Lego Legoland

09 Mar 2019 06:08 Dahlan Iskan

Kausnya warna merah. Depannya ada gambar dirinya: lagi naik sepeda motor Yamaha. Di depannya tertulis motto: Malu Apa Bossku.

Itulah penampilan kekinian Najib Razak. Mantan perdana menteri Malaysia itu. Yang lagi menghadapi 24 tuduhan hukum itu. Dalam kasus korupsi terbesar di dunia. Yang nilai hukumannya kelak, kalau dijumlah, bisa mencapai 200 tahun.

Dor!

Ternyata tidak terjadi ledakan apa-apa. Rencana sidang pertamanya ditunda. Mestinya minggu pertama Februari lalu. Ditunda sampai entah bila.

Najib memang lagi menjalankan taktik tunda-tunda. Dengan alasan apa saja. Pengacaranya selalu berhasil: awalnya selalu bisa mengeluarkan dari tahanan. Dengan jaminan uang yang tidak seberapa.

Najib sudah empat kali ditangkap. Selalu bisa menunda sidangnya. Pengadilan tinggi juga selalu mengabulkan permintaan pengacara itu.

Kapan itu saya mampir ke pengadilan di Kuala Lumpur. Yang begitu besar. Yang ternyata juga tidak ada sidang.

Najib tidak hanya merdeka dari tahanan. Juga merdeka bicara apa saja. Berbuat semaunya.

Termasuk ikut kampanye caleg partainya: Umno

Berhasil pula.

Minggu lalu memang ada pemilu sela. Untuk satu kursi DPR dari Dapil Semenyih. Calon yang didukung Najib berhasil mengalahkan caleg Aimin Zainal. Dari koalisi penguasa. Caleg yang dibantu Najib itu adalah Zakaria Hanafi. Menang dengan selisih 1.914 suara.

Najib sampai beberapa kali datang ke Dapil Semenyih. Di pinggiran Kuala Lumpur. Sebelah timur bandara Sepang. Dengan selalu mengenakan kaus khas terbarunya itu.

Taktik tunda sidang itu dilengkapi dengan cara pemanfaatannya: untuk merebut lagi hati rakyat. Kelihatannya ia merekrut ahli komunikasi profesional. Agar tersusun tahapan membalik keadaan.

Salah satu langkahnya adalah berdendang nada. Najib menyanyi. Di dapur rekaman. Lagu hit tahun 1970-an: Kiss and Say Goodbye. Masih ingat kan? Yang dinyanyikan The Manhattans itu?

Tentu liriknya diubah. Yang mencerminkan suasana pilu hatinya kini. Dalam bahasa Melayu.

Ini hari tersedih dalam hidup saya.
Sejak Mei 9, 2018, saya diasingkan.
Selama ini, saya sudah berjuang untuk rakyat yang saya sangat sayangi.
Tapi apa yang bisa saya laku.
Saya telah disiksa oleh Pakatan Harapan. Dengan agenda balas dendam dan fitnah.
Tetapi saya menyerahkan diri kepada Tuhan. Agar diberi kekuatan untuk mengatur kembali Barisan.

Dendang itu diiringi satu tim remaja wanita. Sebagai penyanyi di belakang.
Sang back line menyahut bait-bait itu dengan suara mereka:

Harapan setinggi gunung.
Tapi hancur menjadi debu.
Saya percaya padamu.
Dengan semua program dan janjimu.

 

Najib memang terus menyerang pemerintahan Mahathir Muhammad sekarang. Apa saja. Termasuk yang terakhir ini: proyek Legoland.

Di zaman Najib, Johor memang membangun Legoland. Theme park internasional pertama di Asia Tenggara. Ia yang meresmikannya di tahun 2012.

Saya pernah mampir ke sana. Dalam perjalanan dari Johor Baru. Menuju Forrest City. Saya memang harus ke Forrest City. Melihat gegap gempitanya real estate baru itu. Yang dibangun Tiongkok di sana. Dengan saham minoritas dimiliki kesultanan Johor. 

Proyek ini begitu menarik perhatian. Yang menjadi salah satu faktor penyebab kekalahan Najib.

Minggu lalu ada berita mengagetkan: pemerintah Malaysia akan menjual Legoland. Dengan harga 1 miliar Ringgit. Sebagai bagian dari penyehatan BUMN-nya: Khasanah. 

Legoland dianggap bukan bisnis inti Khasanah. Mengapa dimasuki juga.

Najib pun siap memainkan nasionalisme sempit. "Lihatlah Legoland mau dijual. Pembelinya pasti asing," kata Najib kepada pers. 

Ia lantas berujar ketus: tuh... masih banyak yang bisa dijual ke asing.

Apa komentar Mahathir?

Kelihatannya ia tidak terlalu peduli. 

Najib sudah menjual suaranya. Mahathir belum berminat membelinya.(dahlan iskan)

Reporter/Penulis : Arif Afandi


Bagikan artikel ini