Kopi, Ketakasi, dan Minat Ingin Lepas dari Jerat Pengijon

03 Dec 2018 14:20 Feature

Warga hutan (baca: pinggiran hutan) cukup  bergantung pada rentenir. Celakanya rentenir sangat suka menerapkan sistem ijon kepada apa saja yang ditanam warga. Apalagi kalau panenan warga itu berjenis kopi. Komoditas yang sangat laku di pasaran. Ijon itu dicekikan begitu rupa sehingga warga tak mampu bergerak.

Ini fenomena nyata yang tidak saja kerap terdengar. Dan betapa susah menetralisirnya. Kendati sudah banyak program, meski sudah banyak pemberdayaan. Kecuali, warga sendiri yang harus obah (bergerak) dan tergugah untuk lepas dari jerat rentenir itu.

Apakah rentenir berdiam diri ketika masyarakat sudah mulai menyadari betapa sistem ijon sangat menyesakkan? Yakinlah tidak! Era digitalisasi, era media sosial, era marketplace membuat mereka juga masif mengubah bentuk. Mereka juga malih rupa. Mungkin sistemnya yang diubah tidak an sich ijonisasi. Tidak kasat mata bahwa itu adalah ijon. Tapi sudah luwes: misal bersembunyi dibalik jargon pemberdayaan. Tapi sejatinya pratiknya masih sama, nafasnya masih serupa. Tetap ijon.

Para Punggawa Ketakasi fotoidingopibarengid
Para Punggawa Ketakasi. foto:idi/ngopibareng.id

Menyadari bahwa dari mereka sendiri yang harus obah warga hutan pun membuat kelompok. Dari kelompok terbentuklah koperasi. Setelah makin sepakat, kelompok ini menamakan dirinya Koperasi Ketakasi. Sering juga menyebutnya dengan Koperasi Buah Ketakasi. 

Nama koperasi yang cukup unik. Bahkan mungkin juga tiada duanya. Bentuknya adalah Koperasi Serba Usaha (KSU) dengan fokus bisnis kopi berkelas premium.

Koperasi ini lokasinya di atas gunung. Juga berada di tengah hutan. Kawasan hutan di Kabupaten Jember paling timur.

KSU Buah Ketakasi lokasi persisnya di Jalan Gunung Gending No 20 RT 16 RW, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember. Dari Kota Jember harus menempuh jarak ke arah timur lebih kurang 50 KM. Mungkin hampir sejam perjalanan jika di tempuh dengan mobil pribadi. Sudah separuh perjalanan menuju ke Kota Banyuwangi.

Bisnis kopi lagi semarak lihatlah mereka juga tersenyum semarak ketika kopi Sidomulya memiliki pasar yang oke fotoidingopibarengid
Bisnis kopi lagi semarak, lihatlah mereka juga tersenyum semarak ketika kopi Sidomulya memiliki pasar yang oke. foto:idi/ngopibareng.id

Buah Ketakasi ternyata bukan senyatanya buah. Dia adalah singkatan. Buahnya ya buah kopi itu. Sedang Ketakasi adalah singkatan dari Kelompok Tani Kopi Sidomulyo.

Sebuah singkatan yang sangat memaksakan kata. Tapi itulah nama yang diharapkan jadi hoki dan dipilih para anggota koperasi itu. Si komandan alias Ketua Koperasinya adalah Suwarno.

Fokus usaha KSU Buah Ketakasi adalah produk kopi kelas premium dan jasa. Jenisnya adalah kopi basah juga kopi jadi (kopi ground).

Menurut Suwarno, sebelum Buah Ketakasi berdiri, warga hutan sangat bergantung pada rentenir. Celakanya lagi, rentenir menerapkan sistem ijon untuk panenan kopi milik warga. Harga menjadi sangat murah, sementara kopi hanya disedot buahnya untuk menutup hutang di rentenir.

