Hamba bila Telah Mengenal Allah Ta'ala

Islam Sehari-hari 04 June 2020 05:25 WIB

Dalam kondisi pandemi COVID-19, banyak hal bisa direnungkan. Melalui dalil yang disampaikan para ulama terdahulu. Mulai Imam Al-Ghazali hingga Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.

KH Afifuddin Muhajir, Pengasuh Ma'had Aly Al-Ibrahimi Sukorejo, Asembagus Situbondo, memberikan renungan di tengah pelbagai ikhtiar menanggulangi virus Corona:

*الدليل أوضح من المدلول*

(dalil pasti lebih jelas dari yang ditunjukkan oleh dalil)

Hujjatul Islam Imam al-Ghazali sebagai salah seorang yang "arif billah" mengatakan bahwa yang paling tampak dari semua yang ada (اظهر الموجودات) adalah Allah subhanahu wa ta'ala (Swt).

Bagi kaum arifin seperti Imam Al-Ghazali wujud Allah tidak memerlukan dalil. Mereka tidak menjadikan alam sebagai dalil adanya Allah. Justru sebaliknya, mereka menjadikan Allah sebagai dalil adanya alam. Musykil memang.

Kemusykilan ini terjawab dengan pernyataan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani :

العبد اذا عرف الله عز و جل سقط الخلق من قلبه.

(Hamba Allah bila telah mengenal (Tuhannya), Allah azza wa jalla, maka makhluk ini hilang-lenyap dari hatinya). Maka untuk melihat kembali keberadaan makhluk ia butuh dalil. Dalil itu adalah Allah ta'ala yang telah ia lihat dengan sangat jelas.

(الدليل أوضح من المدلول)

Bagaimana dengan si awam.
Sesuatu yang sulit dilakukan jangan menjadi alasan untuk meninggalkan sesuatu yang mudah dilakukan.

*الميسور لا يسقط بالمعسور*

Di masa Pandemi Covid-19 ini, kita harus menaati protokol kesehatan. Salah satunya adalah social distancing dan physical distancing (jaga jarak).

Hal itu membuat pondok-pondok pesantren yang memiliki santri dengan jumlah besar untuk menerima kembalian seluruh santrinya secara serentak. Yang bisa dilakukan adalah mengembalikan mereka secara bertahap.

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo yang akhir-akhir ini dihuni oleh tidak kurang dari 14.000 santri, pada tahap pertama (mulai 01 Juni sampai 16 Juni) hanya akan menerima kembalian sekitar 2000 orang santri putra-putri, terdiri dari santri yang jadi pengurus, santri yang jadi kepala kamar dan santri Ma'had Ali serta siswa Aliyah.

Santri sebanyak itu cukup sebagai modal untuk menghidupkan kembali aktifitas pesantren yg sempat terhenti.

Semoga pondok pesantren tetap jaya.

COVID-19 & ULIL AMRI

Selain wajib taat kepada Allah dan Rasulullah, umat islam juga wajib taat kepada ulil amri. Namun kewajiban taat kepada ulil amri tidak bersifat mutlak, melainkan dengan qayid (catatan) tidak bertentangan dengan ketentuan Allah dan Rasulullah Saw.

Ulil amri di bidang politik adalah pemerintah (الأمرآء)

Ulil amri di bidang agama adalah para ahli agama (العلمآء)

Ulil amri di bidang kesehatan adalah ahli kesehatan (الأطبآء)

Dalam penanganan Virus Corona harus ada sinergitas antara tiga kelompok tersebut.

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

06 Jul 2020 06:19 WIB

Ledakan di Menteng, Polisi Lakukan Pemeriksaan Mendalam

Nasional

Lebih dari petasan, tak memunculkan api

06 Jul 2020 06:09 WIB

Ledakan di Menteng, Pakar: Tak Terkait Aksi Terorisme

Nasional

Beda yang biasa dilakukan kelompok teroris JAD maupun JI

06 Jul 2020 05:43 WIB

Ilmu Harus Tetap Ditulis, Ini Penjelasan Ulama Pesantren

Khazanah

Khazanah intelektual Islam menunjukkan kemajuan pemikiran

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...