Lambang Kemakmuran, Bandeng Jadi Primadona Perayaan Imlek

02 Feb 2019 14:20 Nasional

Ikan bandeng menjadi primadona perayaan tahun baru Imlek 2570 yang jatuh pada hari Selasa 5 Pebruari 2019. Ini bisa dilihat di pasar kagetan Rawa Belong Jakarta Barat yang khusus menyediakan ikan bandeng Imlek. Pembelinya tidak terbatas komunitas Tionghoa, tapi masyarakat Betawi juga ikut membeli.

Ikan bandeng yang didatangkan dari Brebes Jawa Tengah dan Karawang berukuran jumbo dengan berat 1-10 kg dibanderol bervariasi tergantung besar kecilnya bandeng. Untuk ukuran super jumbo harganya Rp75 ribu perkilo
sedang yang biasa Rp65 ribu perkilo.

Salah seorang pedagang bandeng Agus Gendrong mengatakan pasar bandeng kagetan di Rawa Belong menjadi tradisi di setiap menjelang tahun baru Imlek, dan sudah berlangsung cukup lama.

Apalagi menyantap ikan bandeng di tahun baru Imlek juga diikuti oleh masyrakat Betawi, tidak sebatas komunitas China. "Kalau kita perhatikan pembelinya kebanyakan orang Betawi daripada Chinanya," kata Agus

Bandeng ini dipelihara khusus untuk persiapan Imlek. Karena itu ukurannya besar-besar.

Salah seorang pembeli Anggriani, mengatakan dirinya ikut membeli ikan bandeng di Rawa Belong karena gemes melihat bandeng berukuran jumbo. "Kebetulan anak saya ini juga senang makan ikan," kata Anggie sambil menggendong putri semata wayangnya, Kenes Kawuriyan yang Juni 2019 nanti genap brusia 3 tahun.

“Saya membiasakan anak saya makan ikan untuk memperbaiki gizi dan pertumbuhan tubuhnya. Kebetulan ada pasar bandeng Imlek, ikutan beli," kata Anggie.

Ketua yayasan Madjid Cheng Ho Surabaya, Bambang Suyanto, bercerita tentang ikan bandeng dan Hari Raya Imlek yang hingga saat ini masih diikuti meskipun dirinya menjadi Pembina Iman Tauhid Islam (PITI) Jawa Timur.

Menurut Bambang, tahun baru Imlek bukan hanya sekadar ritual tahunan dan budaya biasa, tetapi juga sekaligus menyatu dengan kepercayaan. Sama seperti makanan untuk upacara adat atau keagamaan lainnya, makanan khas Tahun Baru Imlek juga sarat dengan berbagai macam makna simbolik.

Berdasarkan kepercayaan orang-orang Tionghoa, pada Hari Raya Imlek umumnya selalu menyediakan 12 macam masakan dan 12 macam kue yang mewakili lambang atau shio yang berjumlah 12.

Hidangan yang dipilih biasanya hidangan yang mempunyai arti yang berkaitan dengan kemakmuran, panjang umur, kebahagiaan maupun keselamatan.

Salah satu hidangan utama adalah ikan bandeng yang diartikan sebagai perlambang rezeki, karena dalam logat Mandarin kata ”ikan” sama bunyinya dengan kata ”yu” yang berarti rezeki oleh sebab itulah dibanyak restoran Tionghoa selalu ada aquarium ikan mas yang melambangkan rejeki yang dilumuri dengan emas yang berlimpah.

Tak heran jika setiap jamuan makan besar ala tradisi Cina, hidangan ikan selalu ditampilkan di akhir jamuan, sebagai lambang, rejeki berlimpah di masa mendatang. Biasanya ikan disajikan utuh dari kepala hingga ekornya. Kepalanya seringkali diarahkan kepada tamu kehormatan yang hadir. Jika hadir dalam sebuah jamuan makan besar dan menemui hal ini, jangan tersinggung. Sebab itulah penghormatan yang diberikan untuk untuk tamu kehormatan.

Tidak perlu heran apabila bandeng juga hadir sebagai masakan wajib pada tradisi Imlek kaum peranakan di Indonesia. Sebagai bagian sejarah kuliner Indonesia, bandeng dalam perayaan imlek biasanya diolah menjadi pindang bandeng dan memang punya sejumlah dongeng dan cerita.

Kandungan gizi Ikan Bandeng tidak diragukan lagi karena memiliki kandungan gizi yang jauh lebih baik dibandingkan ikan Salmon yang terkenal. Kandungan Omega-3 ikan Bandeng ternyata enam kali lebih tinggi dibandingkan ikan Salmon. Dan, kandungan lemak sehat dalam perut ikan bandeng juga cukup tinggi sehingga bisa menjadi pilihan terbaik ikan konsumsi.

Ikan bandeng menjadi primadona dalam sajian Imlek dan memiliki filosofi bagian dari unsur-unsur alam yang harus ada sebagai simbol hidup hemat dan awet muda, secara makna yang lebih mendalam adalah simbol penghormatan. "Seorang anggota keluarga yang tidak membawa ikan bandeng kepada orang yang lebih tua seperti kepada orang tua dan mertua dianggap tidak punya liangsim atau kesopanan," kata Bambang.
(asm)

Penulis : Asmanu Sudharso
Editor : Rohman Taufik


Bagikan artikel ini