Keselamatan Jiwa dan Dikucilkan Keluarga Menjadi Taruhan Mualaf

30 Apr 2019 09:50 Human Interest

Menjadi seorang mualaf ternyata tidak semudah yang dibayangkan oleh banyak orang. Tak sekedar bersahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Kemudian menjalankan rukun Iman enam perkara dan rukun Islam seperti salat, puasa, zakat, dan melaksanakan ibadah haji.

Bagi seorang mualaf semuanya itu belum cukup, masih ada yang harus dipertaruhkan, yakni keselamatan Jiwa kehilangan harta benda, jabatan hingga dikucilkan oleh keluarga sendiri.

Almarhumah Dellin adalah salah satu contoh seorang muaalaf Masjid Agung Sunda Kelapa Menteng Jakarta Pusat yang mengalaminya. Mualaf kelahiran 4 Nopember 1984 ini dikucilkan oleh keluarga sampai akhir hayatnya. Saat meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta 7 Agustus 2016, tak satupun keluarga yang datang, selain mualaf Sunda Kelapa, yang mengurus sampai pemakamannya.

Jenazah Dellin sempat menjadi rebutan ketika disemayamkan di rumah duka RSPAD Gatot Subroto. Ada yang meminta Dellin dimakamkan secara Nasrani. Namun, Ketua Pembina Mualaf Sunda Kelapa, Anwar Sujana, menolak permintaan itu. Dellin harus dimakamkan menurut syariat agama Islam karena dia seorang muslimah.

Setelah diadakan musyawarah, pihak yang menghendaki Dellin dimakamkan menurut aturan gereja, akhirnya setuju Dellen dimakamkan seca menurut agama Islam, dengan catatan teman Dellin yang pernah satu Gereja, diperboleh berdoa menurut agamanya. "Ini jalan tengah yang terbaik," kata Anwar Sujana, kala itu.

Suka duka seorang mualaf dituturkan oleh Agustinus Christoper Keynama. Ia merupakan pembimbing muaalaf Madjid Agung Sunda Kelapa. Nyong Ambon ini pernah mengalami kekerasan sampai tulang iganya patah. Masa sulit secara ekonomi juga sempat dilami sampai bertahun tahun.

"Dari 20 ribu mualaf yang bersahadat di Masjid Agung Sunda Kelapa ini, sebagian besar mengalami tantangan yang sama," kata Keynama.

Sebelum Allah memberinya hidayah menjadi seorang muslim, Keynama adalah seorang pendeta yang pernah belajar Alkitab di Yerussalam dan negeri Belanda. "Waktu menjadi pendeta di Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) di Jakarta, hidup terjamin. Mendapat fasilitas rumah, mobil, dan gaji yang cukup besar. Satu lagi sebagai pendeta tentu menjadi kebanggaan keluarga," kenang Keynama.

Tapi falitas yang melekat pada dirinya semuanya dicabut pihak gereja, ketika Keynama memutuskan masuk Islam. Ia harus merangkak dari titik nol. Meski demikian, ia mengaku tetap bahagia, karena Allah menggantikannya dengan kenikmatan yang lain.

"Subhanallah, Allahu Akbar. Keluarga sakinah, banyak kenikmatan lain yang tidak bisa dituturkan dengan kata-kata," ucap Key sambil mengangkat kedua tagan lazimnya orang berdoa.

Pembimbing mualaf Masjid Agung Sunda Kelapa Menteng Jakarta Pusat Agustinus Christoper Keynama berdiri memberikan penjelasan kepada seorang mualaf Foto Asmanungopibarengid
Pembimbing mualaf Masjid Agung Sunda Kelapa Menteng Jakarta Pusat, Agustinus Christoper Keynama (berdiri) memberikan penjelasan kepada seorang mualaf. (Foto: Asmanu/ngopibareng.id)

Menurut Keynama, menjelang bulan suci Ramadhan kesibukannya bertambah. Biasanya banyak mualaf yang mengucapkan syahadat di Masjid Agung Sunda Kelapa dan memerlukan bimbingan keagamaan.

"Dalam satu setengah bulan terakhir ada sekitar 200 orang, separuh diantaranya warga negara asing. Ada warga AS, China, Jepang, Inggris, Australia, dan beberapa negara lainnya. Tiap hari Sabtu dan Minggu mereka berkumpul di Masjid Sunda Kelapa untuk belajar agama," ujar Keynama.

 

Salah satu mualaf yang baru mengucapkan syahadat, lajut Keynama, berasal dari Massachusett AS, Scott Annesi. Scott, 32 tahun resmi mualaf pada Minggu 28 April 2019. Sebelumnya, ia mengaku pobia Islam karena gencarnya pemberitaan miring tentang Islam yang dikabarkan identik dengan teroris dan radikalisme.

"Tapi setelah mencoba mempelajari Islam dengan akal sehat, dengan hati dan pikiran jernih, ternyata Islam tidak sekeras itu. Islam agama pembawa damai, rahmatan lil alamin. Saya berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberi hidayah menuju jalan yang lurus dan benar dalam Islam," kata Scott didampingi pasangannya.

 

Elyzabeth seorang mualaf asal Manado, mempunyai pengalaman lain ketika menjadi mualaf. Seluruh keluarganya tidak setuju. Untuk menghindari kegaduhan dalam keluarga, karyawati bank swasta yang tiggal di daerah Menteng ini harus sembunyi-sembunyi ketika menunaikan ibadah salat.

"Setiap selesai salat saya utamakan berdoa untuk kedua orang tua dan keluarga supaya Allah membukan hatinya, dan bisa mengikuti jejak saya menjadi Muslim," kata Elyzabet saat mengikuti bimbingan rohani di Masjid Sunda Kelapa.

Seberat apapun tantangan yang dihadapi para mualaf ini, mereka tetap berkeyakinan Allah akan menolongnya. (asm)

Penulis : Asmanu Sudharso
Editor : Yasmin Fitrida


Bagikan artikel ini