KH Ishomuddin, Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). (foto: ist)

KH Ishomuddin: Pembinaan Perempuan Bercadar Harus Penuhi Rasa Keadilan

Khazanah 07 March 2018 10:44 WIB

Pembinaan mahasiswi bercadar dari ideologi radikal itu bagus. Tetapi pembinaan tersebut juga harus dilakukan terhadap para mahasiswa secara keseluruhan untuk memenuhi rasa keadilan. Karena radikal itu dari cara berpikirnya yang keliru kemudian sikapnya yang bertentangan.

Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin mengungkapkan hal itu, dalam keterangan diterima ngopibareng.id.

“Kalau radikal dalam artian kita harus bepikir mendasar dan mendalam memang kita harus melakukannya, tetapi jangan radikal dalam artian terlalu sempit dalam memahami agama, melakukan pemboman, dan perilaku tidak berperikemanusiaan lainnya,” urai Kiai Ishom.

Kalau memungkinkan para mahsiswi tersebut bisa diterima, sambungnya, tetap harus diterima. Lalu kemudian kampus melakukan penyembuhan terhadap para mahasiswi yang terindikasi radikal dari ideologi dan sikap radikalnya.

“Jangan kemudian serta merta ditolak, lalu mereka kembali bergabung dengan kelompok radikal sehingga menyebabkan mereka semakin radikal,” terang kiai yang juga dosen UIN Raden Intan Lampung ini.

Ia tidak memungkiri, bercadar merupakan hak asasi para mahasiswi di sebuah perguruan tinggi. Tapi persoalannya seringkali mereka terlalu eksklusif (tertutup). Kelompok bercadar ini juga kerap membuat sekat terhadap kelompok yang tidak bercadar.

“Sekat-sekat inilah yang menimbulkan perpecahan dan bahayanya lebih besar daripada bercadar itu sendiri. Jadi perlu bijak menangani mereka yang bercadar maupun yang tidak bercadar,” jelasnya, dirilis resmi nu-online.

Kiai Ishom menyatakan, kebijakan peninjauan kembali terhadap mahasiswi bercadar perlu dilakukan. Di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta banyak para akademisi, ilmuwan, tidak sedikit lulusan pesantren, bahkan keilmuannya sekelas para kiai.

Apakah mahasiswi boleh bercadar atau tidak, lanjutnya, tentu mereka sudah melalui berbagai pertimbangan. Ia menegaskan, jangan sampai perguruan tinggi di Indonesia menjadi sarang dari kegiatan radikalisme.

“Meskipun belum tentu semua orang yang bercadar itu radikal,” tandas Kiai Ishom. (adi)

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

08 Aug 2020 21:42 WIB

Kepemimpinan Ganjar Dinilai Penuh Inspirasi

Nusantara

Penilaian disampaikan Helmi Yahya.

08 Aug 2020 15:59 WIB

Sinopsis Exposed: Misi Keanu Reeves Ungkap Dalang Pembunuhan

Film

Exposed mengungkap dalang pembunuhan.

08 Aug 2020 10:42 WIB

Anies Baswedan: Pemprov DKI Jangan Lagi Belanja Toa

Nusantara

Toa tidak termasuk sistem peringatan dini banjir.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...