Perawatan dan pemupukan tidak pernah dilakukan lantaran tidak ada modal untuk melakukan itu.

“Memang sudah ada kelompok tani, namun cengkeraman pengijon ini demikian kuatnya sehingga kelompok tani pun menjadi tak berdaya,” kata Suwarno.

Tahun 2007 warga hutan yang sebelumnya nol pengetahuan soal koperasi berhasil dimediasi dan diajak berkumpul. Promotornya adalah Universitas Jember dan Dinas Perkebunan dan Puslit Kopi dan Kakao. Kemudian Dinas Koperasi masuk, lalu terbentuklah Buah Ketakasi.

Nol pengetahuan soal koperasi tersebut dibuktikan dengan respon warga ketika tahun awal-awal pembetukannya. Tahun pertama hanya segilintir orang dalam satu kecamatan. Tak lebih dari 30 orang.

Produk kopi Ketakasi fotoidingopibarengid
Produk kopi Ketakasi. foto:idi/ngopibareng.id

Kesuksesan di tahun kedua dan ketiga rupanya berhasil menggaet anggota baru. Peminatnya membeludak hingga menjadi 100 anggota. Tahun berikutnya meningkat pesat menjadi dua kali lipat yaitu mencapai 200 orang. Itulah anggota yang tercatat saat RAT.

KSU Buah Ketakasi berbadan hukum No 518/500.BH/XVI.7/436/2007. Selain bisnis kopi, juga mengusahakan jasa. Jasa yang digarap koperasi ini adalah pupuk, bibit, benih pertanian, material bangunan, pembayaran listrik, barang kebutuhan pokok rumah tangga, alat-alat pertanian, angkutan barang, hingga kantin.

Progres yang luar biasa membuat koperasi di tengah hutan ini cepat mendapat kepercayaan pihak ketiga, yaitu perbankan. Tahun 2010 Bank Jatim masuk dengan menggelontor modal 1,5 miliar, dan berhasil lunas. Tahun 2011 Bank Syariah Mandiri berbuat yang sama dengan menggelontor modal 2,25 miliar, dan dalam proses cicilan. Sementara BI tidak menggelontor modal melainkan membangunkan infrastruktur berupa pipa-pipa air dari atas gunung untuk pengairan kopi. 

Modal awal adalah 3 juta rupiah, berasal dari simpanan pokok 100 ribu rupiah dengan anggota 30 orang. Modal berkembang setelah ada simpanan wajib 100 ribu rupiah per empat bulan. Kemudian modal bertambah lagi dengan todongan simpanan sukarena per anggota hingga mencapai 12 juta rupiah. Total akhirnya terkumpul 15 juta rupiah. Enam tahun kemudian, modal 15 juta rupiah tersebut sudah beranak-pinak menjadi 2 miliar rupiah seperti yang tertera di RAT terakhir. Sementara SHU berhasil dibukukan lebih dari 100 juta rupiah.

“Berjalan dan berkembang terus adalah tujuan kami. Karena sumberdaya utama kami adalah daerah kopi, kami pun berharap bisa berproduksi seperti white coffe, top kopi, atau yang lainnya. Itu adalah tujuan akhir kami, memenuhi pasar kopi. Saat ini Buah Ketakasi masih sebatas industri rumah tangga. Memang produk kita sudah sampai Kalimantan, Papua, dll, tapi itu tidak rutin. Nah kita menginginkan yang rutin itu. Jadi modal kita yang sekarang menjadi 2 miliar itu sebenarnya belumlah apa-apa, itu masih modal sarana produksi, belum sampai pada tahap menggarap pasar kopi. Sebab itu kita membuka lebar-lebar siapa pun yang ingin berkolaborasi dengan Buah Ketakasi,” kata Suwarno yang mengaku hanya lulusan sarjana dasar alias SD itu. widikamidi

Reporter/Penulis : widi kamidi


Bagikan artikel ini