Kegemaran yang Menenteramkan Perasaan

08 Jul 2019 06:24 Ajar Edi
Ujar Ajar

Awal bulan Juli, media sempat ramai dengan kabar Jayabaya. Burung merpati ini dihargai satu milliar rupiah. Karena berpindah pemilik.

Burung ini memang spesialis juara. Khusus di kancah perlombaan Komunitas Penggemar Merpati Tinggi Indonesia (PTMI). Tak heran, atas nama kegemaran atau hobi, Robby sang pemilik baru, rela dimarahi istri.

“Dia cuma ngomong, ‘Lu gila ya beli burung seharga rumah’, “ ungkap Robby menirukan gerutu istrinya kepada wartawan. Robby berdalih, itu investasi. Tapi, apapun itu, kalau soal kegemaran, uang selalu dipikir belakangan.

Banyak orang, punya beragam kegemaran. Karena menyalurkan kesukaan itu, memang menenteramkan perasaan. Senang, bahagia, atau merasa berguna.

Whena, contohnya. Warga Kediri ini, juga punya hobi unik. Kegemarannya mencari anak untuk disunat. Mayoritas dari keluarga tak mampu.

Di sela-sela pekerjaanya, dia banyak bertemu keluarga miskin. Jangankan mikirin sunat. Urusan dapur saja mereka susah. “Setiap bulan, rata-rata lima anak sampai 10 anak,” kata Whena.

Uangnya, dia sisihkan dari gaji bulanan sebagai fasilitator Program Keluarga Harapan. Istrinya mendukung kegiatan itu. Untungnya, dia punya teman mantri kesehatan yang membantu. Jadi cukup bayar obatnya saja.

Lain lagi dengan Kurnia. Sehari-hari dia tinggal di Jogja. Kesenangannya juga istimewa. Mencari masjid yang mau dikirimi kubah. Baik masjid baru atau lama. 

“Minimal, fungsi kubah mirip pemancar. Jadi doa kita pasti cepat sampai ke Allah,” jelasnya beralasan. Kadang, ada sebagian teman yang ikut nyumbang juga. 

Masih ada lainnya. Ivan, contohnya. Kegemarannya juga blusukan ke kampung di Bogor. Menawari keluarga, agar anaknya mau belajar tahfidz Quran. 

Dia mewakafkan tanah dan bangunan miliknya. Selama belajar, mereka dicukupi kebutuhannya. Biayanya juga dari menyisihkan gajinya. “Ustadnya tidak digaji. Karena mereka juga pengabdian,” tutur Ivan. 

Ada juga kenalan penganut Kristen HKBP, yang hobi membangun gereja. Sebagian besar di seputaran Danau Toba. Istrinya yang banyak mengurus kegemarannya ini.

Banyak teori menuturkan, kegemaran atau hobi banyak fungsinya. Dari meredakan stress, mengembangkan tujuan hidup, atau paling sederhana menjalin pertemanan baru. 

Namun, kalau mau menukik lebih dalam, kegemaran jika dilakukan dengan tulus, menuntun pada ketenteraman jiwa. Bahkan akan bermuara pada pencapaian kebahagiaan. Keberadaan diri sebagai manusia terasa mengada.

Banyak teori menuturkan, kegemaran atau hobi banyak fungsinya. Dari meredakan stress, mengembangkan tujuan hidup, atau paling sederhana menjalin pertemanan baru.

Michel de Montaigne, filsuf Prancis yang hidup antara 1533-1592, meyakini, kebahagiaan adalah keadaan pikiran yang subjektif. Sehingga pencapaian makna kepuasan akan berbeda setiap orangnya. Untuk itu, seseorang harus diberi ruang kehidupan pribadi untuk mewujudkan upaya kebahagiaan khusus ini. 

Sejak akhir abad ke-20, telah berkembang metode, survei, dan indeks untuk mengukur kebahagiaan. Kajian ini bersifat kuantitatif dan teoritis. Yang dikaji adalah pengaruh positif dan negatif, kesejahteraan, kualitas hidup, hingga kepuasan hidup.

Yang termutakhir, tiap 20 Maret, akan muncul World Happiness Report. Laporan ini disusun Sustainable Development Solutions Network untuk PBB. Mereka merilis daftar terbaru negara paling bahagia. 

Laporan itu berdasarkan enam indikator utama. Dari pendapatan, kebebasan, kepercayaan, dan usia harapan hidup. Lantas terkait tunjangan sosial serta keramahan.

Untuk tahun ini, Finlandia masih di peringkat pertama. Negara kita? Ada di posisi ke 92. Tahun ini, kita sudah lumayan. Naik empat tingkat. 

Posisi kita unggul satu peringkat di atas Tiongkok. Namun, negara tetangga, Thailand ada diperingkat 52. Jadi sepertinya masuk akal, kalau Pak Bambang Soesatyo yang Ketua DPR itu, meminta Pak Jokowi membuat Kementerian Kebahagiaan. 

Untuk tahun ini, Finlandia masih di peringkat pertama. Negara kita? Ada di posisi ke 92. Tahun ini, kita sudah lumayan. Naik empat tingkat.

Hobi politisi Partai Golkar ini, mengoleksi mobil mewah. Juga touring naik motor gede. Minimal, kalau kementerian itu ada, kita bisa mengejar ketinggalan dari negara gajah putih itu.

Kembali ke urusan hobi. Ada lagi seorang teman, yang kegemarannya lebih unik: membahagiakan orang lain. Bowo namanya. 

Dia suka merayakan beragam festival musik. Dari menggelar acara musik jazz hingga musik rock. Banyak bintang besar dunia yang dia undang ke Indonesia.

Penontonnya ribuan. Mereka tetap membayar. Bahkan, ada yang rela memecah tabungan.

Eh, sebentar. Kalau ini sepertinya beda tipis antara kegemaran atau pekerjaan. Tapi tak apa, yang penting semua bahagia.

Ajar Edi, Kolumnis Ngopibareng.id

Penulis : Ajar Edi
Editor : Rohman Taufik


Bagikan artikel ini