Kerik Jamu, Bentuk Kepedulian Minat Baca di Hari Anak Nasional

23 Jul 2019 16:23 Teknologi & Inovasi

Bertepatan dengan Hari Anak Nasional yang diperingati tanggal 23 Juli, setiap tahunnya, program 'Kerik Jamu' yaitu kepanjangan dari Tuker Plastik-Pinjam Buku untuk pertama kalinya diperkenalkan di Surabaya.

Mengusung tema 'Waktunya Anak Indonesia Bercerita', Kerik Jamu merupakan satu langkah kecil yang dilakukan agar anak tertarik dan terbiasa membaca buku.

Penggagas program Kerik Jamu, Oliver Utomo Budiman mengatakan, program ini diinisiasi untuk meningkatkan minat baca anak Indonesia sekaligus menanamkan peduli sampah plastik sedini mungkin.

"Dari data perpustakaan Nasional tahun 2017, frekuensi membaca orang Indonesia rata-rata hanya empat kali perminggu. Sementara jumlah buku hanya lima sampai sembilan per tahun. Ini yang ingin saya tingkatkan sejak dini dengan program Kerik Jamu," ujar pemuda berusia 18 tahun itu.

Oliver panggilan akrabnya menjelaskan, perpustakaan Kerik Jamu bekerja sama dengan minimarket Alfamart. Saat ini sudah ada di 50 gerai minimarket yang bekerja sama dengan Kerik Jamu di daerah Surabaya dan Sidoarjo.

"Mekanismenya setiap ingin meminjam buku, hanya perlu menukarkan tiga sampah plastik baik sampah botol air, permen atau lainnya untuk meminjam buku selama satu minggu," ungkap Oliver, dalam acara peluncuran program Kerik Jamu di Surabaya.

Perpustakaan Kerik Jamu yang ada di Alfarmart Surabaya dan Sidoarjo Foto Istimewa
Perpustakaan Kerik Jamu yang ada di Alfarmart Surabaya dan Sidoarjo. (Foto: Istimewa)

Oliver menambahkan, setiap minggunya akan ada penambahan buku di setiap perpustakaan Kerik Jamu. Buku-buku yang disedikan juga sangat beragam sehingga anak-anak dapat memilih sesuai buku kegemaran. 

Selanjutnya, lanjut Oliver, sampah-sampah yang terkumpul juga akan dikelola oleh vendor-vendor yang sudah bekerja untuk didaur ulang kembali. 

Saat ditanya mengapa memilih Surabaya sebagai kota pertama untuk program Kerik Jamu? Oliver menjelaskan Surabaya merupakan kota yang sudah teredukasi dengan sampah plastik. Penggagasnya adalah Wali Kota Tri Rismaharini lewat Bus Suroboyo.

"Jadi memilih Surabaya sebagai kota pertama sangat tepat, karena edukasi mengenai sampah plastik sudah tertanam di masyarakatnya," kata Oliver. 

Dalam kesempatan ini Oliver juga mengungkapkan, alasanya membuat Kerik Jamu berawal dari hobi membacanya di waktu luang dan ia sudah merasakan manfaatnya.

"Dari sini saya ingin menularkan manfaat yang saya dapat pada teman-teman di Surabaya khususnya," imbuhnya.  

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustkaan Surabaya Musdiq Ali Suhudi mengungkapkan, gagasan Oliver lewat Kerik Jamu adalah inovasi menarik dari anak muda.

"Tidak mudah mendekat pada anak-anak. Akan lebih mudah bila dilakukan oleh yang seumuran. Program ini tentunya akan membantu pemerintah kota Surabaya dalam hal minat baca pada anak," pungkas Musdiq Ali Suhudi.

Penulis : Pita Sari
Editor : Moch. Amir


Bagikan artikel ini