Kesedihan Buya Syafi'i Ma'arif, Ini Harapan Terakhirnya

09 Jun 2019 06:09 Feature

Pria tua itu duduk diatas kursi di pinggir tembok. Mengenakan baju koko sederhana warna putih kecoklatan. Bercelana dan berkopyah hitam.

Ia tidak memilih di baris depan. Tapi di tengah dan pinggir. Biar tidak mengganggu orang lain yang juga menggunakan tempat tersebut.

Pria tua itu sudah ada di tempat itu sejak yang lain belum memenuhi baris atau saf yang ada. Tempat itu adalah Masjid Nogotirto Jogjakarta.

Siapa pria itu itu? Dia adalah Dr Ahmad Syafi'i Ma'rif. Mantan Ketua PP Muhammadiyah yang kini menjadi anggota Dewan Pengarah BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila).

Siang itu saya sengaja salat Jumat di masjid tersebut untuk menemuinya. Setelah berpuluh tahun tak pernah berjumpa fisik. Hanya saling menyapa lewat whatsapp atau kirim salam lewat kawan.

Karena itu, begitu melihat pria tua itu saya langsung mendekatinya. Saya raih tangan kanannya. Saya cium punggung telapaknya. Dengan tetap ia duduk di atas kursinya.

Ia pun menoleh. Melihat orang yang meraih tangannya. Spontan senyumnya mengembang. Tanpa keluar sepatah kata. Saya pun membalas senyum itu bahagia.

Saya langsung berdiri untuk salat sunah. Dua rakaat. Lalu ikut menunggu khatib memulai khotbahnya. Berdampingan dengan Buya sampai jamaah salat Jumah usai.

Masjid yang tak jauh dari tempat tinggalnya itu seakan menjadi beranda Buya Syafii selama ini. Di tempat itu ia selalu menemui para tamunya. Setiap salat jamaah selesai.

"Kita ketemu di sini saja ya? Tidak keberatan kan?," katanya setelah saya menyampaikan maksud kedatangan saya. Bersama istri dan keempat anak saya yang sudah besar.

Dulu, saat saya masih menjadi wartawan, Buya Syafii merupakan salah satu narasumber utama saya. Setiap kali saya datang ke rumahnya untuk wawancara maupun minta artikel darinya.

Rumah Buya Syafii ya tetap yang itu. Hanya satu itu. Tetap sederhana seperti dulu. Padahal, doktor politik lulusan Universitas Chicago Amerika Serikat ini pasti mampu punya rumah lebih bagus kalau mau.

Rumah Buya Syafii ya tetap yang itu. Hanya satu itu. Tetap sederhana seperti dulu. Padahal, doktor politik lulusan Universitas Chicago Amerika Serikat ini pasti mampu punya rumah lebih bagus kalau mau.

Ia tampaknya memilih jalan kesehajaan. Ia memilih tetap hidup sederhana. Dalam kesendirian, ia menjadikan masjid sebagai ruang tamunya. Apalagi ia adalah jamaah paling setia.

Cerita kesehajaan Buya Syafii tidak hanya soal rumah. Meski pernah menjadi orang pertama di Muhammadiyah, ia tetap memilih antre saat berobat ke rumah sakit milik Persyarikatan itu.

Ia sangat layak menjadi teladan. Tokoh umat yang konsisten menjaga agar negeri ini tetap damai dan sejahtera. Tokoh yang layak mendapat sebutan bapak bangsa.

Karena itu, terucap keprihatinannya tentang maraknya radikalisme atas nama agama. Ia sangat berharap Islam menjadi penjaga sekaligus perekat Bangsa Indonesia.

"Saya sangat sedih dengan berkembangnya radikalisme yang mengatasnamakan agama sekarang. Ini harus diatasi bersama," katanya.

Buya Syafii Maarif bersama takmir masjid Nogotirto Jogjakarta
Buya Syafii Ma'arif bersama takmir masjid Nogotirto Jogjakarta.

Ia berharap Muhammadiyah dan NU bisa menjadi benteng penjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia. "Kalau tidak, bangsa ini bisa bubar," katanya dengan nada geram.

Buya Syafii berharap dari kedua ormas Islam besar itu mampu menangkal paham ke-Islaman yang ekstrem. Sebab, orang-orang NU dan Muhammadiyah punya dalil untuk melawan dalil keagamaan kelompok Islam ekstrem.

"Mereka mengembangkan pahamnya dengan dalil-dalil. Karena itu harus dihadapi oleh orang-orang yang punya dalil pula. Itu ada di kawan-kawan NU dan Muhammadiyah," tambahnya.

Buya Syafii ketika masih menjadi dosen di IKIP Jogjakarta (kini Universitas Negeri Yogyakarta) termasuk salah satu cendikiawan kenamaan di Indonesia. Pikiran-pikirannya mewarnai percaturan pemikiran di negeri ini.

Ia menjadi bagian dari penyumbang pemikiran Islam di Indonesia seperti KH Abdurrahman Wahid, Dr Nurcholish Majid, Dawam Raharjo, dan sebagainya. Tulisan-tulisannya mewarnai jurnal kenamaan di negeri ini.

Ia berharap Muhammadiyah dan NU bisa menjadi benteng penjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia. "Kalau tidak, bangsa ini bisa bubar," katanya dengan nada geram.

Ia menjadi bagian dari penyumbang pemikiran Islam di Indonesia seperti KH Abdurrahman Wahid, Dr Nurcholish Majid, Dawam Raharjo, dan sebagainya. Tulisan-tulisannya mewarnai jurnal kenamaan di negeri ini.

Karena itu, setelah tidak lagi menjadi dosen dan ketua PP Muhammadiyah, ia mendirikan Ma'arif Institute yang bergerak di bidang studi Islam dan kebijakan berbangsa dan bernegara.

Ia sampai kini punya hubungan batin dengan tokoh-tokoh bangsa lain seperti mantan Rais Am PBNU KH A. Mustofa Bisri. Pertemuan keduanya sempat mengharu biru banyak orang.

Rasanya, negeri ini butuh banyak orang seperti Buya Syafii. Tokoh umat yang tetap konsisten menjaga negeri ini dengan penuh teladan dan kesederhanaan.

Semoga tetap sehat Buya. Bangsa ini masih sangat membutuhkannya. (Arif Afandi)

Penulis : Arif Afandi


Bagikan artikel ini