Kedekatan Pribadi Mbah Moen, Ini Pengakuan Gus Mus

08 Aug 2019 05:03 Khazanah

Meninggalnya seorang yang 'alim adalah kematian alam. Begitulah ungkapan yang banyak ditulis oleh masyarakat mengiringi kabar duka atas wafatnya KH Maimoen Zubair di Makkah, Arab Saudi pada Selasa 6 Agustus 2019 pagi.

Hal yang sama dilakukan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri.

"Mautul 'ãlim mautul 'ãlam (kematian orang alim adalah kematian alam)," tulisnya.

Gus Mus mengucapkan duka citanya yang mendalam atas ulama 91 tahun itu dengan menyebutnya sebagai tokoh pendamai yang telah damai di sisi Maha Damai.

"Tokoh pendamai yang menyukai perdamaian itu kini telah damai di sisi Zat yang Maha damai," catatnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah itu bahwa kewafatan Mbah Moen, sapaan akrab KH Maimoen Zubair, membawa ilmu dan akhlaknya.

"Meninggalkan kita yang belum selesai dengan urusan dunia ini, dengan membawa segudang ilmu, akhlak, dan kearifan beliau," katanya.

Gus Mus berdoa agar kita semua memperoleh manfaat atas ilmu, akhlak, dan kebijaksanaannya. "Nafa'anãLlãhu bi'ululűmihi wa akhlãqihi wahikmatih (semoga Allah memberikan kita manfaat atas ilmunya, akhlaknya, dan kebijaksanaannya)," harapnya yang diamini oleh warganet dengan menuliskannya di kolom komentar.

Sebetulnya, terang Gus Mus, putra-putra Kiai Maimoen Zubair --rahimahuLlãh-- ingin mencegahnya berangkat haji tahun ini. Tetapi, tidak ada satupun yang berani matur.

"Maka mereka minta tolong salah satu santri kinasih beliau yang kebetulan masih famili, mas Nawawi (Pemilik akun Facebook Jambal roti)," katanya.

Mas Nawawi, lanjut Gus Mus, dengan hati-hati matur menggunakan gaya bercerita menceritakan obrolan putra-putra Mbah Moen. Belum sampai tuntas memberitahu apa yang mereka obrolkan, Mbah Moen sudah memotong.

"Mereka melarang aku berangkat haji ya?! Karepé déwé!" (Maunya sendiri)," tulis Gus Mus mencatatkan ucapan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah itu.

Kiai kelahiran 10 Agustus 1944 itu merasa ketar-ketir saat santri kinasih Mbah Moen itu menceritakannya.

"Terus terang saat Mas Nawawi menceritakan hal itu, dalam hati aku sudah merasa ketir-ketir, tidak enak," katanya.

Bukan apa-apa, jelasnya, soalnya belakangan setiap ketemu, Mbah Moen hampir selalu menyampaikan bahwa doanya sekarang ini hanya memohon husnul khãtimah mengingat usianya sudah 90 tahun lebih.

"Dan doa permohonan beliau dikabulkan oleh Kekasihnya," tulisnya. *

Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini