Menristekdikti, Mohammad Nasir menerima salah satu produk hasil dari stem cell, Rabu 11 Juli 2018. (amm/ngopibareng.id)
Menristekdikti, Mohammad Nasir menerima salah satu produk hasil dari stem cell, Rabu 11 Juli 2018. (amm/ngopibareng.id)

Menristekdikti Dukung Pengembangan Stem Cell di Indonesia

Ngopibareng.id Teknologi dan Inovasi 11 July 2018 15:25 WIB

Menteri Riset Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, M Nasir meresmikan fasilitas Teaching Industry Stem Cell dan Metabolit Stem Cell di Gedung Lembaga Penyakit Tropis Universitas Airlangga Kampus C Surabaya pada Rabu, 11 Juli 2018.

Fasilitas tersebut merupakan salah satu hasil Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell (P3SP) yang memiliki tugas utama melakukan penelitian dan pengembangan di bidang stem cell dan produk-produk stem cell.

Menristekdikti, Mohammad Nasir mengatakan stem cell diyakini mampu memperbaiki segala penyakit yang ada di Indonesia. Oleh sebab itu, pemerintah sangat mendukung adanya teknologi stem cell dalam bidang kesehatan. Bahkan, pemerintah sendiri telah menyiapkan dana sebesar Rp 93 Miliar guna pengembangan stem cell itu sendiri.

"Pemerintah mendukung dalam kaitannya untuk pengembangan inovasi-inovasi di bidang kesehatan. Dimana kita mulai 2017 sudah mengalokasikan anggaran sekitar Rp 93 miliar untuk stem cell ini," ujarnya.

"Karena dengan stem cell  mampu melakukan perbaikan yang luar biasa di bidang kesehatan. Oleh sebab itu kami ingin mengembangkan stem cell tersebut," tambahnya.

Stem cell atau sel punca adalah sel biologis yang menjadi jejak utama DNA. Sel ini dapat meremajakan diri dan menghasilkan lebih banyak sel untuk sumber pembentukan sel baru. Ia bertugas untuk memastikan setiap sel yang usang diganti dengan sel baru dengan jenis dan fungsi yang sama.

Dengan terapi stem cell, memungkinkan pasien sembuh dari beragam penyakit berat seperti jantung koroner, gagal jantung, diabetes, patah tulang gagal sambung, tulang yang hilang karena kecelakaan, osteoarthritis, cedera tulang rawan, spinal cord injury, glukoma, luka bakar, hingga kaki diabetik.

Namun sayangnya, model pengobatan semacam ini masih jarang dilakukan di Indonesia. Selain tak semua rumah sakit bisa melakukan terapi ini, terapi ini juga berbiaya sangat mahal. Setiap satu stem cell dihargai Rp 1-1,5 per sel. Sepintas memang murah, tapi jumlah sel yang diberikan cukup besar dalam organ atau tubuh pasien, sehingga biaya yang dikeluarkan tak sedikit. Untuk sekali terapi, untuk sel yang diberikan bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta sel. (amm)

Mohammad Nasih meresmikan faslitas Teaching Industry Stem Cell dan Metabolit Stem Cell di Gedung Lembaga Penyakit Tropis Universitas Airlangga Kampus C Surabaya pada Rabu 11 Juli 2018 ammngopibarengidMohammad Nasih meresmikan faslitas Teaching Industry Stem Cell dan Metabolit Stem Cell di Gedung Lembaga Penyakit Tropis Universitas Airlangga Kampus C Surabaya pada Rabu, 11 Juli 2018. (amm/ngopibareng.id)

Penulis : Amanah Nur Asiah

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

22 Feb 2021 12:48 WIB

Presiden Lantik Dewas dan Direksi BPJS Kesehatan

Nasional

Mantan juru bicara covid-19 menjadi dewan pengawas BPJS Kesehatan.

21 Feb 2021 16:13 WIB

Face Icon Model Search, Nge-Vlog Protokol Kesehatan Covid-19

Inovasi

Face Icon Model Search ajang pencarian model protokol kesehatan (prokes).

20 Feb 2021 15:28 WIB

Tissa Biani Pamit dari Media Sosial Demi Jaga Kesehatan Mental

Gosip Artis

Tissa Biani ingin menjaga kesehatan mentalnya dari media sosial.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...