Konsisten Lakukan Peran Kebangsaan, Begini Pesan Muhammadiyah

16 Feb 2019 04:47 Khazanah

Dinamika kebangsaan yang bersifat umum kemudian yang menyangkut lima tahunan sering kali menguras energi. Posisi Muhammadiyah sudah berada di garis persatuan dalam menghadapi isu kehidupan berbangsa dan beragama.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir pada Pidato Iftitah sidang Tanwir Muhammadiyah 2019 di Auditorium Kampus IV Universitas Muhammadiyah (UM) Bengkulu, Jumat 15 Februari 2019.

"Dinamika kebangsaan yang bersifat umum kemudian yang menyangkut lima tahunan yang sering kali menguras energi kita. Agenda ini selalu menjadi fokus Muhammadiyah dari zaman kolonial sampai sekarang ini," kata Haedar.

Haedar mengatakan, Muhammadiyah akan tetap melaksanakan peran kebangsaan lewat-lewat silaturrahim komunikasi politik, lobby yang dilakukan dari Pimpinan Pusat ke bawah.

"Di samping kita bersyukur bahwa Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bertumbuh luar biasa. Kita bangga sampai ke pelosok-pelosok Muhammadiyah dengan AUM-nya dapat mengembangkan aset yang luar biasa." kata Haedar Nashir.

"Dari metode itu kita bangun hubungan yang seksama dengan spirit Amar Maruf Nahi Mungkar," ujarnya.

Dalam menghadapi dinamika politik praktis Muhammadiyah sudah memilih pintu yang elegan yakni secara elegan tidak memainkan politik praktis tapi mendorong kader-kadernya berkiprah di politik praktis.

"Dalam proses transisi selalu ada tuntutan lebih tetapi tidak apa-apa tugas kita adalah bagaimana ke depan semakin mendorong proses ini secara lebih teratur, tetapi pada saat yang sama kader kita juga menjadi orang yang tangguh dan tidak gampang menyerah. Disamping itu kita dorong kader-kader profesional kita," jelas Haedar.

Menurut Haedar, Muhammadiyah harus melakukan usaha sinergi yang luar biasa.

"Di samping kita bersyukur bahwa Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bertumbuh luar biasa. Kita bangga sampai ke pelosok-pelosok Muhammadiyah dengan AUM-nya dapat mengembangkan aset yang luar biasa.

"Jangan sampai merasa kecil yang sering membuat kita kehilangan kebanggaan dan kehilangan rasa syukur. Padahal potensi Muhammadiyah itu luar biasa tetapi disaat yang sama kita perlu muhasabah," kata Haedar mengakhiri. (adi)

Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini