Khofifah Berikan Kuliah Revolusi Mental Maba UNUSA

28 Aug 2018 19:06 Unusa Gateway

Gubernur Jawa Timur terpilih, Khofifah Indar Parawansa memberikan kuliah perdana kepada mahasiswa baru Universitas NU Surabaya (UNUSA), Selasa, 28 Agustus 2018.

Di hadapan sekitar 1.234 mahasiswa baru, Khofifah memberikan materi revolusi mental. Sebelum dimulai, Khofifah mengajak mahasiswa baru UNUSA menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan diiringi tampilan slide foto-foto Timnas Sepak Bola U-16 yang menjadi juara pada ajang Piala AFF 2018.

Usai menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia, beberapa slide ditampilkan diantaranya adalah tampilan seorang dokter asal Malang yang memberikan layanan kepada warga miskin dengan dibayar sampah plastik.

"Menurut adik-adik apa yang bisa diambil hikmah dari kegiatan dokter tersebut? tanya Khofifah kepada mahasiswa. Seorang mahasiswi mengacungkan jarinya dan maju untuk menjawab pertanyaan salah satu anggota dewan pembina UNUSA ini.

Dengan lantang mahasiswi itu menjawab pertanyaan Khofifah sambil diiringi sorakan mahasiswa lain. Suasana menjadi riuh saat Khofifah mendekati semua mahasiswa baru yang mayoritas perempuan itu.

Mantan Menteri sosial ini emberikan materi kuliah bertema "Membumikan Gerakan Nasional Revolusi Mental". Materi ini sekaligus pengarahan mahasiswa baru di UNUSA.

Khofifah mengungkapkan, revolusi mental ini adalah warisan pendiri negeri ini, Soekarno. Ada tiga hal yang perlu dilakukan yakni berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara budaya.

"Revolusi mental dapat dilihat pada tahun 1963, saat Bung Karno menyebutkan jika Indonesia punya 'pekerjaan rumah' (PR) pasca kemerdekaan. Menurut Bung Karno, PR kita adalah investasi revolusi mental yang beliau bangun lewat tiga karakter itu," ujar Khofifah.

Khofifah juga menjelaskan satu persatu mengenai tiga karakter tersebut. Berdaulat secara politik, Indonesia mengatakan saat ini Indonesia sedang meraihnya.

Lalu berkepribadian dalam kebudayaan adalah bagaimana tetap mempunyai pribadi yang menjunjung tinggi nilai budaya di tengah gempuran intervensi budaya.

"Kalau berdikari secara ekonomi, bukan berarti kita tidak membangun partnership dengan berbagai negara luar. Selain itu juga membangun kondisi ekonomi kuat serta kemandirian ekonomi yang kuat," kata Khofifah. (adv/wit)