Komunitas Nol Sampah Surabaya, menggelar aksi di Taman Apsari Surabaya, pada Rabu 21 Februari 2018. (foto: hrs/ngopibareng)

Komunitas Nol Sampah Surabaya, Sebut Ada Tiga Cara untuk Perangi Sampah Plastik

Surabaya 21 February 2018 16:37 WIB

Memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), Komunitas Nol Sampah Surabaya meminta kepada pemerintah untuk memeprtegas UU 18 tahun 2008 dan PP 81 tahun 2012. Dalam hal itu komunitas ini berkeinginan untuk menarik Indonesia dari peringkat dua dunia penyumbang sampah terbesar ke laut.

"Pemerintah harus bersinergi dengan produsen yang menggunakan bahan plastik, supaya sampah plastik di Indonesia berkurang. Mumpung di Hari Peduli Sampah Nasional kami meminta kepada pemerintah untuk turut memerangi sampah plastik dan memanfaatkan untuk dapat di daur ulang," kata Koordinator Komunitas Nol Sampah Surabaya Hermawan Some, Rabu 21 Februari 2018.

Dalam hal ini, Komunitas Nol Sampah Surabaya meminta kepada pemerintah pusat, khususnya Surabaya untuk menggalakan aksi pengurangan terhadap konsumsi sampah plastik. Wawan mengatakan ada tiga cara untuk mengurangi sampah plastik, yakni. 

Pertama, pemerintah harus segera membuat peraturan pelaksana yang tegas tentang pengurangan sampah plastik, diantaranya terkait dengan tanggung jawab produsen atas kemasannya serta peraturan tentang pembatasan pemakaian tas kresek (uji coba kantong plastik berbayar cukup efektif mengurangi pemakaian tas kresek sampai 40%, bahkan di Surabaya mencapai 60%).

"Dengan begini pasti jumlah sampah plastik akan menurun, sebab produsen bertanggung jawab mengambil kembali barangnya untuk didaur ulang," ucapnya.

Kedua, produsen harus bertanggung jawab atas kemasannya dengan cara menganti kemasannya dengan bahan yang bisa didaur ulang, menarik kembali kemasannya sehingga bisa dipakai kembali atau didaur ulang sesuai amanat UU 18 tahun 2008 dan PP 81 tahun 2012.

Terakhir yang ketiga, faktanya sampah plastik berdampak buruk bagi kehidupan di laut dan bisa berbahaya bagi kesehatan manusia. "Untuk itu kami mengajak kita semua untuk mengubah gaya hidup sehingga semakin sedikit menghasilkan sampah plastik (diet Plastik) caranya, bawa tas yang bisa dipakai berulangkali, bawa botol minum sendiri, bawa tempat makan sendiri. Jika terpaksa menghasilkan sampah plastik diupayakan bisa dipakai kembali atau didaur ulang," uranya Wawan. (hrs)

Penulis : Haris Dwi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

31 Mar 2020 04:10 WIB

Tragedi Anak Zaman, Kisah Laila Majnun Tergila-gila

Humor Sufi

Khazanah kisah yang dikenal di pesantren dan dunia Islam

31 Mar 2020 04:08 WIB

Jepang dan Swedia, Tampak Berbeda

Jusuf Irianto

Ada yang berbeda dalam menangani Pandemi Corona di Jepang dan Swedia.

31 Mar 2020 03:23 WIB

Dua Keistimewaan Bulan Sya'ban, Begitu Mengejutkan!

Islam Sehari-hari

Pintu memasuki ibadah bulan Ramadhan

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.