Korban Cermin Islam Agama Sosial

11 Aug 2019 10:57 Arif Afandi

Sudah begitu lama saya tak bisa Salat Idul Adha di masjid kampung sendiri. Di Surabaya ini. Di kampung Kutisari. Kampung tempat tinggal Cak Choirul Anam. Politisi NU yang tetap eksis hingga kini.

Biasanya, hari raya korban selalu di luar rumah. Sejak menjadi Wakil Walikota Surabaya dulu. Saat itu, salat Id selalu di Balaikota. Setelah itu, sering diminta menjadi khatib di berbagai tempat di Surabaya.

Sebetulnya, saya tak begitu alim soal agama. Hanya berbekal sekolah di madrasah. Mulai Ibtidaiyah (SD) sampai Aliyah (SMA). Juga ngaji kitab-kitab dasar yang diajar langsung bapak saya. Saat masih madrasah dulu.

Tapi karena kelemahan saya susah menolak permintaan orang, maka permintaan menjadi khatib sulit dihindarkan. Bahkan setelah tidak menjadi pejabat publik. Sampai saat menjadi orang biasa.

Saya pun tak pernah menyampaikan soal halal dan haram dalam khotbah. Juga tidak soal pahala dan dosa. Apalagi soal surga dan neraka. Saya cenderung mengangkat dimensi sosial ekonomi dalam agama. 

Selain tak mendalami soal-soal itu, pilihan tema khotbah seperti tersebut juga karena protes secara tidak langsung terhadap isi khotbah yang selalu saya dengar di waktu kecil. Salah satu kakek saya, setiap Jumat selalu khotbah tentang hari kiamat.

Seakan tak ada tema lain. Ketika salah satu mantunya yang petugas kesehatan membawa pulang kalender gambar perempuan seksi ke rumah, langsung menjadi bahan khotbah. Beliau bilang, kini kiamat telah dekat. Sebab makin banyak perempuan mengumbar aurat.  Seperti terpampang dalam gambar kalender.

Agama memang tidak hanya mengatur persoalan privat. Soal hubungan manusia dengan Tuhannya. Tapi juga sangat banyak mengatur bagaimana manusia berhubungan dengan sesama. Bahkan banyak sekali ritual keagamaan yang lebih bermakna sosial.

Seperti hari ini. Hari Idul Adha atau yang lebih dikenal sebagai Idul Korban. Setiap setahun sekali, Islam setengah mewajibkan penganutnya yang mampu untuk berkorban. Menyembelih kambing, sapi atau onta. Lalu dibagikan ke fakir miskin dan tetangga.

Agama memang tidak hanya mengatur persoalan privat. Soal hubungan manusia dengan Tuhannya. Tapi juga sangat banyak mengatur bagaimana manusia berhubungan dengan sesama. Bahkan banyak sekali ritual keagamaan yang lebih bermakna sosial.

Dalam perspektif sosiologis, ini bukan sekadar ritual personal. Ini mengandung makna sosial. Tentang pentingnya redistribusi kekayaan. Menbangun empati kepada sesama yang kekurangan. 

Korban hanyalah pelengkap konsep redistribusi dalam agama. Di luar kewajiban zakat. Mulai zakat mal alias harta kekayaan sampai dengan zakat fitrah. Yang disebut terakhir malah menjadi kewajiban personal Muslim setiap Idul Fitri usai puasa Ramadhan.

Melalui instrumen zakat dan korban, prinsip-prinsip redistribusi kekayaan dijalankan. Karena strata sosial ekonomi merupakan sesuatu yang faktual. Menjadi sesuatu yang given. Sunnatullah. Kumpulan manusia di mula bumi tak diciptakan sama rata sama rasa.

Karena itu, banyak sekali teks yang mengharuskan manusia bekerja keras. Berikhtiar sekuat tenaga untuk mencari penghidupan di dunia. Bahkan diminta bergegas untuk itu di antara melakukan kewajiban ritual personal 5 kali setiap hari. Khotbah Jum'at pun dianjurkan tal berlama-lama. Agar umat segera bertebaran mencari penghidupan.

Tak ada larangan Muslim untuk kaya. Dari 10 sahabat Nabi yang dijamin masuk surga, 9 darinya orang kaya. Hanya satu orang sahabat yang bernama Bilal tergolong miskin. Ia pelayan yang dimerdekakan sama majikannya.

Melalui instrumen zakat dan korban, prinsip-prinsip redistribusi kekayaan dijalankan. Kasrena strata sosial ekonomi merupakan sesuatu yang faktual. Menjadi sesuatu yang given. Sunnatullah. Kumpulan manusia di mula bumi tak diciptakan sama rata sama rasa.

Namun setiap kekayaan dalam Islam harus didistribusikan sebagian kepada orang miskin. Kepada anak-anak yatim. Untuk perjuangan di jalan Allah seperti pendidikan. Bahkan ada teks yang memberi ancaman sanksi bagi kum berharta yang tidak melakukan redistribusi kekayaannya.

Jika spirit bekerja keras untuk menjadi berkecukupan dan redistribusi kekayaan ini berjalan, kehadiran Islam akan selalu diikuti dengan kemakmuran. Kehadiran Islam berarti kesejahteraan sosial. Kehadiran Islam berarti rahmat bagi seluruh alam.

Rasanya perlu selalu menjadikan hari raya Idul Adha ini sebagai bagian dari perenungan kehadiran Islam kita. Mengapa spirit hidup makmur dengan pemerataan ini tak terwujud di dunia Islam? Adakah yang salah dalam pengimplementasiannya? 

Idul Adha adalah salah satu bukti bahwa Islam bukan hanya agama ritual.

Ia adalah agama sosial. Agama yang mengatur tata kelola masyarakat untuk hidup bersama dengan rasa tenteram. Saling berempati, saling menghargai, dan saling memberi dan manyantuni.

Rasanya perlu selalu menjadikan hari raya Idul Adha ini sebagai bagian dari perenungan kehadiran Islam kita. Mengapa spirit hidup makmur dengan pemerataan ini tak terwujud di dunia Islam? Adakah yang salah dalam pengimplementasiannya?

Selamat Hari Raya Idul Adha. Selamat berkorban bagi yang merayakan. 

Penulis : Arif Afandi


Bagikan artikel ini