Ilustrasi Kompetensi Komunikasi. (Foto:CSC/Ngopibareng)
Ilustrasi Kompetensi Komunikasi. (Foto:CSC/Ngopibareng)

Kompetensi Komunikasi

Ngopibareng.id Tokoh Lain 04 August 2020 13:22 WIB

Oleh: M. Anshar Akil

Kompetensi komunikasi sangat dibutuhkan oleh para profesional dalam bidang apa pun. Utamanya profesi yang berhubungan dengan publik seperti pejabat, dokter, pengacara, dai, dosen, guru, wartawan, trainer, motivator, marketing, manajer, humas, atau siapa pun yang senantiasa berinteraksi dan melayani masyarakat.

Banyak profesional yang tidak mampu mencapai prestasi optimal, atau gagal dalam tugasnya, bukan karena tidak memiliki kompetensi teknis tapi kurangnya menguasai kompetensi komunikasi dalam pekerjaannya. Siapa pun yang ingin lebih berhasil dalam pekerjaan maupun dalam hidup ini, perlu meningkatkan kemampuan komunikasi yang dimilikinya dengan lebih baik lagi.

Dilema kompetensi komunikasi merupakan masalah yang jamak dihadapi oleh kaum profesional atau masyarakat umum. Hal ini disebabkan karena pada umumnya kecakapan komunikasi kita tidak diperoleh dari suatu proses pendidikan atau pelatihan khusus sesuai kebutuhan profesi yang ditekuni. Banyak yang menganggap kemampuan komunikasi akan diperoleh secara alami dalam kehidupan kita. Padahal kemampuan komunikasi itu perlu dilatih, dipelajari, ditingkatkan melalui pendidikan formal atau non formal untuk memahami prinsip-prinsip berkomunikasi efektif.

Kemampuan komunikasi dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan personal maupun profesional kita. Komunikasi juga diperlukan untuk mencegah dan mengatasi konflik. Komunikasi adalah perekat kehidupan. Komunikasi adalah sifat asasi manusia. Masalah-masalah yang muncul dalam hubungan sosial, seperti pertengkaran, perkelahian, atau perang, merupakan akibat dari kegagalan komunikasi. Bagi orang yang memiliki kemampuan persuasi atau diplomasi, masalah-masalah sosial dapat diselesaikan dengan melakukan interaksi simbolik dengan orang lain.

Menurut Fisher (1986), tidak ada persoalan sosial dari waktu ke waktu yang tidak melibatkan komunikasi. Justru itu, dari waktu ke waktu manusia dihadapkan pada masalah sosial, yang penyelesaiannya menyangkut komunikasi yang “lebih banyak” atau yang “lebih baik”. Setidaknya semua kesalahpahaman yang kemudian menimbulkan konflik antara manusia, dinyatakan sebagai “kesalahan komunikasi” (Arifin, 1988).

Misalnya pelanggaran social distancing pada masa covid-19 ini juga juga dapat dinyatakan sebagai masalah komunikasi. Artinya, pesan-pesan pencegahan Covid-19 belum dipahami sepenuhnya oleh masyarakat atau pihak yang terkait. Setiap masalah yang muncul itu merupakan hasil dari kesenjangan (communication gap) atau kegagalan komunikasi (communication break-down).

Untuk mengatasi berbagai masalah yang ada saat ini, dibutuhkan kompetensi komunikasi dalam melaksanakan tugas-tugas publik. Semakin banyak krisis, konflik, atau masalah sosial, maka kompetensi komunikasi makin dibutuhkan. Kita bukan hanya dituntut untuk memperbaiki kinerja tapi juga meningkatkan kemampuan komunikasi dengan khalayak.

Memiliki kompetensi komunikasi berarti mengetahui tujuan dan cara berkomunikasi yang efektif untuk mencapai tujuan. Mc Crosky, dkk (Akil, 2012) mengatakan bahwa komunikasi yang efektif dapat dicapai dengan mengusahakan ketepatan (accuracy) yang paling tinggi derajatnya antara komunikatir dan komunikan dalam setiap situasi.

