Sebuah Kisah Pabrik Kopi Senja Mataram di Malang

07 Apr 2019 15:47 Kedai Asiiik

Senja Mataram, nama ini tidak asing bagi para pecinta kereta api. Diluncurkan pertama kali pada tanggal 11 Maret 1992, Kereta Api (KA) Senja Mataram melayani perjalanan koridor Bandung-Yogyakarta.  Kini nama itu berubah menjadi KA Lodaya dengan jangkauan layanan diperluas hingga Solo, Jawa Tengah.

Sejarah KA Senja Mataram berkaitan erat dengan kisah Hidup Dimas Samoedra, lelaki berusia 30 tahun yang kini menekuni bisnis kopi di Malang. “Bapak saya dari Bandung, Ibu dari Solo. Setiap kali bapak ingin menjumpai bertemu ibu, Beliau menaiki kereta Senja Mataram yang sekarang bernama Lodaya menuju Solo,” ujarnya menceritakan awal mula nama Pabrik Kopi Senja Mataram yang dimilikinya.

Dimas besar di Jawa Barat, kemudian menempuh pendidikan tinggi di Universitas Brawijaya dan sempat bekerja di salah satu bank umum BUMN di Kota Malang. Setiap kali dirinya hendak pulang ke Bandung, ayahnya selalu menanyai kopi Malang. Kisah ini melatarbelakangi niat Dimas menekuni bisnis kopi.

Bertempat di komplek Pasar Tawangmangu, pada tahun 2015 Dimas bersama temannya yang juga bekerja di bank menyewa sepetak toko. Waktu itu nama Pabrik Kopi Duo Ningrat. “Karena masih partner sama teman, belum bisa pakai nama Senja Mataram,” katanya.

Papan nama Senja Mataram, dengan logo kereta api penuh kenangan itu akhirnya bisa dipajang di atap tokonya akhir tahun 2018 kemarin. Masih di Pasar Tawangmangu, Dimas membeli dua lapak yang dimodifikasi menjadi satu sebagai tempat produksi kopi sekaligus tempat seduh kopi.

Saat matahari jatuh di kaki langit, Pabrik Kopi Senja Mataram semakin ramai pengunjung. Dimas merekomendasikan saya secangkir kopi Arum dalu. Katanya, kopi racikan ini cocok untuk diminum sore hari. Dengan filosofi tumbuhan Arum dalu atau juga disebut bunga sedap malam yang merekah saat malam hari.

Kopi Arum dalu merupakan perpaduan dari tiga jenis biji kopi arabika. Baginya, minum kopi robusta di malam hari membuatnya sulit tidur. Seduhan kopi Arum dalu cocok untuk mereka yang masih ingin menikmati kopi tanpa takut sulit tidur. “Saya sendiri merasakan kalau bangun tidur paginya juga lebih enteng,” ujar Dimas.

Dimas memiliki rekomendasi sendiri untuk setiap cangkir kopi dengan momen yang tepat. Seperti kopi Sekarwangi yang dimaknai sebagai kebahagiaan atau kesuksesan untuk diminum saat hendak memulai rutinitas di pagi hari.

Selain itu, blend kopi yang menjadi primadona di sini ada kopi juragan hasil paduan antara biji arabika dan robusta. Kopi Mandor dari biji robusta dan menu pertama yang masih menjadi favorit saat ini adalah kopi lembur, juga dari biji robusta.

Dalam setiap resep paduan kopi tersebut, tak terhitung berapa kali Dimas mencoba hingga menemukan rasa yang pas.  Rasanya pun coba disesuaikan dengan lidah para pelanggannya. Dimas mengatakan, “pada umumnya orang gak banyak yang suka asam, jadi kopi yang kami bikin sebisa enak untuk diminum seduhan tubruk baik ditambah gula maupun tidak.”

Harga secangkir kopi di Pabrik Kopi Senja Mataram berkisar 8-15 ribu rupiah. Menu yang tersedia mengikuti perkembangan pasar. Sekarang di sini juga menyediakan es kopi yang semakin hari menjadi tren.

Pabrik Kopi Senja Mataram buka sejak pukul tujuh pagi, mengikuti budaya pasar Tawangmangu yang aktif saat pagi. Dan baru tutup pukul dua belas malam.

Di tengah pasar dan tidak menyediakan wifi, warung milik Dimas selalu ramai setiap harinya. Setiap harinya, Pabrik Kopi Senja Mataram menghabiskan sekitar 30 kg untuk seduhan. Padahal, menjadi tempat seduhan kopi bukan tujuan utama Dimas. Mulanya dia hanya ingin menjual bubuk kopi. Para pelanggannya yang meminta Dimas agar menyediakan tempat ngopi, walaupun sekadar lesehan.

“Sepulang dari kebun kopi biasanya kami berbagi cerita di sini. Dari situ teman-teman banyak yang ikut ngopi, ya sudah akhirnya kami jadikan warung kecil-kecilan sampai seperti sekarang,” kenang Dimas.

Dimas memang mengambil biji kopi langsung dari petani, terutama petani kopi yang ada di Dampit, Kabupaten Malang. Setidaknya ada sembilan kelompok tani yang menjadi jujukannya. Dalam seminggu Dimas bisa sampai empat kali mengunjungi kebun kopi di Dampit.

Selama ini dia mengaku memang fokus pada bisnis bubuk kopi. Tidak ada ambisi untuk menjadikan tempatnya menjadi tempat seduhan kopi. Sejak memutuskan berhenti dari bank tempat ia bekerja, Dimas mengabdikan dirinya pada bisnis kopi yang ditekuni sampai saat ini.

Terjun ke dunia kopi, Dimas mengantongi sertifikat dari Pusat Penelitian (Puslit) Kopi dan Kakao dari PTPN dan Coffee Story. Pengalaman sebagai praktisi kopi pun juga banyak ia pelajari sejak tahun 2010 dengan membuka angkringan di Jalan Soekrano-Hatta. Dimas juga pernah membuka booth kopi-coklat di tempat yang sama pada tahun 2014.

Dimas mempelajari dunia kopi dari hulu hingga hilir. Untuk produksi kopi bubuk yang ia labeli merk 88, bulan Februari kemarin menjadi yang tertinggi menembus angka 1,89 ton. “Di Malang kami yang tertinggi untuk kelas artis roastery. Bisa dilihat juga, semua warung kopi di Malang yang menyediakan es kopi susu, bubuk kopinya kami yang stok,” ujar lelaku yang juga sedang menantikan kelahiran anaknya ini.

Ada tiga level kualitas bubuk kopi 88 yang diproduksi Pabrik Kopi Senja Mataram. Yang paling bagus ialah cap putih yang dihargai 100ribu/kg, kemudian cap merah 85rb/kg dan Cap kuning (65/kg).

Menjaga kualitas kopi mejadi yang utama baginya, ilmu itu ia turunkan juga pada keenam karyawannya. Dengan begitu, dirinya tidak merasa perlu bersusah payah promosi. Pelanggan Pabrik Kopi Senja Mataram terus bertambah hanya dari mulut ke mulut. Akun Instagram Pabrik Kopi Senja Mataram pun yang merupakan bikinan pelanggan, hanya untuk mendokumentasikan kegitan pabrik kopi.

Tapi meski Instagramnya hanya untuk dokumentasi dan bukan untuk jualan, distribusi kopi produksi Pabrik Kopi Senja Mataram sudah bisa sampai pasar Surabaya, Bekasi, Tegal, Gresik, Kediri, hingga Jakarta.

Penulis : Fajar Dwi Ariffandhi
Editor : Moch. Amir


Bagikan artikel ini