Kesaksian Teman SMA Keluarga Pengebom 3 Gereja Surabaya

14 May 2018 16:05 Nasional
Ngopibareng.id |

Ahmad Faiz Zainuddin menyayangkan aksi Dita Oepriarto yang merupakan kakak kelasnya di SMA 5 Surabaya yang lulus pada tahun 1991.

Di mata Ahmad, Dita merupakan keluarga yang tampak baik-baik dan normal, seperti keluarga muslim yang lain. Namun, paham radikalisme yang tertanam di benak pelaku terlalu kuat karena sudah puluhan tahun mengakar.

Dari pengalamannya, kata Ahmad, tak semua pengajian yang ia dan Dita ikuti mengajarkan hal positif. Ada juga yang justru menjadi tempat menanamkan benih-benih radikalisme.

“Beberapa menentramkan saya, seperti pengajian Cinta dan Tauhid Alhikam, beberapa menggerakkan rasa kepedulian sosial seperti pengajian Padhang Mbulan Cak Nun. Yang lain menambah wawasan saya tentang warna warni pola pemahaman Islam dan pergerakannya,” tulis Ahmad.

“Di antaranya ada juga pengajian yang isinya menyemai benih-benih ekstremisme radikalisme. Acara rihlah (rekreasinya) saja ada simulasi game perang-perangan. Acara renungan malamnya diisi indoktrinasi Islam garis keras,” imbuh Ahmad.

Paham yang dianut Dita ini pun menjalar ke istrinya Puji Kuswati dan bersama empat anaknya sehingga melakukan aksi keji dengan meledakan diri di tiga geraja Surabaya.

“Dan akhirnya, kekhawatiran saya sejak 25 tahun lalu benar-benar terjadi saat ini,” ucap Ahmad di akun Facebooknya, @Ahmad Faiz Zainuddin.

 

Ahmad dan Dita pertama kali berkenalan sejak bangku SMA. Dikatakan Ahmad, Dita adalah Ketua Rohis yang ketika itu selalu bertentangan dengan pihak sekolah, misalnya mengenai upacara bendera.

Dita, kata Ahmad, menganggap upacara bendera adalah perbuatan syirik, ikut ikut bernyanyi lagu kebangsaan adalah bid’ah dan pemerintah Indonesia ini adalah thoghut.

Perilaku Dita ini tidak dianggap serius sekolah, selain waktu itu belum ada bom teroris dan prestasi Dita di sekolah juga terbilang siswa cerdas, lembah lembut, dan baik hati.

“Yang ingin saya katakan, Terorisme dan budaya kekerasan yang kita alami saat ini adalah panen raya dari benih-benih ekstrimisme-radikalisme yang telah ditanam sejak 30-an tahun yang lalu di sekolah2 dan kampus-kampus. Saya tidak tahu kondisi sekolah dan kampus saat ini, tapi itulah yang saya rasakan jaman saya SMA dan kuliah dulu,” tuturnya.

Penuturan Ahmad tersebut, sejauh ini sudah direspons 6,5 ribu Facebooker lainnya, dibagikan sampai 7,7 ribu kali, hingga mengundang sampai satu ribu komentar di kolom postingannya itu.

Penulis : Yasmin Fitrida


Bagikan artikel ini