Bagian IIKiamat Tak Datang dalam Tiga Bulan, Ada Jemaah yang Akan Pulang

20 Mar 2019 15:21 Feature

Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadiin mendadak ramai diberitakan berbagai media. Warga sekitar menyebut pondok ini dengan sebutan Pesantren MFM. Pesantren ini menjadi beken karena dianggap mempunyai ajaran “berbeda”. Mulai fatwa datangnya kiamat, hingga akan terjadi kemarau panjang selama tiga tahun mulai 2019 hingga 2021.

Isu yang beredar, pesantren ini meyakini akan datang kemarau panjang. Akibat kemarau panjang, akan terjadi paceklik. Jemaah pun diminta menyetorkan gabah per orang 500kg ke pondok. Selain itu ada juga yang menyebut jika jemaah diminta menjual aset berharganya dan hasilnya diberikan kepada pesantren.

Ada pula isu soal senjata untuk persiapan perang. Gerakan menjelang tahun politik, hingga perintah memotong tangan anak untuk bekal logistik menjelang kiamat.

Reporter ngopibareng.id Fajar Dwi Ariffandi menelusuri lebih lanjut perihal semua isu yang beredar. Caranya, dengan melihat langsung kegiatan Pesantren MFM. Berikut laporan bagian kedua.

***

Sore hari menjelang maghrib, Rabu 15 Maret 2019, banyak orang lalu lalang mengenakan pakaian putih-putih. Berbagai jenis kendaraan juga nampak mengisi setiap lahan kosong di sekitar pesantren.

Di pintu masuk pesantren, seorang pemuda bernama Ulum menemui kami dan menanyakan tujuan kami datang. Ulum baru mempersilakan masuk setelah, setelah mendapat izin dari kepala keamanan.

Seperti pesantren pada umumnya, MFM memiliki beberapa aturan khusus. Selain demi keamanan, aturan dibuat agar area pondok tetap kondusif untuk kegiatan ibadah. Penggunaan barang elektronik juga dibatasi. Tanpa seizin keamanan, pengunjung dilarang mengambil gambar di area pesantren. Aturan tersebut tertempel di beberapa sudut area. Para santri juga tidak diperbolehkan membawa seluler.

Di area pesantren saat ini tidak hanya dihuni oleh para santri. Ada banyak warga dari berbagai daerah yang memilih tinggal di sini. Salah satunya adalah Ngatimun 49 tahun, dari Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Ponorogo.

Di daerah asalnya Ngatimun menjadi pemimpin Thariqoh Akmaliyah Ash-Sholihiyah. Kepergiannya sebulan yang lalu, membuat 49 orang jemaahnya bimbang. Kemudian mereka memutuskan menyusul Ngatimun ke Sukosari, Kasembon, Kabupaten Malang.

Yang menjadi heboh, sebelum para jemaah tersebut pergi, sebagian dari mereka menjual rumahnya. Ngatimun tidak tahu dengan kasus tersebut. Pada waktu kejadian, Ngatimun sudah ada di pesantren MFM.

Bilik terbuat triplek yang dibuat para jemaah di Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadiin Foto Fajarngopibarengid
Bilik terbuat triplek yang dibuat para jemaah di Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadiin. (Foto: Fajar/ngopibareng.id)

Saat ini, Ngatimun menempati sebuah bilik yang terbuat dari triplek, bersama istri dan kedua anaknya. Jemaah yang lain juga menempati tempat serupa dan ada juga yang mengontrak rumah di daerah sekitar pesantren.

Terkait isu penyebar fatwa kiamat yang disematkan padanya, Ngatimun tak mau ambil pusing. “Saya ke sini niatnya ibadah,” ujarnya.

Pasalnya ini bukan pertama kali Ngatimun datang ke pesantren MFM. Anak pertamanya sudah dua tahun menjadi santri di sini. “Kebetulan, sekarang itu ada program triwulan. Dari bulan Rajab, Ruwah sama Ramadhan,” kata dia.

Program ini diadakan sesuai kajian jemaah bersama Gus Ramli mengenai pertanda akhir zaman. Mereka meyakini sesuai hadist, bahwa akan ada hujan meteor di bulan Ramadhan. “Tapi ramadhan yang kapan kan gak tahu? Gak ada salahnya kalau kita siap-siap,” kata dia.

Saat ditanya seandainya ramadhan tahun ini belum kiamat, apakah Ngatimun akan kembali ke Ponorogo, ia menjawab tidak tahu. Dia nyaman tinggal di Pesantren MFM bersama keluarga dan jemaah thoriqoh lainnya. Pesantren pun membebaskannya memilih untuk tinggal atau kembali ke kampung halaman.

