Gus Dur dan Fachry Ali. (Foto: Ilustrasi fa vidi/Ngopibareng.id)

Kiai Abdurrahman Wahid, Fachry Ali dan NU ‘Cabang HMI’

Humor Sufi 08 July 2020 07:07 WIB

Fachry Ali memang di antara pengamat sosial politik yang kritis. Sebelum figur Mahrus Irsyam dari UI berkonsetrasi mengamati perkembangan NU, Fachry Ali ternyata lebih dulu memperi perhatian pada perkembangan organisasi Islam yang berdiri sejak 1926 ini.

Memang, Mochtar Naim yang kemudian lebih dikenal sebagai antropolog "Merantau: Pola Migrasi Suku Minangkabau", pun pernah menulis tesis soal NU, berjudul "The Nahdlatul Ulama as a Political Party, 1952-1955: An Enquiry into the Origins of Its Electoral Succes" (Tesis MA, di McGill University 1960). Tapi, Mahrus Irsyam-lah lebih akrab di kalangan NU dan orang kampus dengan karyanya "Ulama dan Partai Politik".

Nah, Fachry Ali yang seorang putrannya berkesempatan belajar di luar negeri dan aktif di PCINU Jerman, mempunyai hubungan baik dengan Gus Dur. Dalam kaitan ini, setiap menulis Fachry Ali selalu menekankan sebutan Kiai Abdurrahman Wahid, sedang secara pribadi memanggung sang tokoh "Cak Dur" dan bukan "Gus Dur".

Kali ini, Fachry Ali melanjutkan kisahnya terkait Sejarah kecil (Petite Histoire) tentang KH Abdurrahman Wahid. "Kiai Abdurrahman Wahid, Saya dan NU ‘Cabang HMI’" berikut:

Sejak 1978, saya sudah menulis di Kompas. Sebagian besar tulisan saya —sebagai hasil penempatan saya di Jepara untuk pengembangan industri ukir-ukiran pada 1977-78 oleh LP3ES (Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial, Red) — adalah tentang pembangunan pedesaan dan industri kecil. Kiai Abdurrahman Wahid sudah aktif di LP3ES, sebagai konsultan Program Pengembangan Pesantren yang dikelola Abdullah Sjarwani.

Suatu hari, Kiai Abdurrahman Wahid bertanya apakah saya sudah membaca tulisan antropolog Jepang Mitsuo Nakamura tentang hasil Muktamar NU Semarang. ‘Belum,’ jawab saya. Dia tampak ‘kesal’ dan bertanya: ‘Bagaimana orang seperti kamu tidak membacanya?!’ Beberapa hari kemudian, Kiai Abdurrahman Wahid menyerahkan satu kopi tulisan antropolog itu.

Saya menyimak dengan seksama. Melalui Nakamura, saya ‘menemukan’ NU. Sejak itu, tulisan saya tentang NU cukup banyak di Kompas. Malah berseri.

Kalau boleh mengklaim, sayalah yang pertama dan persisten menulis tentang NU di harian terbesar Indonesia ini —sejak akhir 1970-an dan pertengahan 1980-an. Tentu dengan catatan-catatan kritis terhadap organisasi sosial terbesar di Indonesia ini.

Maka, suatu hari, Kiai Abdurrahman Wahid, datang kepada saya. Tampaknya, ia baru membaca tulisan saya tentang NU. Dan sang kiai berkata: ‘Fachry, saya ditanya orang NU tentang kamu.’ Saya bertanya balik:

‘Tentang apa pertanyaannya Cak Dur?’

Kiai Abdurrahman Wahid menyatakan bahwa kalangan NU itu bertanya: ‘Ini Fachry Ali NU cabang mana?’.

‘Nah,’ kata saya, ‘Cak Dur jawab apa?’

‘Saya jawab saja, Fachry Ali adalah NU Cabang HMI.’

Nah!

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

24 Sep 2020 01:00 WIB

Sejarah Baru, Pilwalkot Semarang Diikuti Calon Tunggal

Pilkada

Pilwalkot Semarang akan diikuti calon tunggal untuk pertama kalinya.

24 Sep 2020 00:43 WIB

Penangguhan Penahanan, Vicky Prasetyo Bayar Jaminan Rp200 Juta

Gosip Artis

Kebebasan Vicky Prasetyo tidak gratis. Dia bayar uang jaminan Rp200 juta.

24 Sep 2020 00:14 WIB

Masker Kain Standar SNI untuk Lawan Covid-19

Nasional

Masker kain untuk lawan Covid-19 harus berstandar SNI.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...