Kembangkan Rasa Kebenaran dan Kejujuran, Ini Pesan Ibu Sinta Nuriyah

08 Jun 2018 04:58 Khazanah

"Kita lakukan agar bangsa Indonesia tetap terjaga persatuan dan kesatuannya, sebagaimana negara Indonesia diikat oleh UUD 1945 dan dasar negara Pancasila. NKRI harga mati, Pancasila dasar negara!,” kata Ibu Sinta Nuriyah.

Bulan suci Ramadhan sebagai momentum peningkatan iman dan taqwa, juga untuk mengembangkan rasa kebenaran, kejujuran dalam kehidupan berbangsa, serta memperkuat kearifan dan kebijaksanaan kita dalam menyikapi segala permasalahan bangsa Indonesia dewasa ini.

“Jika kita semua bisa menumbuhkembangkan semua itu maka Insya Allah kita pasti bisa menanggulangi semua permasalahan khususnya krisis kebangsaan yang saat ini tengah menghantui negara Indonesia,” kata Ibu Nyai Hj Sinta Nuriyah, dalam keterangan diterima ngopibareng.id, Jumat (8/6/2018).

Ibu Negara Republik Indonesia (RI) ke–4, Dra. Hj. Sinta Nuriyah Abdurahman Wahid, SH. M.Hum mengungkapkan hal itu dalam dialog kebangsaan pada acara buka puasa bersama masyarakat Kabupaten Probolinggo di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Paiton, belum lama ini.

Di tengah merebaknya permasalahan yang sedang dialami negara Indonesia dewasa ini, Ny. Hj. Sinta mengutarakan keresahannya melaui dialog khas penuh keakraban.

Dalam kegiatan itu tidak hanya umat islam saja yang hadir, namun juga dihadiri oleh perwakilan umat Kristen, Katholik, Hindu, Budha, Konghuchu, serta perwakilan etnis dan suku selain Jawa Madura yang merupakan mayoritas penduduk Kabupaten Probolinggo.

Dalam kesempatan itu ia mengajak semua yang hadir untuk introspeksi diri. Saat ini menurutnya, masyarakat Indonesia banyak yang telah kehilangan hati nurani, jati diri, dan perasaan, serta lunturnya nilai kemanusian dan kebangsaan.

“Saat ini banyak fitnah ditebar, suara kebencian dan berita bohong di mana-mana, belum lagi bom bunuh diri dimana mana. Apa sebenarnya yang tengah terjadi pada bangsa kita, apa penyebabnya?” katanya dalam salah satu dialognya.

“Ikatan tali persaudaraan yang dulu diciptakan para leluhur kita termasuk Gus Dur, kini kian longgar ikatannya, benang – benang sulamannya telah tercerai – berai, dan terputus berserakan, akibatnya keutuhan, kerukunan dan persatuan bangsa Indonesia terancam dan menjadi porak poranda,” imbuhnya.

Lebih lanjut dalam dialog kebangsaan itu, Ny. Hj. Sinta mengingatkan perlunya untuk senantiasa merawat keutuhan pilar kebangsaan melalui kegiatan bernuansa kebhinekaan Indonesia. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan kembali ikatan tali kasih, semangat toleransi, tolong menolong dan persaudaraan antar sesama bangsa Indonesia.

“Ini yang seharusnya selalu kita lakukan agar bangsa Indonesia tetap terjaga persatuan dan kesatuannya, sebagaimana negara Indonesia diikat oleh UUD 1945 dan dasar negara Pancasila. NKRI harga mati, Pancasila dasar negara!,” tandasnya diikuti seluruh yang hadir saat itu.

 

SEMANGAT Kehadiran Ny Sinta Nuriyah memberikan semangat bagi masyarakat foto Ning Ena for ngopibarengid
SEMANGAT: Kehadiran Ny Sinta Nuriyah memberikan semangat bagi masyarakat. (foto: Ning Ena for ngopibareng.id)

Sementara Penjabat (Pj.) Bupati Probolinggo R. Tjahjo Widodo SH, M.Hum mengungkapkan apresiasi terhadap kehadiran dan kegiatan yang telah rutin dilakukan oleh Ny. Hj. Sinta Nuriyah sejak mendiang KH Abdurrahman Wahid aktif menjabat sebagai Presiden RI sampai saat ini.

