Kopi Robusta Memang Pahit, Harganya Juga Pahit

15 Apr 2019 18:30 Ngaji Kopi

Namanya Rumini. Pendek. Singkat. Jelas. Namanya khas, dan pasti hidupnya tidak di kota. Suaminya sama, namanya juga pendek. Riadi. Hanya satu kata saja. Mudah sekali diingat. Cara memanggilnya pun juga utuh. Tidak Pak Ri. Juga tidak Pak Adi. Tapi komplit: Pak Riadi.

Mereka memang tidak hidup di kota. Nun jauh di ujung aspal. Namanya Desa Sumber Tangkil. Di mana itu? Cukup sulit mencarinya di peta, (barangkali). Mencari dengan GPS, sinyal pasti hilang muncul. Nyambung  sebentar, lalu menghilang lama di antara rerimbun kopi.

Cara ampuh mencari keduanya adalah turun dari kendaraan. Lalu bertanya. Kemudian menentukan arah, menentukan belokan. Di sana turun lagi, lalu bertanya lagi, hingga sampai di tujuan. Jangan bosan bertanya, sebab akan seperti pepatah: malu bertanya sesat di jalan.

Desa Sumber Tangkil itu di Tirtoyudo. Nama kecamatan, di wilayah Kabupaten Malang. Penghasil kopi robusta besar di Malang bagian Selatan. Besarannya setara dengan wilayah Sumbermanjing Wetan. Lebih besar dari Ampelgading. Juga lebih besar dari wilayah Dampit.

Empat nama ini adalah penghasil besar kopi robusta di Provinsi Jawa Timur. Nama empat kecamatan di Malang Selatan ini kemudian disingkat menjadi nama yang keren banget. Kekinian. Memiliki nilai jual yang tinggi. Mengingatkan pada sebuah kota cantik di Negeri Belanda sana. Kota Amsterdam.

Tapi di Malang Selatan ini bukan Amsterdam namanya. Bergeser sedikit satu huruf vokalnya. Huruh i menjadi huruf e. Jadilah Amstirdam. Merupakan kependekan dari Ampelgading, Sumbermanjing, Tirtoyudo, dan Dampit. Sayangnya singkatan keren dengan nilai jual tinggi ini tidak menjadi milik warga di sana. Melainkan menjadi HAKI dan milik perseorangan.

Desa Sumber Tangkil adalah salah satu di antara 13 desa yang menjadi wilayah Kecamatan Titoyudo. Setiap jengkal tanahnya menghasilkan kopi. Kopi robusta. Ada juga exelsa, dan mungkin liberika. Jumlahnya hanya sedikit, karena biasanya hanya untuk tanaman pagar rumah.

Pak Riadi berjibaku memanen kopi robusta di lahannya dengan modifikasi transportasi seadanya Begini harga kadang tidak berbanding lurus dengan keringat yang sudah menetes FotoIstimewaRumini for ngopibarengid
Pak Riadi, berjibaku memanen kopi robusta di lahannya dengan modifikasi transportasi seadanya. Begini, harga kadang tidak berbanding lurus dengan keringat yang sudah menetes. (Foto:Istimewa/Rumini for ngopibareng.id)

Menyebut kopi robusta dari Malang Selatan, harus pula menyertakan nama Rumini. Dialah salah satu perempuan perkasa di sana. Ketua Kelompok Wanita Tani Unggul. Satu-satunya kelompok tani wanita yang mampu bersaing dengan tujuh kelompok tani lain yang semuanya dari kalangan maskulin.

Menjelang panen raya kopi robusta begini, satu yang paling ditakutkan keluarga-keluarga petani. Adalah harga. Harga naik turun seperti bermain layang-layang kala tidak ada hembusan angin. Membuat resah, menjadikan gelisah. Termasuk kelompok taninya Bu Rumini.  

Masuk akal kalau mereka menjadi gelisah. Nun jauh dari imajinasi para pemetik kopi di kebun, sebuah website dunia trading menuliskan betapa pahitnya harga komoditas kopi robusta. Sepahit citarasa kopi robusta itu sendiri. Begini website itu menuliskan:          

Harga kopi arabika berjangka di bursa komoditas internasional New York pada penutupan perdagangan, rebound setelah sempat nyaris jatuh ke zona negatif. Untuk harga kopi robusta di bursa ICE London ditutup semakin lemah. Memperpanjang retreat dari puncak tertinggi 2 minggu ke posisi terendah 1 pekan.