Crosky dkk memilih istilah “ketepatan yang lebih besar” (greater accuracy) daripada ketepatan yang menyeluruh (total accuracy), karena memperoleh ketepatan 100% antara pembicara (komunikator) dan penerima (komunikan) tidaklah mungkin dan tidak akan pernah terjadi. Total accuracy dalam komunikasi menghendaki komunikator dan komunikan mempunyai pengalaman yang benar-benar sama dalam semua hal yang dibicarakan.

Hanya dengan mempunyai pengertian yang benar-benar sama mengenai suatu pesan, mereka akan mempunyai ketepatan yang menyeluruh, pengertian yang menyeluruh (sempurna). Selama orang-orang mempunyai pengalaman yang berbeda tidak akan pernah bisa membangkitkan idea yang benar-benar sama dalam benak komunikan sebagai yang dikonstruksikan dalam benak komunikator.

Karena itu, komunikasi efektif bukan mendapatkan 100% ketepatan, tetapi mengusahakan accuracy yang paling tinggi derajatnya dalam setiap situasi. Kita dapat menciptakan komunikasi efektif dengan menjaga akurasi maksimal antara satu dengan lainnya.

Akurasi itu ditunjukkan dengan ketepatan menyampaikan pesan untuk menciptakan kesamaan pikiran, sikap, dan perilaku dengan orang lain. Untuk mempengaruhi pikiran, sikap, dan tindakan si penerima, pembicara harus memasuki wilayah struktur personalitas si penerima pesan.

Struktur personalitas merupakan sebuah wilayah multilayer --- seperti lapisan-lapisan bawang, dimana lapisan paling dalam dapat dicapai jika lapisan sebelumnya dimasuki lebih dulu. Jika pesan-pesan si pembicara mampu mencapai lapisan paling dalam dari personalitas si penerima, maka apa yang diinginkan oleh si pembicara akan dilaksanakan oleh si penerima tanpa hambatan berarti.

Altman dan Taylor dalam Griffin (2012) menyebut struktur personalitas yaitu:

Pertama lapisan paling luar adalah data biografi; kedua adalah lapisan preferensi pakaian, makanan, dan hiburan; ketiga adalah lapisan tujuan dan aspirasi; keempat adalan lapisan tentang kepercayaan religius; kelima adalah lapisan tentang fantasi dan ketakutan terpendam; dan keenam adalah lapisan tentang konsep diri. Agar komunikasi bisa diterima oleh orang lain maka belajarlah berbicara sesuai dengan konsep diri orang tersebut.

Untuk itu kita perlu lebih mengenal diri sendiri dan orang lain. Semakin kita mengenal kelebihan dan kekurangan diri kita maka kita makin mudah mengembangkan kemampuan-kemampuan itu dan mengatasi kelemahan yang kita miliki. Begitu pula dengan mengenal orang lain, kita makin mudah untuk menyesuaikan cara kita berkomunikasi agar mudah dimengerti dan diterima orang itu. Kita akan selalu menunjukkan siapa diri kita melalui cara kita berkomunikasi.

Komunikasi dapat mendorong kita untuk naik ke jenjang lebih tinggi atau sebaliknya menjatuhkan kita. Betapa banyak contoh-contoh orang yang berhasil karena kemampuan komunikasi prima yag mereka miliki; dan betapa banyak juga orang yang jatuh karena kesalahan komunikasi.*

M. Anshar Akil, Dosen Komunikasi UIN Alauddin Makassar/Motivator Nasional, Coorporate Trainer, tinggal di Makassar, [email protected]

Penulis M Anshar Akil FotoIstimewaPenulis, M. Anshar Akil. (Foto:Istimewa)

Penulis : M. Anis

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

19 Jan 2021 02:24 WIB

Empat Ciri Masjid NU, Berdasarkan Alamiah Ibadah

Khazanah

Penjelasan Ustaz Ma'ruf Khozin, Direktur Aswaja NU Center Jawa Timur

18 Jan 2021 22:40 WIB

Wapres Dukung Gerakan Nasional Donor Plasma Konvalesen

Nasional

Gerakan nasional donor plasma konvalesen perlu solidaritas masyarakat.

18 Jan 2021 22:30 WIB

Bahas Transfer ke Fenerbahce, Mesut Ozil Tiba di Istambul Turki

Liga Inggris

Gelandang Arsenal ini akan bermain di klub Fenerbahce.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...