Korban Gempa Halmahera Kekurangan Terpal dan Selimut

18 Jul 2019 09:22 Bencana

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo pagi ini, 18 Juli 2019 mengunjungi lokasi terdampak gempa 7,2 skala richter di Halmahera Selatan, Maluku Utara.

“Kaji cepat masih berlangsung, khususnya ke wilayah desa yang belum terjangkau. Demikian juga distribusi logistik bantuan kepada warga terdampak. BNPB memobilisasi bantuan logistik dan peralatan dari Ternate menuju Sofifi dan berlanjut ke Saketa. Upaya penanganan selama masa tanggap darurat di bawah kendali pos komando,” kata pelaksana harian Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo dalam keterangan tertulis yang diterima ngopibareng.id.

Tim Reaksi Cepat BNPB melaporkan kendala di lapangan berupa ketersediaan BBM, akses dan jaringan komunikasi di beberapa desa, tenaga medis dan trauma healing, dan alat angkut distribusi bantuan.

Di sisi lain, kata Agus, kebutuhan mendesak selama keadaan darurat antara lain terpal, selimut, tikar, air minum, makanan siap saji, dan kidsware.

BNPB mengerahkan helikopter Mi-8 untuk distribusi logistik. Bantuan yang dimobilisasi untuk penanganan berupa:

1. Perlengkapan sekolah 130 Paket

2. Matras 30 Lembar

3. Tikar 20 Lembar

4. Sandang 75 Paket

5. Paket perlengkapan keluarga 25 Paket

6. Selimut 40 Lembar

7. Tenda Gulung 20 Paket

8. Lauk Pauk 204 Paket

9. Makanan siap saji 114 Paket

10. Makanan tambahan gizi 120 Paket

11. Paket perlengkapan bayi 30 Paket

12. Paket kebersihan keluarga 20 Paket

13. Paket rekreasional 30 Paket

14. Sarung Dewasa 29 Lembar

15. Karung 250 Lembar

Sementara itu, sebanyak 1.061 rumah mengalami rusak berat (RB) pascagempa 7,2 SR pada Minggu 14 Juli 2019 yang mengguncang Halmahera Selatan.

Selain itu, sedikitnya 78 fasilitas umum (fasum) di kabupaten ini juga terdampak dengan kategori rusak berat.

Data BPBD Provinsi Maluku Utara hingga 17 Juli 2019 mencatat rumah rusak berat 1.061 unit, rusak sedang 1.412 unit, sedangkan fasum rusak RB 78 dan rusak ringan 39 unit. Kerusakan terbesar berada di Kecamatan Gane Barat Selatan dengan 542 unit RB, Kepulauan Joronga 287, Gane Barat 203, Gane Timur Selatan 116, Bacan Timur Tengah 72, Bacan Timur Selatan 8, dan Bacan Timur 2.

BPBD mencatat 73 desa di 11 kecamatan terdampak akibat gempa yang terjadi pada pukul 16.10 WIB tersebut. Tidak hanya kerusakan, tetapi juga korban meninggal dunia, luka-luka maupun pengungsian. Ke-11 kecamatan tadi adalah Bacan, Bacan Timur, Bacan Timur Tengah, Bacan Timur Selatan, Gane Barat Selatan, Gane Barat, Bacan Barat, Gane Barat Utara, Kepulauan Joronga dan Gane Timur Tengah.

“Hanya Kecamatan Bacan Barat yang teridentifikasi terdampak minor yaitu 3 unit fasum rusak berat,” kata dia.

Data BPBD Provinsi Maluku Utara per 17 Juli 2019 mencatat 13.250 KK atau 53.076 jiwa mengungsi. Pengungsian tersebar di 10 kecamatan. Sementara itu, korban luka berat 32 orang dan luka ringan 97. Terkait dengan korban meninggal dunia (MD), sebelumnya diberitakan berjumlah 6 orang, BNPB telah melakukan konfirmasi dengan posko terhadap kepastian jumlah korban tersebut.

Hasil konfirmasi menjelaskan bahwa menyebutkan ada satu korban dengan dua nama yg berbeda.  Setelah selesai pendataan ulang korban meninggal, rilis posko mencatat 5 korban meninggal yakni:

1. Saimah mustafa, 90 tahun, warga Desa Nyofifi, Bacan timur.

2. Asfar Mukmat, 25 tahun warga Desa Gane Dalam, Gane Barat Selatan.

3. Aina amin, 58 tahun, warga Desa Gane Luar, Gane Timur Selatan.

4. Biji Siang Kale, 63 tahun, warga Desa Gane Luar, Gane Timur Selatan.

5. Sagaf Girato, 50 tahun, warga Desa Yomen, Jorongga.

Penulis : Rohman Taufik


Bagikan artikel ini