Pemakaman Handoko Sumahan dengan protokol covid, di pemakaman Kendangrejo, Bojonegoro hari Selasa kemarin. (Foto:Istimewa)
In Memoriam:

Keseimbangan Handoko Sumahan Sebagai Pelukis dan Pengusaha

In Memoriam 27 May 2020 15:14 WIB

Handoko Sumahan, 62 tahun, adalah seorang pengusaha sukses. Dia pemilik toko buku Sumber Agung di Jl AKBP M Soeroko, Bojonegoro. Boleh dibilang toko buku terbesar yang ada di kota ini. Dia juga pemilik PO Dali Mas, yang memiliki armada sekitar 60 bus. Dia juga karateka level tinggi yang berprestasi.

Tapi ayah dari dua anak ini juga seorang pelukis. Karya-karyanya luar biasa, baik yang menggunakan cat minyak maupun akrilik di atas kanvas. Satu lagi, dia adalah komikus. Karya komiknya terus mengalir dari tangannya yang ringan. Eskpresif, bergerak dan padat. Tokoh-tokohnya tegas, mirip Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes TH. Tapi Handoko sebenarnya adalah pengagum komikus Indonesia lainnya, Yan Mintaraga.

Handoko, secara mengejutkan hari Selasa kemarin meninggal dunia. Banyak teman-teman pelukis yang merasa kehilangan. Karena Handoko, aktivis gereja di Bojonegoro, adalah orang yang sangat ramah. Sekali saja orang berbincang dengan dia, akan terasa sudah saling mengenal bertahun lamanya. Ramah dan ringan tangan, sebagaimana ringannya tangan  saat menggambar atau melukis.

Karena itu, pada dinding akunnya di Facebook, sejak kemarin tak henti-henti kawan-kawannya menyampaikan perasaan duka cita. Tidak sedikit kawan yang memposting foto dirinya saat bersama Handoko. Ucapan duka hingga sore ini belum juga berhenti.

Handoko Sumahan meninggal Selasa siang pukul 11.30 di RSUD Bojonegoro, sorenya pukul 16.30 langsung dimakamkan di komplek pemakaman Kendangrejo, dekat dengan perbatasan Kabupaten Tuban. Pemakaman dilakukan dengan protokol pemakaman jenazah penderita  COVID-19.

Ojo Ndablek Pakai Maskermu Gambar komik karya Handoko Sumahan musim pandemik COVID19 yang diunggah 26 April 2020FotoFacebook Ojo Ndablek, Pakai Maskermu! Gambar komik karya Handoko Sumahan musim pandemik COVID-19 yang diunggah 26 April 2020.(Foto:Facebook)

Apakah Handoko Sumahan meninggal akibat covid? Wida, istri almarhum, juga bertanya-tanya. "Saya sendiri juga heran, masak suami saya terkena corona? Kok cepat sekali prosesnya, saya seperti tidak percaya," kata Wida kepada Ngopibareng, Rabu siang.

Wida menceritakan, tanggal 20 badan suaminya panas, segera saja dibawa ke rumah sakit terdekat yaitu RS Aisyiyah Bojonegoro. Dites darah, trombositnya sangat rendah sehingga dinyatakan demam berdarah.

Tanggal 24 Mei, pas hari ulang tahunnya ke 62, ketika trombositnya sudah kembali tinggi dan suhu badannya kembali normal, Handoko minta pulang karena merasa dirinya sudah sembuh. Sebelumnya di rumah sakit dia sempat menjalani rapid test dan dinyatakan negatif. Maka pulanglah dia, didampingi Wida, istrinya dan anak-anaknya.

"Tapi pada sore hari, dia mengeluh, dadanya merasa sesak. Semalaman dia merasa sakit sehingga tidak bisa tidur sampai pagi. Kasihan sekali dia. Keesokan harinya kami bawa ke RSUD Bojonegoro, dan ternyata dinyatakan positif covid. Nafasnya sesak, dan seluruh badannya terasa sakit.

