Kuliah Guru Ngaji, Coba Meniru Pak JK dan CT, Eh Sukses Lho

14 Mar 2019 18:30 Human Interest

Tidak muluk keinginannya. Hanya ingin mencontoh sukses Jusuf Kalla, atau Chairul Tanjung. Dua orang yang begitu terang-benderang dalam membangun kerajaan bisnis. Itu yang diinginkan Muhamad Nurul Hidayat, 38 tahun, asal Sampang. Berhasilkah impiannya? Tahapannya sih sudah, meski masih dalam lingkup Pulau Madura.

Hidayat, demikian namanya. Masih muda tapi namanya melambung di seantero Madura. Dia dikenal sebagai pebisnis kaca seni di Sampang, Madura. Bukan jenis bisnis baru sebenarnya, namun di Madura dia yang mengawali.

Semula, Hidayat hanya ingin menjadi guru. Guru ngaji. Seperti amanat orang tuanya. Maka, setamat SMA dia pun melanjutkan sekolah guru di Universitas Sunan Giri (Unsuri).

Sembari sekolah dia bekerja. Bekerja apa saja karena pada dasarnya dia tak suka menganggur. Pernah menjadi buruh di pabrik lem dan di pabrik sol sepatu. Tapi bosan. Lalu beralih menjadi buruh bangunan. Bosan juga, kemudian menjadi kenek. Lalu ikut orang Cina dengan mengolah kaca menjadi bermacam jenis kaca.

Kali ini Hidayat cocok, karena dengan mengolah kaca lama-kelamaan ia memiliki skill yang bisa dijadikan bekal untuk mandiri. Maka dia mulai belajar sungguh-sungguh dengan media kaca. Juragan Cina yang diikuti pun berpindah-pindah. Dari juragan satu ke juragan yang lain. Kebiasaan di pengusaha Cina, kalau sudah dapat satu macam pekerjaan maka tidak diberi pekerjaan lain. Khawatir kalau menguasai semuanya maka akan jadi pesaing suatu saat.

Kaca warnawarna yang nyeni jadi tren yang sangat disukai Memang sedikit mahal tapi kalau tampilan rumah menjadi lebih bagus sedikit mahal itu menjadi tak ada artinya FotoWidikamidingopibarengid
Kaca warna-warna yang nyeni, jadi tren yang sangat disukai. Memang sedikit mahal, tapi kalau tampilan rumah menjadi lebih bagus, sedikit mahal itu menjadi tak ada artinya. (Foto:Widikamidi/ngopibareng.id)

Dari berpindah-pindah itulah ilmu soal kaca dan mengolah kaca makin berbobot. Di tahun 2001 Hidayat keluar dari juragannya dan mendirikan usaha sendiri. Sama dengan para bekas juragannya, dia juga bermain kaca, ukir kaca dan seni kaca. Tahun 2001 Hidayat sudah mampu mandiri di kawasan Rungkut Surabaya dengan bendera Hidayat Seni Kaca.

Sepertinya bisnis kaca seni memang menyita waktunya, sehingga semula dirinya yang ingin menjadi guru ngaji terpaksa ditinggalkan. Memang sempat mengajar, namun  hanya sekitar tiga bulan.

“Handphone sering berbunyi, sehingga tidak enak sama anak-anak yang diajar. Tidak diterima itu uang, diterima juga sedang konsentrasi mengajar. Ketimbang merugikan sama yang diajar lebih baik saya keluar dan murni berbisnis saja,” kata Hidayat.

Rentang waktu tujuh tahun, 2001-2008, usahanya di kawasan Rungkut cukup maju pesat. Bahkan ia sudah mulai menjadi bos, dengan memiliki 24 karyawan. Namun gusuran besar-besaran membuat usahanya harus tutup. Maklum, tempat usahanya tidak permanen dengan menggunakan badan jalan.

“Langsung bangkrut saya. Karyawan juga bubar. Tagihan-tagihan juga tidak terurus. Dan yang penting tidak ada lahan buat berkarya,” akunya.  

Bekerja dengan hati Memotong menghaluskan menjadikannya karya seni bukan perkara bisa tidak bisa Tapi lebih karena intuisi dan keleluasaan dalam bekerja FotoWidikamidingopibarengid
Bekerja dengan hati. Memotong, menghaluskan, menjadikannya karya seni, bukan perkara bisa tidak bisa. Tapi lebih karena intuisi dan keleluasaan dalam bekerja. (Foto:Widikamidi/ngopibareng.id)

Dengan posisi bangkrut dia pulang ke Sampang, lalu merintis usaha yang sama. Hidayat kemudian mengulang dari nol. Berbekal stan di pinggir jalan, di Desa Tadan Kecamatan Camplong, persis di jalur utama Sampang ke Sumenep, papan nama usaha didirikan. Papan itu bertuliskan “Kaca Seni Hidayat”. Semua dikerjakan sendiri, hingga di tahun 2010 usaha itu mulai menemukan bentuknya. Pemesan dan pelanggan mulai datang, dan di tahun 2014 tahu-tahu karyawannya sudah membengkak menjadi 53 orang.

Hidayat memang maju dengan cepat. Tapi menurut dia justru usahanya itu berjalan cukup merambat. Padahal keinginan meniru Jusuf Kalla dan Chairul Tanjung yang memiliki kerajaan bisnis top di Indonesia tak pernah surut dari imajinasinya. Tapi minimal, dirinya sekarang sudah mirip menjadi bos lagi. Punya karyawan lebih dari 50 orang.

Usahanya tidak hanya berhenti di kaca seni saja tapi sudah mulai merambah dengan supplier kaca. Omsetnya pun sudah melambung di atas 100 juta rupiah sebulan dengan hanya menggarap pasar Madura.

Tanpa disadari pengusaha muda yang otodidak ini, sebenarnya Hidayat sedang melakoni menjadi seorang interpreneur. Betapa tidak, Hidayat tidak pelit dengan ilmunya. Kalau ikut juragan Cina dia harus berpindah-pindah tempat kerja agar mendapat ilmu yang lain. Para pekerja yang ikut dirinya justru tidak, siapa saja yang ingin belajar lebih diberi semuanya. Secara cuma-cuma. Hidayat juga mengijinkan dan mendorong para pekerjanya untuk bisa mandiri. Membuka usaha sendiri. Malahan kalau perlu ia bantu dengan ilmu dan permodalan.

Terhitung dari 2010 hingga sekarang, sedikitnya 16 orang pekerja keluar dari bengkelnya dan mendirikan usaha sendiri. Hidayat justru senang, dan merasa mereka bukan ancaman untuk kelangsungan bisnisnya. Mereka lebih dilihat sebagai partner sinergi dan bukan kompetitor. Alhasil, Desa Tadan pun kini juga hampir menjelma menjadi sentra orang-orang perajin kaca seni.      

Bekas karyawan yang mendirikan usaha sendiri-sendiri itu sekarang juga maju pesat. Masing-masing juga punya karyawan minimal 10 orang. Coba bayangkan berapa penggangguran yang berhasil dientas di desa ini. “Jadi saya cukup bangga dengan mereka, sebab ilmu yang dari saya bisa untuk mengangkat kawan-kawan Madura yang lain agar bisa maju dan mengubah jalam hidupnya,” ujarnya. (widikamidi)

Reporter/Penulis : Widi Kamidi


Bagikan artikel ini