Puing helikopter pribadi Kobe Bryant berjenis Sikorsky S-76B di perbukitan Calabasas, California, Amerika Serikat. (Foto: AP)

Langit Gelap dan Kabut Tebal Penyebab Kecelakaan Heli Kobe Bryant

Internasional 28 January 2020 16:00 WIB

Legenda bola basket NBA, Kobe Bryant sangat menyukai bepergian dengan helikopter ketimbang mobil pribadi. Pasalnya, dia tidak mau terjebak dalam kemacetan parah yang ada di Los Angeles.

Kemacetan tersebut membuat Kobe Bryant sering terlambat latihan dan kehilangan waktu untuk bermain bersama anak-anaknya.

Ironisnya, helikopter pribadi berjenis Sikorsky S-76 menghantam lereng bukit curam pada Minggu pagi waktu setempat di luar kota Calabasas, California, sekitar 65 kilometer di barat laut pusat kota Los Angeles, yang memicu kebakaran semak.

Puing helikopter itu tersebar di lahan seluas seperdelapan hektar. Beberapa jam kemudian, otoritas Los Angeles County mengatakan bahwa kesembilan orang di dalam helikopter tewas dalam kecelakaan itu.

Langit gelap dan kabut tebal yang dilaporkan di lokasi kecelakaan helikopter yang menewaskan mantan pemain LA LAkers itu bersama putrinya dan tujuh lainnya, tampaknya akan menjadi fokus utama para pakar penerbangan yang menyelidiki tragedi di dekat Los Angeles tersebut.

Di antara faktor-faktor yang diperkirakan menjadi penyebab utama adalah kondisi cuaca, mengingat ramalan cuaca melaporkan awan rendah dan visibilitas terbatas disekitar lokasi pada saat kecelakaan, serta berbagai saksi mata menceritakan kabut tebal di atas kaki bukit tempat helikopter jatuh.

Kabut di daerah itu begitu tebal pada Minggu pagi sehingga Departemen Kepolisian Los Angeles mengandangkan armada helikopternya hingga sore itu.

Meski cuaca tak bersahabat, helikopter yang dikemudikan Ara Zobayan sudah mendapat izin untuk terbang dari Orange Country dan berputar di Burbank. Helikopter menerima apa yang disebut sebagai 'Special Visual Flight Rules Clearance'.

Sebelum helikopter jatuh dan meledak, Ara Zobayan menghubungi pengontrol lalu lintas udara (ATC) terkait cuaca yang dihadapinya. Pukul 09.30, pilot asal Armenia tersebut meminta izin menambah ketinggian helikopter untuk melewati lapisan kabut yang bisa membahayakan penerbangan.

Namun, ATC memberi peringatan kalau helikopter masih terbang terlalu rendah. Dengan ketinggian itu, radar ATC tidak dapat menangkap posisi helikopter di area berbukit di wilayah Calabasas.

Pada pukul 09.40 pagi, helikopter dilaporkan berusaha naik ke ketinggian 600 meter di atas permukaan laut. Helikopter kemudian kembali menukik pada ketinggian 426 meter dan terjatuh ke sisi perbukitan.

Penulis : Yasmin Fitrida

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

30 Mar 2020 04:23 WIB

Tolak Monopoli Informasi Status Covid-19, AJI Sebarkan Petisi

Nasional

AJI galang dukungan transparansi informasi status covid-19.

30 Mar 2020 03:59 WIB

Banyuwangi Laporkan Kasus Pertama Infeksi Covid-19

Jawa Timur

Banyuwangi Umumkan Satu Pasien Positif Covid-19.

30 Mar 2020 02:15 WIB

Survei Sebut Prabowo Kinerjanya Paling Baik

Nasional

Lembaga survei Charta Politika  mempublikasikan hasil survei kinerja

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.