Gus Zaki bersama Ulil Abshar Abdalla, Moh Nuh, dan Arif Afandi, CEO Ngopibareng.id. (Foto: dok/Ngopibareng.id)

Gus Zaki di Mata Ulil Abshar Abdalla: Kiai yang Rendah Hati

Khazanah 02 July 2020 08:05 WIB

Intelektual Muslim, Ulil Abshar Abdalla, mengaku bersedih dengan wafatnya KH Muhammad Zaki Hadzik. Menurutnya, Gus Zaki adalah seorang alim muda dari Tebuireng, cucu Mbah Hasyim Asy'ari.

Memang, wafatnya KH Muhammad Zaki Hadzik, Pengasuh Pesantren Al-Mashruriyah Tebuireng Jombang, mengejutkan banyak pihak. Baik kalangan pengasuh pondok pesantren, maupun jajaran Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.

Gus Zaki adalah Ketua PW Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) PWNU Jawa Timur. ini mengembuskan nafas terakhir, Rabu 1 Juli 2020. Jenazah akan dimakamkan Tebuireng Jombang.

Gus Zaki wafat karena sakit DBD yang dideritanya. Gus Zakki adalah Pesantren Al-Mashruriyah Tebuireng. Pesantren ini tepat berada di depan Pondok Tebuireng. Gus Zaki adalah putra Kiai Hadzik dan putri Bu Nyai Khodijah Hasyim Asy'ari.

Ngopibareng.id, bersama CEO-nya, Arif Afandi, pernah mempertemukan Ulil Abshar Abdalla dan Gus Zaki dalam satu forum Ngopi Darat Ngaji Kitab Ihya Ulumuddin, yang dihadiri Moh Nuh, Ketua Dewan Pers dan Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (Yarsis) di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa).

Berikut kesan-kesan Ulil Abshar Abdalla, pengampu pengajian online Kitab Ihya Ulumuddin:

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Saya amat sedih mendengar kabar wafatnya seorang alim muda dari Tebuireng, cucu Mbah Hasyim Asy'ari -- Gus Ahmad Zaki Hadziq, atau sering dipanggil Gus Zaki. Beliau wafat kemaren, Rabu 1 Juli 2020.

Saya tidak begitu sering "srawung" dengan Gus Zaki, tetapi saya lebih dekat dengan, dan mengenal kakaknya yang juga meninggal dalam usia muda -- Gus Ishom Hadziq.

Ulil Abshar Abdalla dan Gus Zakki Hadzik saat di Unusa Foto DokNgopibarengidUlil Abshar Abdalla dan Gus Zakki Hadzik saat di Unusa. (Foto: Dok/Ngopibareng.id)

Di Tebuireng, dulu, Gus Ishom digadang-gadang sebagai "titisan" dan pengganti Gus Dur karena kecerdasan dan keluasan bacaannya (dia bahkan membaca dengan sangat baik buku-buku filsuf dan pemikir Mesir, Hassan Hanafi, pemikir yang juga dikagumi oleh Gus Dur). Enam bulan sebelum Gus Ishom wafat, saya bertemu beliau dalam sebuah acara di Pesantren Tegalrejo, Magelang -- pesantren di mana Gus Dur dulu pernah mondok sebelum pindah ke Yogya.

Terakhir, saya bertemu dengan Gus Zaki pada 2018, dalam acara Kopdar Ihya' di Unusa (Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya). Beliau hadir di sana sebagai pembahas. Saya sangat terkesan dengan pembawaannya yang amat rendah hati, mengingatkan saya pada Gus Ishom dulu.

Gus Zaki pergi terlalu cepat dan dalam usia yang masih muda. Bagi warga pesantren, para pecinta Kitab Kuning, dan warga Nahdliyin secara umum, ini jelas kehilangan yang amat besar.

Selamat jalan, Gus. Selamat bergabung dengan rombongan para "kinasih Allah": Mbah Hasyim, Kiai Wahid, Gus Dur.

Sekian.

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

14 Aug 2020 08:10 WIB

Hari ini, Presiden Sampaikan Pidato Kenegaraan di Sidang MPR

Nasional

Pidato kenegaraan disampaikan dalam sidang tahunan MPR RI.

14 Aug 2020 06:06 WIB

Jangan Terbawa Arus Mainstream yang Buruk

Islam Sehari-hari

Pesan khusus KH Husein Muhammad

14 Aug 2020 05:00 WIB

Populer Saat Covid-19, Ini Penjelasan Resesi

Ekonomi dan Bisnis

Resesi banyak disebut selama pandemi Covid-19.

Terbaru

Lihat semua
14 Aug 2020 05:00 WIB

Populer Saat Covid-19, Ini Penjelasan Resesi

Ekonomi dan Bisnis
14 Aug 2020 04:56 WIB

Singkirkan Atletico Madrid, RB Leipzig Cetak Sejarah

Liga Champions
Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...