Jubir KPK, Febri Diansyah

KPK Akui Temukan Aset Tersangka Korupsi BLBI

Korupsi 12 June 2019 20:00 WIB

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebutkan telah menemukan aset-aset yang diduga milik tersangka perkara korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), Sjamsul Nursalim dan istrinya Itjih Nursalim.

"Kami sudah menemukan aset-aset yang diduga milik atau terafiliasi dengan tersangka," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di gedung KPK, Jakarta, Rabu, 12 Juni 2019.

Namun, Febri belum menjelaskan secara spesifik di mana saja aset-aset tersebut berada. "Secara lebih rinci tentu kami belum bisa menyampaikan karena proses penyidikan tersebut masih berjalan," ujar Febri.

KPK pada Senin (10/6) lalu mengumumkan pemilik Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) sebagai tersangka dalam pengembangan perkara korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Sjamsul dan Itjih disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sebelumnya, KPK telah memproses satu orang, yaitu Syafruddin Arsyad Temenggung hingga putusan di tingkat banding di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta yang menyatakan terdakwa bersalah melakukan korupsi dan monjaluhkan pidana penjara selama 15 tahun dan denda Rp1 miliar.

Pada putusan tingkat banding itu, Majelis Hakim meningkatkan lama hukuman terhadap terdakwa dengan penimbangan yang pada pokoknya.

Pertama, tindakan terdakwa selaku Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) saat itu telah melukai secara psikologis masyarakat dan bangsa Indonesia yang baru saja mengalami trauma akibat krisis moneter yang menimpa bangsa Indonesia pada 1998.

Kedua, kerugian keuangan negara yang diakibatkan sangat besar di tengah situasi ekonomi yang sulit.

Dalam penimbangan putusannya, sejak tingkat pertama hakim menyatakan kerugian keuangan negara Rp4,58 triliun sesuai dengan laporan hasil pemeriksaan investigatif Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam rangka perhitungan kerugian negara.

Yang merupakan selisih antara kawajiban yang belum diselesaikan Rp4,8 triliun dengan hasil penjualan piutang oleh PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) tahun 2007 Rp220 miliar.

Sedangkan terkait dengan pihak yang diperkaya, pada pertimbangan putusan Pengadilan Tipikor No. 39/Pid.5us/Tpk/2018/PN.Jkt.Pst disebutkan secara tegas bahwa tindakan terdakwa Syafruddin Arsyad Temenggung telah memperkaya Sjamsul Nursalim sebesar Rp4,58 triliun. (ant)

Penulis : Witanto

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

03 Apr 2020 09:04 WIB

Rawan Penyimpangan, KPK Kawal Anggaran Rp405 T Darurat Corona

Nasional

Peluang penyimpangan pada pengadaan barang

02 Apr 2020 10:29 WIB

Plt. Bupati Sidoarjo Hari Ini Dipanggil KPK Sebagai Saksi

Korupsi

Plt Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifuddin hari ini diperiksa sebagai saksi.

02 Apr 2020 09:52 WIB

KPK Ancam Hukuman Mati Bagi Koruptor Dana Corona

Nasional

Korupsi dana penanggulangan COVID-19 diancam hukuman mati.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.