Kenduri Habis Salat Ied, Tradisi Unik di Kampung Lain

15 Jun 2018 12:41

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Berbagai tradisi yang menyertai lebaran di berbagai desa ini membuat Idul Fitri terasa meriah dan tidak garing. Bagaimana tradisi di tempat Anda?

Hari Raya Idul Fitri betul-betul masih menjadi hari istimewa di kampung dan desa. Bahkan tradisi merayakannya masih lestari hingga kini.

Di desa Srigading, Kadireso, Teras, Boyolali, misalnya. Di tempat ini, selalu ada kenduri sehabis salat berjamaah Idul Fitri.

"Ini tradisi sejak simbah buyut. Malam lebarannya warga takbir keliling. Meriah, berbudaya lawas tetap lestari," kata Gatot Marsono dari RRI Yogyakarta yang asal desa ini.

Tradisi ini hampir sama dengan kebanyakan desa di Jawa Timur bagian Mataraman. Mungkin saja akar kulturnya memang hampir sama dengan keraton Solo dan Yogyakarta.

Seperti juga di Boyolali, di Blitar setiap lebaran selalu meriah dan berlebih soal makanan. Bahkan kini banyak kampung yang berhias dengan umbul-umbul dan lampu kerlap-kerlip di malam hari.

Saat ke masjid atau lapangan tempat salat Ied, masing-masing kepala keluarga membawa tumpeng atau berkatan. Sebagian menggunakan nasi gurih, seperti nasi uduk, dengan berbagai aneka lauk pauk. Tak jarang lengkap dengan ingkung ayam.

Usai khotbah Ied, dipimpin oleh imam, semua jamaah saling bersalam-salaman. Biasanya diiringi dengan tetabuhan bedug. Mereka berdiri si safnya masing-masing sampai habis baris terakhir.

Usai bersalam-salaman dan saling memaafkan, para jamaah tidak langsung pulang. Mereka berkumpul di serambi masjid untuk kenduri. Terkadang diawali dengan tahlil, mengirim doa untuk para leluhurnya.

"Tradisi ini juga berlangsunh turun temurun sampai sekarang. Momen ini biasanya juga menjadi ajang saling mengabarkan untuk warga desa yang mudik ke kampung," kata Chairul Anam, Kepala Desa Gogodeso, Kanigoro, Blitar.

Yang meriah di malam lebaran. Takbir kelilig diikuti anak-anak dan remaja desa. "Kalau dulu menggunakan obor. Sekarang banyak yang menggunakan mobil dengan iringan soundsystem," tambah lulusan IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Berbagai tradisi yang menyertai lebaran di berbagai desa ini membuat Idul Fitri terasa meriah dan tidak garing. Bagaimana tradisi di tempat Anda? (azh)