KH Ahmad Mustofa Bisri bersama KH Said Aqil Siroj di Rembang. (Foto: gm-channel)

Ketika Membaca “Iyya kanasta’iin” 11 Kali, Doa Mustajab Gus Mus

Khazanah 09 June 2020 06:12 WIB

KH Ahmad Mustofa Bisri, Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibiin, Rembang, selalu tampil tenang dan berwibawa. Doa-doa selalu ditunggu umat.

Ada yang istimewa dari Gus Mus ketika berdoa, dengan mengajak membaca Al-Fatihah. Ketika sampai pada ayat Iyya kanasta’iin, Gus Mus mengajak jamaah untuk mengulangi hingga 11 kali. Pada saat itulah, hajat masing-masing jamaah ditautkan dalam hati.

"Insya Allah doa kita sekalian dikabulkan Allah Subhanahu wa ta'ala. Sesuai janji Allah sendiri. Ini ijazah yang saya terima dari Kiai Muhammad Munawwir, alahyarham, Guru saya," tutur Gus Mus, saat Halal Bihalal virtual jamaah Ngaji Ihya yang diasuh KH Ulil Abshar Abdalla, belum lama ini.

Terkait hal itu, Lies Marcoes Natsir, aktivis yang juga mengikuti Halal Bihalal virtual itu, menulis catatan bertajuk Merebut Tafsir: Ketika Membaca “Iyya kanasta’iin” 11 Kali. Berikut catatannya:

Pada 5 Juni 2020 malam, saya mengikuti acara Halal Bihalal “Ngaji Ihya” yang diampu sahabat hati saya, Gus Ulil Abshar Abdalla dan Mbak “admin” Ienas Tsuroiya. Acara ini sangat meriah, hampir 300 orang hadir. Acara diisi sejumlah testimoni baik dalam bentuk video maupun kesaksian langsung para terundang. Kesaksian-kesaksian yang sangat jujur betapa berartinya acara Ngaji Ihya itu bagi mereka. Sejak pembukaan, saya terus terang menikmatinya sambil berefleksi diri.

Minggu lalu saya menulis sebuah artikel panjang didasarkan review buku Gendered Morality karya seorang Muslim feminis keturunan India Amerika, Prof. Zahra Ayubi. (Lihat: Mengapa Perempuan (Masih) Bertahan dalam (Epistimologi) Islam, Islami.co 29 Mei 2019).

Tulisan itu , saya akui merupakan sebuah bentuk keheranan, jika tidak hendak dikatakan gugatan, atas tidak diperhitungkannya kehadiran perempuan dalam bangunan -bangunan epistimologi Islam, termasuk tasawuf !.

Inti tulisan itu menjelaskan bahwa seluruh subyek bangunan epistimologi Islam itu lelaki, untuk lelaki. Ini bukan berarti perempuan tidak dibahas namun mereka diletakan sebagai obyek untuk mengatur bagaimana seharusnya lelaki bersikap dan bertingkal laku kepada sang obyek.

Maka secara kritis kita dapat melihat bagaimana perempuan diposisikan sejak lahir sampai ia mati semuanya demi kehadiran dan kesempurnaan ahlak lelaki.

Bagaimana cara lelaki mau mengawini perempuan, misalnya? Bagaimana jika bapaknya tidak ada akibat perceraian. Hukum perkawinan Islam menetapkan sang bapak harus dicari dulu jika perlu sampai ke liang semut sampai terbukti ia tak diketahui rimba dan kuburnya. Dan manakala dinyataan “gaib” kayak dedemit, alih-alih meminta sang ibu yang jelas-jelas mengandung, melahirkan, mengurusnya hingga sang anak siap dinikahkan, sebagai walinya, hukum Islam meminta siapa saja lelaki dari pihak bapak, atau bahkan sembarang lelaki asal telah ditunjuk negara, dapat bertindak sebagai wali sang anak perempuan, padahal kenal pun belum tentu, kebanyakan malah tak kenal sama sekali !.

Bangunan epistimologi Islam mengatur dengan sangat rinci bagaimana cara lelaki membangun ahlak/etikanya dalam cara mendekati, menggauli, memberi nafkah, memberi pakaian, bersikap, memerintahkan, mewakilkan, mau menceraikan, mau mempoligaminya, membagi warisnya, dan seterusnya.

Tawaran etika Islam adalah lelaki harus berbuat baik, harus duperlakukan adil, harus maslahah. Namun karena pengalaman perempuan tak dikenali oleh sang subyek, karenanya konsep maslahah sebagai tujuan itu hanya didasarkan pada stadar dan parameter yang membangunnya (lelaki). Dan itu terjadi untuk semua tema dalam bangunan epistimologi Islam sejak fiqih, kalam, politik sampai tasawuf yang semula dianggap sebagai the last resort tempat bersemayamnya konsep tentang sifat feminin Tuhan disajikan tanpa malu-malu. Itu pun toh sama saja.

Namun anehnya, sebegitu rupa (pengalaman) perempuan tak dianggap dalam bangunan epistimologi Islam, para kenyataannya mereka tetap bertahan di dalamnya. Agaknya epistimologi Islam yang basisnya rasionalitas tak mengenali magma yang secara inheren ada dalam agama, yaitu soal rasa. Unsur afeksi, kehangatan, kepasrahan yang muncul dalam pengalaman beragama merupakan tali yang diikatkan pada tubuh dan pengalaman perempuan sehingga mereka teguh kukuh bertahan di dalam dan bersama Islam.

Malam kemarin, dalam acara Halal Bihalal Ngaji Ihya itu, unsur rasa itulah yang menyelimuti keseluruhan acara. Saya menyaksikan para peserta berulang kali mengusap (air) mata dan pipi. Dan saya merasakan puncaknya ketika Gus Mus memimpin doa. Gus Mus meminta agar ketika membaca Fatihah, pada frasa “Iyya kanasta’iin” (kepadaMulah hamba memohon pertolongan) diulang 11 kali dan masing- masing menyampaikan “kereteg” hatinya sendiri-sendiri.

Itu adalah rahasia masing-masing dengan Tuhan. Tapi di sini saya ingin membuka rahasia. Dalam 11 kali mengulang “iyya kanasta’iin itu saya ternyata hanya berdoa bagi perempuan-perempuan dalam hidupku: Ibuku yang mungkin ibadahnya tidak sempurna karena begitu banyak beban lahiriahnya sebagai ibu, istri, pengusaha, matriakh dalam keluarga besar; ibu angkatku yang mengajari cinta dan kasih sayang, kakak-kakak dan adik-adik perempuanku, para guru feminisku yang mengajari untuk "wani", para pengasuh- pembantu ibuku yang “nunut urip” namun mungkin banyak hak-haknya sebagai manusia terlanggar oleh ibuku.

Anak perempuanku Tasya Nadyana sahabat rasa, hati dan keluhan; menantu perempuanku Fadilla Dwianti Putri dan Thalita Nafitia Hiramsyah yang telah dan akan melahirkan cucu-cucuku dan akan menjadi tiang gatungan harapan; ibu mertuaku yang telah mengizinkan anak kesayangannya membagi kasih kepadaku, para ART rumah tanggaku sejak berkeluarga hingga kini yang benar-benar telah memungkinkan aku “menjadi” hingga sejauh ini.

Tak lupa aku memohon kesehatan keselamatan bagi diriku sendiri dan Ienas Mbak Admin yang memungkinan Ngaji Ihya bisa berjalan dan telah mengisi relung-relung batin para santrinya yang mungkin tak terpuaskan oleh bangunan Epistimologi Islam di luar tasawuf.

Kepada merekalah terselip doa dalam 11 kali mengulang kata “iyaa kanasta’iin”itu. Dan karena hanya 11, tak ada sisa untuk para lelaki dalam kehidupan saya, namun biarlah karena bukankah mereka telah dibela Tuhan? Al Fatihah #Lies Marcoes, 7 Juni 2020.

*) Sumber: Catatan pada akun facebook Lies Marcoes.

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

13 Aug 2020 16:30 WIB

Video Eggy Yunaedi Demo Speed Painting Wajah Multatuli

Seni dan Budaya

Eggy Yunaedi demo melukis cepat atau speed painting.

13 Aug 2020 16:10 WIB

Arema Cari Pelatih Baru yang Bisa Tangani Tim sampai Musim Depan

Liga Indonesia

Manajemen sudah sodorkan nama pelatih baru ke jajaran direksi.

13 Aug 2020 16:00 WIB

Ini Prestasi 2 Politikus Penerima Bintang Mahaputera Nararya

Politik

Tak banyak yang mengungkap prestasi dua tokoh penerima bintang jasa ini.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...