Ledakan di Pelabuhan Beirut, Lebanon menyisakan cekungan yang cukup luas. (Foto: AP)

Ledakan di Beirut Lebih Dahsyat dari Ledakan di China Tahun 2015

05 Aug 2020 16:39

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Ledakan dahsyat di Beirut, Lebanon menyisakan lubang yang mirip cekungan di Pelabuhan Beirut. Tingkat kerusakannya lebih parah dibanding peristiwa ledakan 800 ton amonium nitrat yang terjadi di Tianjin, China tahun 2015.

Dari foto yang diambil AP Photo ledakan yang meluluhlantahkan Ibukota Beirut diduga disebabkan 2.750 ton amonium nitrat yang di simpan di gudang dekat pelabuhan Beirut.

Ledakan ini adalah ledakan terbesar dan paling dahsyat yang pernah mereka rasakan. Bahkan, guncangan ledakan itu setara dengan gempa bumi berkekuatan 3,3 magnitudo.

Perdana Menteri Lebanon Hassan Diab mengungkapkan ledakan tersebut disinyalir akibat 2.750 ton amonium nitrat. Diab menambahkan, pupuk pertanian tersebut telah disimpan selama bertahun-tahun di dalam gudang penyimpanan.

Perbandingan ledakan di Tianjin, China dengan di Beirut, Lebanon. (Foto: AP)

Menurut informasi yang berhasil dihimpun, ledakan terjadi sebanyak dua kali. Ledakan pertama menyebabkan kepulan asap membumbung tinggi di langit. Setelah itu, muncul ledakan kedua yang lebih dahsyat yang menghasilkan asap berwarna merah.

Dalam video yang banyak beredar, menunjukkan sebuah bangunan bertingkat tinggi meledak, mengirimkan gelombang kejut yang luas di seluruh kota. Terdengar dan terasa sejauh Siprus, lebih dari 200 km (180 mil) jauhnya.

Sementara ledakan di Tianjin, China versi terakhir menyebut disebabkan amonium nitrat dalam jumlah tak kurang dari 800 ton. Dari analisis pakar geologi China memperlihatkan ledakan pertama di China ini memiliki magnitudo lokal 2,9 skala Richter.

Begitu juga korban jiwa akibat ledakan di Beirut juga lebih besar dibanding di Tianjin. Korban tewas ledakan di Tianjin tercatat mencapai 104 orang dan korban luka-lukanya, baik berat maupun ringan mencapai 720 orang lebih.

Sementara, ledakan di Beirut, dilansir dari berbagai media hingga saat ini tercatat korban tewas mencapai 100 orang. Dan korban luka tercatat lebih dari 4.000 orang.