Lain Ngatimun, lain Bisrin. Lelaki asal Tuban ini baru sekitar dua mingguan tinggal di Pesantren MFM ini. Bisrin tidak sendiri. Ia bahkan memboyong keluarganya untuk tinggal di Pesantren MFM ini. Tapi berbeda dengan Ngatimun, Bisrin mengatakan jika setelah tiga bulan sejak ia pindah ke Pesantren MFM ini kiamat tak terjadi, dia bakal pulang ke kampung halamannya.

Gus Ramli: Kami Sudah Sering Difitnah

Mengenakan jubah putih dan blankon, Gus Ramli memimpin ratusan jemaah majelis salawat Musa AS untuk bersalawat. Sembari mengibarkan bendera merah putih, para jemaah nampak khusyuk melantunkan salawat.

Menurut salah seorang jemaah yang berasal dari Kediri, Kamis malam 14 Maret 2019 jemaah yang hadir tidak sebanyak agenda rutinan salawat sebelum-belumnya. “Biasanya sampai ribuan,” kata lelaki yang bertugas di bagian logistik tersebut.

Gus Ramli mengatakan kalau dirinya sempat bersedih atas banyaknya tuduhan yang ditimpakan pada dirinya terlebih pesantren yang telah lama didirikan oleh ayahnya ini. Tapi, dia terus memberi semangat kepada jemaahnya untuk ikhlas menghadapi segala cobaan.

“Dengan fitnah yang ditujukan kepada kita, derajat kita dinaikkan oleh Allah SWT,” serunya kepada ratusan jemaah.

Gus Ramli tidak menyalahkan jika majelis salawat yang ia pimpin selama ini disebut “Salawat Pesugihan”. Baginya, bukanlah masalah jika orang melakukan pesugihan atau dalam pengertian sederhana ingin cepat kaya. Asal jalan yang ditempuh tidak melenceng dari agama. Salah satunya dengan memperbanyak salawat.

Dia juga mencontohkan, agar jemaah rajin memberi sedekah kepada masing-masing ibunya. Alumni Pesantren Lirboyo ini mengatakan, “Saya di pagi hari itu tidak akan makan atau pun merokok sebelum menyedekahi ibu saya sendiri”.

Laku sedekah juga menjadi salah satu alasan kenapa majelis salawat yang dipimpinya diberi nama Musa AS. Menyiratkan pesan dari laku Nabi Musa yang rajin sedekah.

Terkait tuduhan bahwa dirinya telah membuat fatwa kiamat. Dia mengungkapkan bahwa dirinya hanya menyebutkan sepuluh tanda kiamat, salah satunya adalah datangnya meteor. “Nabi Muhammad saja gak tahu kok kapan kiamat, apalagi saya,” terangnya.

Dia juga menyampaikan kalau tidak pernah sekali pun membujuk jemaahnya untuk datang. Termasuk menjual semua aset jemaah agar diberikan kepada dirinya. Pesan tersebut juga ia sampaikan kepada jemaahnya seusai salawat berjamaah.

“Anda-anda semua kalau memang tidak berkenan ke sini ya silakan. Tidak ada yang maksa.”

Tuduhan lain yang juga sempat menimpa dirinya adalah perintah kepada jemaah membeli pedang seharga Rp 1 juta. Dia pun memerintahkan siapa saja untuk memeriksa kepada pedang-pedang yang dimaksud. “Ada satu senjata di pos, itu penjalin (rotan),” terangnya sambil tertawa.

Kata Gus Ramli, isu miring yang menerpa pondok pesntrennya sebenarnya bukan hanya kali ini saja. Gus Ramli menceritakan kalau sejak awal berdirinya pesantren MFM, fitnah sering datang.

“Seingat saya ada lima fitnah yang besar, termasuk kasus yang menimpanya kali ini,” terangnya.

Dia pun sudah menyelidiki pihak-pihak yang telah menfitnah dirinya tapi dia enggan memperkeruh keadaan. “Selama ini tuduhan yang datang hanya membuat kami semakin besar,” tutupnya sambil menawarkan kami secangkir kopi.

Kapolres Kota Batu AKBP Budi Hermanto sebelumnya juga sudah mengeluarkan keterangan. Kata dia pihak Kepolisian telah melakukan pemeriksaan menyeluruh terkait semua dugaan yang ditujukan kepada Pesantren MFM. Hasilnya nihil. Kepada wartawan Budi mengungkapkan hasil temuannya.

"Kita mencoba mendalami dan melihat langsung ponpes ini. Menurut cerita, agak miris tapi ini masih layak sekali sebagai pesantren,” ujar Budi Hermanto. (Habis)

Penulis : Fajar Dwi Ariffandhi
Editor : Moch. Amir


Bagikan artikel ini