Konsistensi Kitab Rujukan NU, Ini Penjelasan Kiai Marzuki

16 Jan 2019 01:54 Khazanah

Ketua PWNU Jawa Timur KH Marzuki Mustamar mengemukakan alasan pentingnya mengikuti paham Ahlussunnah waljamaah yang diajarkan Nahdlatul Ulama. Pondok pesantren NU se-Indonesia memiliki kesamaan tata cara beribadah di berbagai tempat di tanah air.

"Kita harus tetap mengikuti NU, karena NU benar-benar konsisten dalam memegangi Ahlussunnah wal Jamaah. Pondok Pesantren, di mana saja, mulai dari Aceh sampai Merauke, yang ber-merk NU, kurikulumnya sama. Wiridan-nya sama. Aqaid lima puluh-nya sama. Ila hadrati-nya juga sama. Beraneka macamnya sama. Dari Sabang sampai Merauke," kata KH. Marzuki Mustamar.

"Mulai zaman Mbah Hasyim sampai sekarang, cara NU ber-bathsul masail, maraji' (rujukan) kitab yang menjadi maraji', saya lihat di Ahkamul Fuqaha. Juga hasil bathsul masail Jawa Timur, Muqarrarat Nahdliyyah, tidak ada maraji' yang berubah. Dulu ada rujukan Bughyatul Mustarsidin, sampai sekarang, PWNU, LBM di Madiun juga ada Bughyatul Mustarsidin. Dulu ada Ittihafus Sadah, sampai sekarang juga memakai kitab Ittihafus Sadah. Dulu ada Tuhfatul Ahfali Fi Syarhi Tirmidzi, sampai sekarang juga tetap memakai kitab itu. Dulu memakai kitab Nihayatuz Zain, sampai sekarang juga memakai Nihayatuz Zain," tuturnya.

"NU juga konsisten merujuk pada kitab-kitab mu'tabarah, ke-ahlussunnah-annya, ke-tahqiq-annya, validasi, akurasi, dan ke-dhiqqah-annya, ketelitiannya sudah teruji. Tidak pernah menyimpang dari itu," ungkap sang kiai.

Kiai Marzuki Mustamar, Pengasuh Pesantren Sabilarrosyad Gasek, Malang, mengungkapkan hal itu, saat menjadi pembicara dalam acara Haul ke-30 Al Maghfurlah KH Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta, Senin malam 14 Januari 2019, dihadiri ribuan jamaah.

Menurut dia, sejak dulu sampai sekarang, NU konsisten hanya merujuk pada Alkutubul Mu'tabarh, al-Mu'tamadah, al-Mutadaawilah bainal 'ulama' min Ahlissunnah wal Jamaah.

"NU juga konsisten merujuk pada kitab-kitab mu'tabarah, ke-ahlussunnah-annya, ke-tahqiq-annya, validasi, akurasi, dan ke-dhiqqah-annya, ketelitiannya sudah teruji. Tidak pernah menyimpang dari itu," ungkap sang kiai.

Kemudian, ketua PWNU Jawa Timur ini pun melihat hasil-hasil fatwa keputusan kelompok di luar NU. Kadang, tuturnya, kitab yang menjadi rujukannya berubah-ubah. Bahkan jawaban dari tahun ke tahun pun berubah-ubah, yang berarti tidak begitu konsisten.

"Kita mesti ikut NU. Sebab NU resmi legal-formal. Dalam Muqaddimah Qanun Asasi, menulis Madzhab Syafii, menulis Asy'ariyyah, Maturidiyyah, menulis Imam Junaid dan seterusnya. Kita mesti ikut NU, konsisten, tidak pernah berubah. Mesti ikut NU, hadirin sekalian, karena masyayikhnya, termasuk Mbah Munawwir Krapyak, punya sanad sampai Rasulullah Saw," ajaknya, kepada para hadirin.

Hadir dalam acara ini para alim ulama, pejabat dan tokoh masyarakat, di antaranya Musytasyar PBNU KH Maimun Zubair, Rais Aam PBNU KH. Miftahul Akhyar, Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin, dan masih banyak lagi. Acara Haul ke-30 mantan Rais Aam PBNU 1980-1984 ini berakhir pada pukul 01:00 WIB dini hari. (adi)