Fenomena Topi Caping Muncul Lagi di Puncak Semeru, Ini Kata TNBTS

07 Nov 2019 11:52 Jawa Timur

Fenomena gumpalan awan menutupi puncak Gunung Semeru, Jawa Timur, kembali terjadi. Awan yang menyerupai topi caping itu tampak pada Kamis 7 November 2019, pagi di puncak gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia.

Atas fenomena tersebut salah satu akun Facebook, Mia Ojob Helos, memberikan komentar di grup Komunitas Peduli Malang Raya.

"Kuasa Allah Semeru bertopi lagi. Semoga, tidak terjadi apa-apa," tulisnya, Kamis 7 November 2019.

Humas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Syarif Hidayat saat dikonfirmasi mengatakan, fenomena awan membentuk topi caping tersebut merupakan kejadian alam yang biasa.

"Itu fenomena alam biasa mas. Fenomena awan itu disebut lenticular yang terbentuk dari hasil pergerakan angin yang menabrak dinding penghalang besar seperti pegunungan atau perbukitan, sehingga menimbulkan pusaran di puncak seperti topi caping," ujarnya.

Syarif mengatakan fenomena awan lenticular tersebut pernah terjadi pada Desember 2018 lalu.

Seperti diberitakan ngopibareng.id sebelumnya, pada Senin 10 Desember 2018 lalu fenomena awan lenticular menyelimuti puncak Gunung Semeru.

Keindahan topi Semeru ini pertama kali viral setelah diunggah mendiang Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho di akun Twitternya.

Menurut Sutopo, awan yang memayungi Semeru adalah fenomena adanya awan altocumulus lenticularis. Menurut Science Alert, awan ini memiliki bentuk mirip dengan lensa dan merupakan awan stasioner yang terbentuk di ketinggian, biasanya dekat gunung yang tinggi.

Awan tersebut terbentuk ketika udara lembab yang stabil melewati puncak gunung. Terkadang terbentuk gelombang. Dari tengah-tengah gelombang awan inilah terbentuk awan altocumulus lenticularis.

Awan jenis ini bisa muncul dalam bentuk berbeda, tergantung kondisi atmosfer. Di beberapa puncak gunung, awan altocumulus lenticularis bisa terbentuk saling menumpuk satu sama lain, menciptakan formasi awan vertikal.

Sutopo menjelaskan, fenomena alam ini tidak ada kaitan dengan mistis, politik, pemilu mendatang, atau tanda bencana.

Penulis : Lalu Theo Ariawan Hidayat Kabul
Editor : Witanto


Bagikan artikel ini