Keesokan harinya, tanggal 26 Mei, dokter rumah sakit menyatakan kondisi suami saya sangat buruk, dan pukul 11.30 dia menghembuskan nafas terakhirnya," cerita Wida. Tuhan menghendaki dia.

Sebagai pelukis, Handoko Sumahan memiliki jam terbang yang lumayan. Puluhan kali mengikuti pameran bersama. Dia dalam beberapa tahun terakhir mengeksplore angsa yang dibuatnya dengan kesungguhan hati. Dengan media akrilik, dia Handoko juga mengeksplore keindahan tempat wisata Mount Huang di Tiongkok timur.

Di tangan Handoko, Mount Huang dijadikan obyek pada puluhan kanvasnya. Unik dan menarik. Dinding-dinding batu menjulang tinggi, menyentuh awan yang bergumpal di langit. Awan-awan itu meliuk-liuk seperti penari. Tarian awan inilah yang jadi ciri khas lukisan Handoko Sumahan tentang Gunung Huang, dengan media akrilik di atas kanvas. Nampak sekali bekas ketekunannya saat dia melukis obyek yang disenanginya ini.

Tetapi menggambar komik tetap dilakukan hampir setiap hari ketika hari sudah sepi. Beberapa komiknya bertema corona di upload ke Facebook, menjadi semacam catatan harian baginya.

Dengan memakai masker Handoko Sumahan menggambar diunggah 21 April 2020 FotoFacebook Dengan memakai masker, Handoko Sumahan menggambar, diunggah 21 April 2020. (Foto:Facebook)

Beberapa kali Handoko mengikuti even besar untuk pelukis yang setiap tahun digelar di Surabaya, yaitu Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI). Berlangsung di hall  JX Internasional, para peserta selama 10 hari menjaga booth atau lapak masing-masing. Saat malam hari, mereka juga tidur di lapaknya, meskipun pada kenyataannya mereka nyaris tidak pernah tidur karena lebih senang saling bercengkerama dengan membentuk kelompok-kelompok kecil.

Handoko Sumahan, termasuk mereka yang tidur di lapaknya. Suatu hari keluarganya datang dan mengajak Handoko tidur di hotel, tetapi ditolak karena dia merasa nyaman tidur di lantai bersama kawan-kawan pelukis.

"Saya bukannya tidak mampu tidur tiap malam di hotel. Tetapi saya benar-benar menikmati kehidupan bersama para seniman dari berbagai kota ini. Saya sangat bahagia berkumpul dengan teman-teman, seperti saudara dan keluarga sendiri,"katanya.

"Saya punya dua sisi, sebagai pengusaha dan sebagai seniman. Kehidupan harus seimbang, kita sendiri yang harus berusaha untuk mencari keseimbangan," kata Handoko Sumahan, beralasan mengapa dia memilih tidur beralas karpet di lapaknya, saat beberapa kali mengikuti PSLI.

Memperbanyak teman, menanamkan kebaikan kepada sesama, serta membantu teman yang sedang kesusahan serta perbuatan-perbuatan baik lainnya, semua bisa dibaca pada akun Facebook Handoko Sumahan, yang ditulis kawan-kawannya sebagai ungkapan perasaan kehilangan.

Handoko Sumahan telah pergi meninggalkan keluarga dan teman-temannya, meninggalkan kita semua, karena dia telah purna menemukan keseimbangan hidupnya. (m.anis)

Penulis : M. Anis

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

01 Oct 2020 00:15 WIB

Pasien Pertama Dunia yang Sembuh dari HIV, Meninggal

Internasional

Timothy Ray Brown sembuh dari HIV di tahun 2007.

30 Sep 2020 23:05 WIB

Hobi Memaki, Lima Burung Beo Hilang dari Kebun Binatang

Internasional

Burung beo memaki burung dan pengunjung.

30 Sep 2020 22:45 WIB

Operasi Yustisi di Pasuruan, 53 Warga Terkena Sanksi Denda

Ngopibareng Pasuruan

Sebanyak 53 warga didenda Rp50 ribu perorang.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...