“Atas doa dan kecintaan Ibu terhadap masyarakat Kabupaten Probolinggo selama ini kami ucapkan banyak terimakasih, semoga kita semua semoga selalu mendapatkan barokah dan rahmat dari Allah Swt,” ungkap Tjahjo Widodo.

Dalam sambutanya ia juga mengungkapkan rasa bangga atas sosok KH. Abdurrahman Wahid sebagai guru bangsa Indonesia yang selama hidupnya senantiasa memberikan bimbingan dan arahan kepada seluruh rakyat Indonesia.

“Sejauh pengamatan kami di Kabupaten Probolinggo, begitu banyak prestasi yang telah dicapai, masyarakatnya luar biasa dalam meningkatkan ibadahnya, luar biasa persatuan dan kesatuannya, luar biasa dalam membina putra dan putrinya. Semoga mereka ada yang bisa mencontoh guru bangsa kita ini,” tutupnya sembari memimpin pembacaan surat Alfatihah untuk almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid.

Kegiatan bernuansa kebhinekaan tersebut juga dihadiri oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo, KH. Munir Cholili, Ketua Yayasan Puan Amal Hayati sekaligus pengasuh Ponpes Syekh Abdul Qadir Jaelani (SAQA) Hj. Badiatus Sholehah, dan Ketua FKUB Kabupaten Probolinggo. KH Idrus Ali. 

Dalam kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap bulan suci Ramadhan tersebut, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Probolinggo menyalurkan sedikitnya 400 paket sembako kepada kaum dhuafa yang ada di Desa Sumberanyar Kecamatan Paiton. Total anggaran yang digelontorkan untuk penyediaan 400 paket sembako ini mencapai Rp 30 juta.

Penyerahan ratusan paket sembako tersebut secara sombolis dilakukan oleh Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid didampingi Penjabat (Pj) Bupati Probolinggo R. Tjahjo Widodo, SH., M.Hum dan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua TP PKK Kabupaten Probolinggo Ny. Tri Juningsih Tjahjo Widodo. Serta Ketua Baznas Kabupaten Probolinggo H Ahmad Muzammil.

Tiap paket sembako ini berisi beras 3 Kg, mie instans 5 bungkus, minyak goreng 1 liter, gula pasir 1 Kg dan teh celup 1 kotak. Pengadaan paket sembako ini berasal dari dana zakat yang dihimpun mulai bulan Januari 2018 dan dana pengumpulan insidental.
“Penyaluran paket sembako ini bertujuan untuk menyerahkan hak kepada para kaum dhuafa. Dengan kata lain, penyerahan hak kaum dhuafa ini bisa juga untuk berbagi kebahagiaan. Karena dengan menerima haknya maka dia akan merasa bahagia,” kata Ketua Baznas Kabupaten Probolinggo H Ahmad Muzammil.

Menurut Muzammil, momentum bulan suci Ramadhan ini mendatangkan orang untuk berkumpul itu sangatlah sulit tanpa ada iming-iming sesuatu. Atas dasar itulah, maka dalam kegiatan buka bersama Hj. Sinta Nuriyah ini dimasukkanlah program dari Baznas Kabupaten Probolinggo.

“Kami berharap manakala ada program lagi, mustahiqnya benar-benar mustahiq kategori fakir dan miskin. Jadi hindari adanya pendistribusian sembako kepada mustahiq yang samar-samar. Tetapi untuk penyerahan di TPI Paiton ini sudah tepat sasaran. Sementara yang muda-muda datang karena mewakili orang tuanya yang sudah renta dan tidak mampu untuk berjalan,” pungkasnya. (adi)