Jalan protokol utama Kota Blitar, Jalan Merdeka. Sepi mamring dari kendaraan. foto:widikamidi

Kota Blitar Lagi Remuk, Suramnya Bukan Main

09 Jun 2018 15:15

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Heboh Wali Kota Blitar, Muh Samanhudi Anwar, yang terjaring OTT KPK, buron sebentar, kemudian menyerahkan diri ke Gedung KPK Jakarta cukup membawa dampak bagi denyut Kota Blitar. Jalanan pada sepi, banyak orang cenderung irit bicara, berkurang keramahannya, suka menggelengkan kepala, dan ngeloyor pergi saat hendak ditanya soal Wali Kotanya.  

BS, salah seorang tokoh pemuda Blitar kepada ngopibareng.id mengatakan, orang Blitar seperti sedang melakukan "gerakan" diam. Tidak mau ikut-ikut, dan selebihnya merasa malu dengan kejadian yang menghentak ini. Bagaimana pun, kata BS, Kota Blitar ini adalah kota penting. Identik dengan sang Proklamator. "Coba bayangkan, Kota Proklamator ada kejadian OTT KPK begini, memalukan sekali kan," kata dia.

BS tidak menampik, bahwa Samanhudi Anwar sangat berpengaruh di kalangan muda. Sebab itu, mereka pasti akan memilih diam ketimbang bicara yang dia tidak ngerti dan kepada orang yang tidak dikenal. Mereka dia karena malah dirasa memperparah keadaan.

Mestinya, lanjut dia, menjelang lebaran yang kurang beberapa hari ini Blitar sudah suibuk. Seperti kota besar. Malah beberapa ruas macet. Toko-toko mestinya juga full pembeli yang butuh perangkat dan persiapan lebaran. Tapi kini tidak sama sekali. Senyap semua. Entah warga kota pada kemana. "Mungkin mereka lebih suka di depan televisi, untuk melihat update Wali Kota yang sudah di gedung KPK Jakarta," singgung BS.

Ini adalah sisi penting jalur samping Gedung Walikota Blitar, berhadapan dengan Jalan Merdeka,berjam-jam yang lewat hanya beberapa orang saja. foto:widikamidi

Kasat mata terlihat jelas, Kota Blitar memang terlihat Suram. Seperti enggan berdenyut. Padahal puasa tingga beberapa hari lagi. Lalu lebaran. Tak pelak toko-toko pun mengeluh. Toko Roti Orion disamping Kantor Wali Kota tak ada yang beli. Toko baju "Takim" diseberangnya juga tak kalah sepinya. Toko lain bernasib sama.

Jalan Merdeka, protokol utama Kota Blitar tak ada yang heboh dari arus lalulintas yang ada. Apanya yang dibikin heboh, kendaraan yang lalu lalang memang tak seberapa. Begitu juga yang parkir jalanan. Para tukang parkir lebih memilih ngiyup ketimbang kepanasan. "Ini sudah 4 hari ini mas, bukan karena sedang hari Sabtu lho. Dan sudah cuti. Hari gini biasanya cari parkir bisa sukit. Kalau sekarang, bus parkir jejer lima gak bakal bikin macet jalan," kata Rameli, tukang parkir, dengan wajah juga suram. (*)

Tutup wae, 4 hari ra ono sing tuku. Foto:widikamidi