Ilustrasi Kekuatan Kata-kata. (Vichta)
Ilustrasi Kekuatan Kata-kata. (Vichta)

Kekuatan Kata-Kata

Ngopibareng.id Tokoh Lain 15 August 2020 14:46 WIB

Oleh: M. Anshar Akil

Kita semua tentu pernah mengalami. Suatu ketika, kita mengucapkan kata-kata tertentu dan tidak lama kemudian apa yang  diucapkan itu betul-betul terjadi. Baik itu kata-kata positif maupun negatif.

Misalnya ketika teringat seseorang dan kita mengatakan “Saya rindu sama si A ….” dan tiba-tiba si A benar-benar menelpon kita atau hadir di mimpi kita dalam tidur.

Contoh lainnya, ketika seseorang mencari pekerjaan dan di dalam pikiran selalu mengatakan: “Betapa susahnya mendapatkan uang…” dan seolah-olah ucapan itu terbukti dengan sulitnya mendapat pekerjaan dan penghasilan yang diinginkan.

Itulah kekuatan kata-kata. Kata adalah doa. Kata-kata yang kita ucapkan itu suatu saat akan mewujud dalam hidup kita. Semakin sering kata-kata itu diulang maka energinya makin kuat. Kualitas hidup dan karakter kita tercermin dari kata-kata yang selalu kita ucapkan. Kata-kata yang baik bersumber dari akhlak yang tinggi;  dan kata-kata yang buruk lahir dari budi pekerti yang rendah.

Kita bertukar pesan melalui kata-kata yang disampaikan kepada diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar kita. Bukan hanya manusia yang mengerti kata-kata yang kita ucapkan, tapi juga lingkungan sekitar menerima vibrasi (getaran) dari kata-kata itu.

Misalnya air yang sangat peka dengan pesan-pesan yang kita sampaikan. Peneliti Jepang, Dr. Masaru Emoto (buku-bukunya sangat populer pada tahun 2000-an) menemukan bahwa kristal air akan berubah-ubah bentuknya mengikuti pesan-pesan yang diberikan. Kata-kata positif (misalnya “cinta”) akan menghasilkan kristal air yang cantik; sedangkan kata-kata negatif (seperti “benci”) akan menampilkan kristal air yang sangat buruk (rusak). Emoto menyimpulkan bahwa air itu “hidup” dan merespon pesan layaknya makhluk hidup.

Jika alam sekitar kita (misalnya air, tumbuh-tumbuhan, atau hewan) dapat merespon pesan-pesan yang sampaikan oleh manusia, maka tentu saja dampak setiap kata-kata yang diucapkan itu jauh lebih kuat lagi dirasakan oleh diri kita sendiri dan orang lain.

Tubuh manusia memiliki kandungan air sekitar 50-70%. Tubuh fisik kita yang berupa partikel-partikel air tersebut dapat menangkap pesan yang kita sampaikan di tingkat sel. Begitu pula jiwa dan hati lebih kuat lagi menyerap pesan-pesan yang sampai kepada kita di tingkat spiritual. 

Untuk mengubah hidup menjadi lebih baik, ubahlah cara kita memilih dan menggunakan kata-kata. Biasakanlah berkata-kata yang baik, penuh hikmah, bernada positif; pilihlan pesan-pesan yang benar, jujur, memberi harapan, punya kekuatan, optimisme, visi, ilmu, petunjuk, atau nasihat-nasihat yang menyadarkan kita.

Bagaimana mengubah hidup kita melalui kata-kata?

Pertama: kita mulai dari diri sendiri. Belajar lah memperbaiki pesan-pesan internal yang ada di dalam diri kita sendiri (dalam ilmu komunikasi disebut intrapersonal communication). Sebelum orang lain menasihati kita, maka yang utama adalah menasihati diri sendiri lebih dulu, nasihat yang berasal dari dalam qalbu, hati dan pikiran kita.

Jiwa kita selalu memproduksi pesan-pesan internal. Menurut hasil penelitian, jumlah pikiran setiap hari sekitar 50.000 pikiran (Carlson, 2005). Pikiran-pikiran itu ada yang produktif, positif, pasif, atau negatif. Pikiran kita diproduksi dan beroperasi di lapisan bawah sadar (alpha, theta, delta) atau tingkat sadar kita (beta).

