Kisah Penjual Nasi Kuning yang Terkabul Berangkat Haji

11 Jul 2019 12:55 Feature

Ada yang menyebut jika melaksanakan ibadah haji adalah panggilan Alloh. Meski secara ekonomi ada orang yang sudah mampu membayar ongkos naik haji. Namun, jika belum merasa terpanggil, dia tak akan pergi haji.

Begitu juga sebaliknya, meski sekilas, secara ekonomi dianggap tak mampu. Tapi karena sudah merasa terpanggil, segala upaya akan dilakukan untuk memenuhi panggilan Alloh tersebut.

Salah satu yang teguh untuk memenuhi panggilan Alloh tersebut adalah Tipa Iya Santono atau akrab dipanggil Tipa. Dengan mata yang berkaca-kaca dia mencoba mengenang perjuangannya mengumpulkan uang untuk menunaikan ibadah haji.

Janda usia 50 tahun ini pekerjaan sehari-harinya adalah penjual nasi kuning. Jangan dibayangkan dia penjual nasi kuning skala katering dengan omzet jutaan. Sehari-hari, Tipa hanya berjualan nasi kuning di depan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahul Khoir, Probolinggo.

Setiap hari Tipa rela bangun pagi-pagi untuk memulai berjualan nasi kuning. Dengan lauk tempe dan tahu, Tipa menjual nasi kuningnya ke para siswa-siswi madrasah. Tipa bukan penjual tunggal yang ada di depan madrasah ini. Ada beberapa penjual lain yang juga jual makanan. Untungnya pun jadi tak seberapa. Rata-rata per hari Tipa hanya mengantongi untung sekitar Rp 20.000.

“Jam 06.00 WIB itu Nak, saya sudah berangkat ke sekolah, jualan ala kadarnya. Yang beli ya anak sekolah itu. Ya lumayan, tapi yang jual juga banyak. Alhamdulillah rezeki tidak pernah tertukar Nak,” kata Tipa, Rabu 10 Juli 2019, malam.

Meski penghasilannya tak seberapa, Tipa tetap disiplin menabung untuk ongkos naik haji. Awalnya, sebelum ditinggal wafat suami, Tipa menabung bersama suami. Almarhum suami Tipa bernama Miskat. Penghasilan almarhum Miskat pun juga pas-pasan. Maklum, almarhum hanya Miskat hanya bekerja sebagai pengumpul kardus bekas.

Tipa mengingat, pertama kali ia mendaftar haji, ia dan almarhum suaminya menyetorkan uang sebanyak Rp5 juta kepada Saiful Bahri. Saiful Bahri adalah salah satu pemilik KBIH di Probolinggo. Uang itu ia kumpulkan bersama almarhum suami bertahun-tahun.

Sampai tiba waktunya, Miskat pun memberanikan diri mendaftar haji. Akhirnya, panggilan untuk menunaikan ibadah haji pun diterima. Tahun 2018, Miskat mendapat panggilan untuk menunaikan ibadah haji. Sayangnya, sesampainya di Embarkasi Surabaya, Miskat dipulangkan ke Probolinggo karena sakit. Selang beberapa hari, suaminya itu pun meninggal dunia. Hajinya pun dibadalkan oleh pihak KBIH.

Mata Tipa pun kembali berkaca-kaca, mengingat perjuangan almarhum suaminya itu dalam menabung untuk haji. Masih melekat di ingatannya betapa besar pengorbanan almarhum suaminya untuk berhaji.

“Bapak itu Nak, sering nahan lapar kalau kerja. Tak mau makan di luar, di warung, tak mau Nak. Bapak itu mau kelaparan, makannya pas di rumah. Alasannya, katanya eman uangnya, mending untuk nabung haji,” kata Tipa.

Tipa masih ingat betul. Ia pun menceritakan betapa keras perjuangan almarhum suaminya dalam menabung uang sedikit demi sedikit untuk berhaji.

“Kalau kami punya uang hanya Rp20ribu, bapak rela pergi ke rumah Pak Saiful melewati tiga kecamatan dan pakek sepeda ontel yang di belakangnya ada kardusnya Nak. Uang Rp20ribu itu juga kadang recehan Rp 1000-2000,” ujar Tipa.

Tipa juga bercerita, dalam menabung untuk ongkos naik haji, tentu saja tak selalu mulus. Ada banyak godaan. Misalnya saja, tiba-tiba ada kebutuhan tak terduga. Satu hal yang lumrah dalam rumah tangga. Tapi Tipa tak mau menyerah dengan kebutuhan tak terduga itu. Dia lebih memilih melego perhiasannya, daripada menganggu tabungan hajinya.

“Sering nak, cincin sama gelang saya jual untuk bisa nabung di bank. Ndak sedih saya nak. Saya malah sedih kalau ndak bisa nabung ke bank untuk haji ini,” kata Tipa.

Sembari berdzikir menggerakkan tasbih, Tipa berusaha bercerita rahasia ia dan almarhum suaminya begitu kuat ingin berhaji. Ia mengaku sering menunggu, sepertiga malam yang dipercayanya merupakan waktu yang sangat berarti.

Di waktu-waktu itulah ia dan almarhum suami memanjatkan doa, mengadu kepada Alloh. Nyatanya, hal itulah yang membuat Tipa kuat dengan segenap kenyataan yang ada.

“Jam 03.00 WIB itu bangun Nak, mandi terus solat tahajud. Dilanjut sampai subuh. Ya Allah ya Rabbi, senangnya Nak, damai hati . Di waktu-waktu itulah, langit terbuka untuk doa-doa kita,” kata dia.

Saat ditanya, doa apakah yang dipanjatkan kepada Alloh  ketika beribadah haji nanti. Tipa menjawab sederhana. Dia tak ingin minta muluk-muluk kepada Alloh. Dia hanya butuh bekal untuk pulang ke rahmatullah.

“Orang hidup itu pasti pulang nak, pulang ke rahmatullah, kita butuh sangu (bekal). Sangu itulah yang saya siapkan nak,” ujar Tipa sambil meneteskan air mata.

Kini, Tipa yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 14 ini telah diterbangkan ke tanah suci pada Kamis 11 Juli 2019, pukul 06.30 WIB pagi tadi.

Penulis : Farid Rahman
Editor : Moch. Amir


Bagikan artikel ini