Harga kopi arabika berhasil naik menerima beberapa dukungan dari kenaikan tajam  2,2% Real Brasil setelah terjun -3,1% terjun ke 5-3/4 bulan di tengah kekhawatiran politik Brasil. Real Brasil yang lebih kuat vs dolar saat ini menghambat penjualan kopi oleh produsen Brasil dalam dolar yang lebih lemah, berpotensi mengurangi pasokan kopi global.

Secara fundamental, harga kopi arabika NY terus dipangkas oleh persediaan yang cukup dan situasi cuaca yang menguntungkan di Brasil di mana kondisi yang lebih kering minggu ini akan memungkinkan kerja lapangan diikuti oleh perkiraan hujan untuk minggu depan.

Harga kopi robusta mendapat dukungan awal perdagangan setelah Radiant Solutions mengatakan, lebih banyak hujan diperlukan di daerah kopi Vietnam untuk mendukung hasil kopi. Selain itu, Fitch mengurangi estimasi produksi kopi India 2018-19 sebesar 5% menjadi 5,3 juta kantong dari 5,6 juta kantong karena dampak negatif dari hujan monsun yang deras.

Harga kopi arabika untuk kontrak paling besar yaitu Mei 2019 bursa New York  ditutup menguat 0,15  poin atau 0,16% dari posisi perdagangan sebelumnya pada posisi $94.00 per lb. Sedangkan harga kopi robusta kontrak bulan Mei ditutup turun 12 poin atau 0,80% dari perdagangan sebelumnya pada $1492 per ton.

Sementara itu, persediaan kopi masih berlimpah karena persediaan kopi yang dipantau ICE dari 2,493 juta kantong pada hanya turun 0,4% di bawah posisi tertinggi  4-3/4 tahun di 2,503 juta kantong yang dicapai hari Jumat pekan lalu.

Rumini inisiator di Kelompok Wanita Tani Desa Sumber Tangkil bersama para perempuan perkasa lain memanen kopi FotoIstimewaRumini for ngopibarengid
Rumini, inisiator di Kelompok Wanita Tani Desa Sumber Tangkil bersama para perempuan perkasa lain memanen kopi. (Foto:Istimewa/Rumini for ngopibareng.id)

Untuk perdagangan selanjutnya hingga akhir sesi Amerika esok hari, analis Vibiz Research Center memperkirakan harga kopi arabika akan bertahan kuat oleh proyeksi stabilnya mata uang Real Brasil terhadap dolar AS...

Begitu analisis yang dipublish para trader pekan kemarin. Lalu kopi robusta Indonesia bagaimana? Amstirdam Malang Selatan juga bagaimana? Sumber Tangkil?

Yakinlah, Rumini, Kelompok Wanita Tani-nya, juga kelompok tani para maskulin di desa itu, tak akan mengerti bahasa trading seperti ini. Kalau pun tahu mereka biasanya hanya bisa pasrah. “Yo wis ben, asam garam begini ya harus ditelan. Mau teriak sama siapa,” kata Rumini.

Bergotong royong membuat dome pengering kopi Swadaya dan mandiri untuk mengejar kualitas produksi kopi agar tak bergantung pada harga konvensional FotoIstimewaRumini for ngopibarengid
Bergotong royong membuat dome pengering kopi. Swadaya dan mandiri untuk mengejar kualitas produksi kopi agar tak bergantung pada harga konvensional. (Foto:Istimewa/Rumini for ngopibareng.id)

Pasrah ning bela diri. Pasrah tapi berbuat sesuatu. Begitu setidaknya semboyan Rumini. Sebab itu, tahun ini, dia bersama suaminya, juga kelompok taninya, bergotong-royong membangun dome pengering kopi. Tujuannya adalah membuat produksi kopi robusta dengan kualitas bagus.

Menurutnya, kualitas ini harus dikejar agar kopi robusta tak hanya laku dibeli secara massal. Oleh pabrik yang punya duit. Kopi robusta bisa dibeli dengan harga bagus oleh perorangan atau bisnis tertentu yang memang menghendaki jenis kopi dengan proses berkualitas.

Ini paling anyar dari Sumber Tangkil. Dari area yang seratus persen kopi robusta. Mungkin ini juga satu-satunya di Malang Selatan. Para konsumen kopi bisa menyambut ini dengan positif. Para pebisnis kopi, pemilik kedai dengan sajian kopi-kopi spesial, para penggiat bisa menjajalnya. Memberikan masukan kalau ada yang kurang. Paling penting: adalah membeli kopi robustanya dengan harga yang layak. (widikamidi)