Betapa sibuknya pikiran kita setiap hari. Namun pikiran yang sangat banyak itu dapat dikendalikan oleh mindset kita. Jika kita memiliki mindset positif maka pikiran-pikiran positif akan dominan dan mengalahkan pikiran-pikiran negatif.

Pesan-pesan dari bawah sadar tersebut selalu hadir setiap saat, utamanya ketika kita akan mengambil pertimbangan, sikap, atau melakukan tindakan. Apakah kita menjadi orang berani, bertanggung jawab, jujur, cerdas, damai; atau sebaliknya curang, resah, takut, masa bodoh, dan lain-lain, itu sangat ditentukan oleh dialog internal yang mengendalikan kita. Belajar memahami dialog internal (solilokui) itu untuk mengendalikan hidup kita ke arah yang diinginkan.

Kedua: belajar lah menyampaikan kata-kata positif kepada orang lain (dalam ilmu komunikasi disebut interpersonal communication).  Berapa banyak kata-kata positif yang kita ucapkan untuk orang lain? Mengendalikan ucapan-ucapan kita itu penting karena kodrat kita memang dilahirkan sebagai makhluk yang suka berbicara.

Menurut penelitian, dalam sehari wanita dapat berbicara sebanyak 20 ribu kata, sedangkan pria hanya 7.000 kata. Wanita berbicara lebih banyak sekitar 13 ribu daripada rata-rata pria karena otak wanita memiliki protein FOXP2 lebih banyak. Artinya wanita memiliki protein komunikasi lebih banyak daripada pria. Namun pada tikus, protein itu justru lebih banyak pada jantannya, sehingga jantannya lebih cerewet dibanding tikus betina (Liputan6, 2013).

Manusia diberikan akal untuk mengontrol ucapan-ucapannya. Ketika berinteraksi dengan orang lain, akan lebih lebih elok dan akrab jika menyapa dengan kata-kata yang lembut, positif, dan optimis. Kita tidak selamanya dapat mendukung orang lain dengan pemberian materi, tapi kita dapat mendukung siapa pun dengan kata-kata yang lebih baik. Kita dapat menyampaikan kata-kata positif kepada orang yang mendukung ataupun menentang kita.

Kata-kata yang benar, jujur, optimis, positif, memberi solusi, membawa damai, kritik yang lembut, nasihat yang membangun, dan sebagainya. Kita dapat berbicara dengan baik jika punya kebijaksanaan. Jika kata-kata itu akan menyakiti orang lain, lebih baik diam. Kata-kata yang disampaikan melibatkan pikiran dan perasaan mencerminkan karakter kita.

Orang tua kita dulu selalu menasihati agar kita menjaga lidah. Mulutmu adalah harimaumu. Sekarang era medsos. Status yang dituliskan di medsos itulah harimaumu. Jagalah kata-katamu agar tidak menyakiti dirimu dan orang lain. Kata-kata yang buruk, yang keluar dari  jiwa yang gelap, ibaratnya mengandung racun yang mematikan. Seperti kata orang bijak, kalau pedang melukai tubuh, obatnya masih bisa didapatkan. Tapi kalau lidah melukai hati, kemana obat hendak dicari. ***

*Anshar Akil, Dosen Komunikasi UIN Alauddin Makassar, Motivator Nasional, Hipnoterapis, tinggal di Makassar, [email protected].

M Anshar Akil Penulis FotoIstimewaM. Anshar Akil, Penulis. (Foto:Istimewa)

Penulis : M. Anis

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

19 Jan 2021 03:08 WIB

Kehilangan Saling Kasih, Ini Jalan Raih The Golden Role

Islam Sehari-hari

Penjelasan KH Husein Muhammad soal peran terbaik dalam Islam

19 Jan 2021 02:24 WIB

Empat Ciri Masjid NU, Berdasarkan Alamiah Ibadah

Khazanah

Penjelasan Ustaz Ma'ruf Khozin, Direktur Aswaja NU Center Jawa Timur

18 Jan 2021 22:40 WIB

Wapres Dukung Gerakan Nasional Donor Plasma Konvalesen

Nasional

Gerakan nasional donor plasma konvalesen perlu solidaritas masyarakat.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...