Kemenristekdikti Kembangkan Pesawat Tanpa Awak, Jaga Perbatasan

03 Sep 2019 16:06 Nasional

Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) tengah mengembangkan pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Pesawat tanpa awak tersebut nantinya digunakan untuk menjaga kawasan perbatasan di Indonesia.

Menurut Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohammad Natsir, pesawat tanpa awak dibutuhkan mengingat Indonesia adalah negara kepulauan dengan jumlah sekitar 17 ribu pulau.

"Bagaimana mengamankan 17 ribu pulau itu kita butuh teknologi yaitu pesawat tanpa awak. Sehingga kita tidak mengerahkan tentara yang banyak di tiap pulau," tuturnya.

Natsir mengungkapkan pesawat tanpa awak sudah dikembangkan untuk dapat terbang dengan jarak tempuh sejauh 500 kilometer.

"Awalnya itu hanya seratus sampai dua ratus kilometer. Saya minta ditingkatkan sampai 250 kilometer bahkan sampai lima ratus kilometer. Jadi kalau bolak-balik bisa sampai seribu kilo meter," terangnya.

Dengan begitu menurut Natsir untuk Pulau Jawa cukup di dua tempat saja pesawat tanpa awak akan dioperasikan. Sedangkan untuk pulau-pulau kecil hanya satu tempat saja.

"Jadi dengan adanya pesawat tanpa awak, jika ada musuh tentara kita sudah siap karena sudah terdeteksi lebih dulu," tuturnya.

Natsir mengatakan pengembangan pesawat tanpa awak sudah sejak 2016.

Riset pengembangan teknologi pesawat tanpa awak tersebut merupakan hasil kerjasama antara Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi dengan Kementerian Pertahanan (Kemhan). Jenis pesawat ini akan dioperasikan di wilayah perbatasan untuk kegiatan pengawasan wilayah.

Dilansir dari website resmi ristekditi.go.id, wahana ini memiliki berat 5-6 kilogram dan panjang sayap 2,4 meter. Nantinya akan dilengkapi dua buah kamera yang dipasang di bagian depan pesawat sebagai kamera pengawasan dan di belly (perut) pesawat sebagai kamera pemetaan.

Jenis wahana ini mampu menangkap gambar dari area konstruksi seluas 1,5 x 1,5 km persegi. Gambar itu nantinya akan dikolase dan diterjemahkan menjadi satu bacaan pemetaan. Pemrosesan gambar dilakukan melalui komputer setelah pesawat mendarat dengan metode rendering.

 

Dengan memiliki daya tahan yang tinggi sehingga memungkinkan wahana untuk terbang cukup lama, yakni 40-50 menit.

Penulis : Lalu Theo Ariawan Hidayat Kabul
Editor : Moch. Amir


Bagikan artikel ini