Kisah Santri Sukorejo Situbondo, Guru Ngaji Jokowi

12 Dec 2018 14:22 Feature

Presiden Joko Widodo ternyata pernah berguru mengaji pada santri Pesantren "Tua" Salafiyah Sukorejo Situbondo. Menjadi santri pernah dilakoni Jokowi jauh ketika dirinya belum menjadi Wali Kota Solo.

Mengutip Jokowidodo.app, Presiden ke tujuh Indonesia ini belajar Alquran ke seorang santri Sukorejo bernama Mudzakir.

Cerita perjalanan nyantri ala Jokowi bermula ketika, Mudzakir baru saja lulus dari Ma’had Aly dan Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur.

Saat itu Mudzakir bergabung menjadi guru ngaji di Lembaga Pendidikan Al Quran (LPA) Budi Cendekia, Mojosongo, Solo sekitar tahun 2000. Saat itulah, salah satu yang menjadi muridnya adalah Jokowi dan anak bungsunya, Kaesang Pangarep.

Mudzakir menjelaskan, kurang lebih setahun Jokowi dan Kaesang mendalami Al Quran. Materi yang ia sampaikan terutama adalah pelajaran baca tulis Al Quran.

Satu hal yang hingga kini terus terkenang di benak Mudzakir dari perjumpaannya dengan Jokowi adalah ungkapan yang santun dan rendah hati.

"Kulo niki nggih tiyang saking ndeso, dados ampun sah perkewuh (saya ini juga orang desa, jadi tidak usah sungkan)!" kata Jokowi saat pertama menyambut kedatangan Mudzakir di rumahnya.

Jokowi mengawali belajar mengaji dari awal. Dimulai dari Iqra atau belajar membaca huruf Arab lebih dulu, seperti alif, ba', ta', dan seterusnya.

Sedangkan Kaesang, karena usianya saat itu yang masih belia dan semangatnya naik-turun, harus sering dibujuk Ibu Iriana agar bersedia mengaji.

"Saya tidak pernah melihat sikap kasar atau marah dari Ibu Iriana (kepada Kaesang). Bu Iriana, beliau orangnya santun, ramah dan kalem," tutur Mudzakir kagum.

Suatu kali Jokowi, tutur Mudzakir, juga pernah memberinya oleh-oleh korek api Zippo dari Jerman, sehabis perjalanan dia mengurus ekspor furnitur ke sana. Mudzakir semula menolak, "Maaf saya tidak merokok, Pak."
 
Namun Jokowi menjawab,"Boten nopo nopo, ditampi mawon!" (Tidak apa-apa, diterima saja). "Saya tidak tahu lagi, korek api Zippo itu saat ini berada di mana. Yang saya ingat, dulu saya berikan ke ayah saya," kata Mudzakir.
 
Mudzakir mengajar mengaji untuk Jokowi dan Kaesang hingga tahun 2002. Namun dirinya terpaksa berhenti mengajar mengaji karena diterima sebagai PNS untuk formasi guru bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Bendosari, Sukoharjo (sekarang MTsN 3 Sukoharjo). 
 
Selain menjadi guru MTsN, saat ini dia juga mengemban amanah sebagai Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCNU Sukoharjo.
 
Setelah Jokowi menjadi Walikota Surakarta, atas anjuran salah satu tetangganya yang bekerja di Balaikota Surakarta, Mudzakir mencoba bersilaturahim ke Loji Gandrung, rumah dinas Walikota Solo. Mudzakir saat itu mengajak serta anak istriya, sembari berjalan-jalan di kota Solo. 
 
Namun karena tidak membuat janji lebih dulu, ia pun gagal bertemu Jokowi. Penjaga rumah dinas mengatakan, Jokowi sedang tidak ada di rumah. 
 
"Setelah itu saya hanya berusaha 'nyambung' dengan doa yang insya Allah akan selalu saya panjatkan sampai kapan pun. Bukan hanya untuk beliau (Jokowi) saja, tapi juga untuk seluruh peserta privat mengaji lainnya, yang saya yakin menjadi salah satu sebab Allah memberi anugerah dan rezeki untuk kami sekeluarga," kata ayah tiga anak ini.
Mudzakir tidak mengira, Jokowi yang dulu pernah belajar mengaji Al Quran kepadanya Mudzakir lebih suka memakai istilah "membersamai" daripada mengajar akhirnya menjadi Walikota, Gubernur, bahkan Presiden.
 
"Karena yang saya tahu, saat itu beliau sepertinya tidak memiliki ambisi kekuasaan (hubburriyaasah)," kata Mudzakir. 
 
Meski begitu, Mudzakir mengaku sangat bersyukur bahwa orang yang pernah ia kenal dekat itu sekarang menjadi orang penting di negeri ini. 
 
"Kami bersyukur, Pak Jokowi yang pernah kami bersamai belajar mengaji Al Quran, kemudian diberi anugerah dan amanah dari Allah SWT untuk menjadi pemimpin. Harapan kami, beliau tetap istiqomah untuk memperjuangkan keadilan dan kesetaraan untuk seluruh warga bangsa," kata Mudzakir. 
 
Tak disangka, harapan Mudzakir untuk bertemu Jokowi akhirnya tanpa sengaja bisa terkabul tahun lalu. Saat itu bertepatan dengan momen Halal Bihalal Kebangsaan PCNU Se-Jawa Tengah, di Semarang, yang juga dihadiri Presiden Jokowi. Mudzakir ikut datang sebagai perwakilan PCNU Sukoharjo. 
 
Saat Jokowi menyalami para hadirin dan tiba pada giliran menyalami dirinya, ternyata Jokowi masih ingat dengan Mudzakir. "Sakmeniko wonten pundi Njenengan (sekarang di mana Anda)?" sapa Jokowi pada Mudzakir.
 
Mudzakir pun menjawab, "Ten (di) Sukoharjo, Pak."
 
Alhamdulillah, kata Mudzakir berkali-kali, setelah 16 tahun tidak berjumpa, ternyata Jokowi masih ingat dengan dirinya yang hanya orang kecil. 
 
Jokowi, di mata Mudzakir, tetap rendah hati dan bersahaja seperti dulu ia pernah mengenalnya. Padahal Jokowi yang sekarang bukan lagi sekadar pengusaha mebel di kota kecil Solo, melainkan sudah menjadi orang paling berkuasa di Republik ini. (man)
Reporter/Penulis : Rohman Taufik


Bagikan artikel ini