Kiai Ma`ruf: Waspadai Upaya Mengganti Idiologi Bangsa

21 Mar 2019 14:25 Politik

Calon Wakil Presiden (Cawapres) Prof. DR. KH. Maruf Amin melakukan silahturahim dengan Jaringan Kiai Santri Nasional dan Aliansi Masyarakat Kalimantan Timur di Hotel Novotel Balikpapan, Kamis (21/03) pagi. Silahturahim tersebut dihadiri para tokoh lintas agama, serta ratusan relawan untuk mendukung pasangan nomor urut 01. 

Kiai Maruf Amin hadir didampingi istrinya, Nyai Hj. Wury Estu Handayani yang langsung disambut para relawan. Kegiatan ini merupakan rangkaian safari politik pertama di Balikpapan Kalimantan Timur, pada sore nanti akan dilanjutkan ke Banjarmasin. 

Kiai Maruf Amin menuturkan, dirinya bersama Presiden Jokowi ingin membuat Indonesia, sehat, produktif dan berakhlak mulia. Pada saat ini pemerintahan Jokowi-JK telah membuat landasan kebijakan untuk pembangunan bangsa, karena itu pada periode ke depan landasan yang sudah dibuat akan diperbesar dan disempurnakan lagi.

"Baru periode berikutnya kita naikkan lagi, kita maksimalkan lagi. Intinya menambah, memperbesar, melakukan penyempurnaan terhadap manfaat yang sudah diberikan," tuturnya. 

Kiai Maruf  mengatakan, jika dirinya dan Jokowi terpilih lagi maka pembangunan bangsa tidak dimulai dari nol atau awal. Tetapi, pembangunan, khususnya di bidang sumber daya manusia (SDM) akan dilanjutkan.

"Semua pembangunan akan dilanjutkan, pada periode berikutnya dengan ditingkatkan," katanya. 

Kiai Maruf menambahkan, mengajak krpada semua untuk bisa mendukung agar meneruskan dan mempersiapkan. Melakukan konsolidasi dan serangan yang tepat, dengan menyakinkan orang dari rumah ke rumah.

"Mewariskan sesuatu yang bernilai untuk generasi yang akan datang," tambahnya. 

Lanjut Kiai Maruf, banyak orang ingin melakukan gerakan radikal, bahkan menggunakan politik sebagai sebagai kendaraan untuk memecah belah bangsa. Padahal, negara yang sudah kondusif,  sehingga lahir NKRI, ini akan dirusak dan diganti dengan yang lain. 

"Tanpa keutuhan bangsa kita tidak bisa membangun, contohnya Afganistan padahal negara yang kaya karena perang selama 40 tahun jadi miskin," tegasnya. (ist)

Reporter/Penulis : Rohman Taufik


Bagikan artikel ini