NGAJI: Ulil Abshar-Abdalla didampingi isterinya, Ienas Tsuroya. (foto: ngopibareng.id)
NGAJI: Ulil Abshar-Abdalla didampingi isterinya, Ienas Tsuroya. (foto: ngopibareng.id)
Menjelang Kopdar Ngaji Bareng Ihya Ulumuddin bersama Ulil Abshar-Abdalla

Kopdar Ngaji Ihya Ulumuddin, Ini AjaranTasawuf Al-Ghazali

Ngopibareng.id Khazanah 23 March 2018 16:53 WIB

Sebelum ngajibareng.id menggelar Kopdar Ngaji Ihya bersama Kiai Ulil Abshar-Abdalla, terlebih dulu perlu kiranya kita mengetahui sejumlah pandangan Imam Al-Ghazali, penulis Kitab Ihya Ulumuddin (Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama Islam).

Selain Ulil Abshar, akan tampil juga Gus Zakki dari Tebuireng Jombang dan Prof Muhammad Nuh, ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya. Kopdar Ulil Abshar Abdalla, pada Jumat (23/3/2018) pk 19.00 WIB malam ini di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), Jln Jemursari Surabaya, akan membahas sejumlah bagian dari Kitab yang terkenal memadukan ilmu tasawuf dan syariat secara harmonis itu.

Karena itu, ajaran Imam Ghazali menjadi acuan bagi kalangan penganut Islam ala Ahlussunnah Waljamaah di bidang tasawuf, bersama Imam Junaid al-Baghdadi, sebagaimana digariskan Nahdlatul Ulama.

Sebagai orang pesantren, Ulil Abshar-Abdalla telah sejak awal mengenal kitab tersebut. Meski ia telah mengarungi pelbagai disiplin ilmu keagamaan, “kitab Ihya Ulumuddin tetap memikat untuk terus dipelajari. Maka ngaji Ihya’ dengan kopdar semakin diminati bukan hanya bagi kalangan pesantren, melainkan juga masyarakat di luar pesantren,” tutur Ulil Abshar-Abdalla, yang juga menantu Kiai Mustofa Bisri Rembang ini.

Di dalam tasawufnya, Al-Ghazali memilih tasawuf sunni berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Nabi ditambah dengan doktrin Ahlu Al Sunnah wa Al-jama’ah. Corak tasawufnya adalah psikomoral yang mengutamakan pendidikan moral yang dapat di lihat dalam karya-karyanya .

Seperti Ihya’ullum, Al-Din, Minhaj Al-‘Abidin, Mizan Al-Amal, Bidayah Al Hidayah, M’raj Al Salikin, Ayyuhal Wlad.
Al-Ghazali menilai negatif terhadap syathahat dan ia sangat menolak paham hulul dan utihad (kesatuan wujud). Untuk itu ia menyodorkan paham baru tentang ma’rifat, yakni pendekatan diri kepada Allah (taqarrub ila Allah) tanpa diikuti penyatuan dengan-Nya:

Pandangan Al-Ghazali tentang Ma’rifat

Menurut Al-Ghazali, ma’rifat adalah mengetahui rahasia Allah dan mengetahui peraturan-peraturan Tuhan tentang segala yang ada, alat untuk memperoleh ma’rifat bersandar pada sir-qolb dan roh. Pada saat sir, qalb dan roh yang telah suci dan kosong itu dilimpahi cahaya Tuhan dan dapat mengetahui rahasia-rahasia Tuhan. Kelak keduanya akan mengalami iluminasi (kasyf) dari Allah dengan menurunkan cahayanya kepada sang sufi. Sehingga, yang dilihatnya hanyalah Allah, di sini sampailah ia ke tingkat ma’rifat.

PandanganAl-Ghazalitentang-As-As’adah.

Menurut Al-Ghazali, kelezatan dan kebahagiaan yang paling tinggi adalah melihat Allah (ru’yatullah) di dalam kitab Kimiya As-Sa’adah. Sang Hujjatul Islam menjelaskan, As-Sa’adah (kebahagiaan) itu sesuai dengan watak (tabiat). Sedangkan watak sesuatu itu sesuai dengan ciptaannya; nikmatnya mata terletak pada ketika melihat gambar yang bagus dan indah, nikmatnya telinga terletak ketika mendengar suara merdu. (adi)

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

18 Nov 2020 03:01 WIB

Gus Baha: Musibah bila Santri Tak Mengenal Kitab Mbah Hasyim

Khazanah

Jangan lebih mengenal pemikiran Ulil Abshar Abdalla atau Nusron Wahid...

13 Nov 2020 05:46 WIB

Imam Al-Ghazali: Sibukkan Dirimu dengan Melakukan Dua Perbaikan

Islam Sehari-hari

Sesuai Kitab Ihya Ulumuddin yang dipelajari di pesantren

08 Nov 2020 04:39 WIB

Imam Al-Ghazali dan Pelajaran Filsafat di Pesantren, Ini Faktanya

Khazanah

Hujjatul Islam berfilsafat dengan metode penyusunan kitab

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...