Desain Aston untuk kurangi emisi gas kendaraan. (Foto: Dok. ITS)
Desain Aston untuk kurangi emisi gas kendaraan. (Foto: Dok. ITS)

Tim Antasena ITS Buat Perangkat Pereduksi CO2

Ngopibareng.id Teknologi dan Inovasi 17 December 2020 12:56 WIB

Meningkatnya konsentrasi karbondioksida (CO2) di atmosfer menyebabkan pemanasan global yang berdampak pada keseimbangan iklim bumi. Menghadapi permasalahan ini Tim Antasena dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan solusi dengan merancang alat-alat untuk mereduksi emisi CO2 yang diberi nama Adsorption, Separation of CO2, O2 and N2 (ASCON), dan Utilization CO2 to Methane (UCM).

Dosen pembimbing Tim Antasena, Dr Agung Purniawan ST M Eng menjelaskan, seiring dengan bertambahnya usia bumi, kadar gas CO2 juga turut meningkat. CO2 banyak ditemui dari gas buang kendaraan bermotor hingga gas emisi rumah tangga.

"ASCON memiliki sistem separator untuk mengkonversi CO2 menjadi gas yang memiliki nilai jual seperti oksigen (O2), nitrogen (N2) dan juga metana (CH4)," ujarnya.

Menurutnya, alat yang sukses membawa pulang medali emas dalam World Invention and Technology Expo (WINTEX) 2020 ini bekerja dengan menyerap emisi rumah tangga melalui exhaust fan. Emisi yang diserap tersebut kemudian disimpan pada tangki penyimpanan.

Desain UCM untuk kurangi emisi gas rumah tangga Foto Dok ITSDesain UCM untuk kurangi emisi gas rumah tangga. (Foto: Dok. ITS)

Selanjutnya, imbuh Agung, emisi gas dalam tangki penyimpanan dihisap oleh kompresor menuju mesin separator ASCON yang dapat memisahkan gas-gas menjadi N2, H2O dan CO2. “Gas CO2 yang sudah dipisahkan akan diproses oleh reaktor menghasilkan CH4,” kata dosen kelahiran 1976 tersebut.

Untuk mengurangi polusi CO2 yang dihasilkan oleh gas buang kendaraan bermotor, Tim Antasena merancang alat bernama UCM yang manfaatkan reaksi kimia untuk mengubah CO2 menjadi gas metana yang memiliki nilai ekonomis, UCM dapat meningkatkan efisiensi pembakaran kendaraan.

"Cara kerja alat ini ialah menyalurkan gas hasil pembakaran mesin kendaraan bermotor ke konverter katalitik. Konverter katalitik mengubah polutan pada gas buangan menjadi polutan yang tidak terlalu beracun melalui reaksi oksidasi dan reduksi," jelas Agung.

Setelahnya, gas yang telah diubah akan direaksikan untuk memperoleh metana. Sebagian gas yang telah diubah tadi diinjeksikan kembali ke mesin pembakaran sedangkan gas yang tidak berguna dikeluarkan melalui knalpot.

Agung juga menambahkan, dalam pembuatan inovasi ini Tim Antasena melakukan inisiasi dengan studi literatur dari riset-riset terdahulu yang kemudian dilanjutkan dengan perancangan bentuk tiga dimensi.

Gilang Maulana Alif Ahmad Fahmi Prakoso Ario Bhismo Nugroho Rikza Oktavian Pratama dan Risa Wahyu Widyastuti dari kiri ke kanan selaku perwakilan Tim Antasena ITS Foto Dok ITSGilang Maulana Alif, Ahmad Fahmi Prakoso, Ario Bhismo Nugroho, Rikza Oktavian Pratama, dan Risa Wahyu Widyastuti (dari kiri ke kanan) selaku perwakilan Tim Antasena ITS. (Foto: Dok. ITS)

Penulis : Pita Sari

Editor : Yasmin Fitrida

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

25 Feb 2021 16:50 WIB

Keluarganya Kena Covid, Anang Hermansyah Buka Rahasia Tetap Sehat

Selebriti

Ia mengaku rutin melakukan olah raga dan menjaga mood.

25 Feb 2021 16:36 WIB

Investasi Geser ke Luar Jawa, Presiden Indonesia Mulai Bangkit

Ekonomi dan Bisnis

Investasi luar Jawa sudah 50,5 persen dari total investasi Indonesia.

25 Feb 2021 16:30 WIB

Aji Santoso Bertahan di Persebaya Karena Cinta

Liga Indonesia

Aji resmi membesut Persebaya di musim 2021

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...