Kecintaan Para Ulama dalam Menuntut Ilmu, Ini Alasannya

11 Jun 2018 09:23

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

"Sungguh mereka itu mempunyai spirit dan motivasi diatas rata-rata dan luar biasa sekali. Mereka sangat cinta kepada orang-orang yang Ahlul Ilmi, menangis ketika ditinggal wafat oleh para Guru dan panutannya," kata KH Ishomuddin Hadzik, penulis kitab Irsyadul Mukminin,

Para ulama terdahulu mendakwahkan dalam setiap perilaku dan tindakannya, untuk menuntut ilmu setinggi-tinggi. Bahkan, bila dalam tataran ilmu, mereka selalu merasa kehausan. Karena itu, mereka berusaha untuk meneguk sebanyak-banyak ilmu keagamaan yang mendorongnya makin meningkatkan keimanan dan ketaakwaannya.

Pengajian Kilatan Khataman tiap hari selama Ramadlan 1439 H/2018 M, berlangsung di Bumi Arrahman Al Waqi'ah, Pesantren Aula Kombangan Bangkalan Madura. Mengaji Kitab Irsyadul Mukminin, karya Muhammad Ishomuddin Hadzik alias Gus Ishom, alayarham, dari Pesantren Tebuireng yang legendaris. Qariul Kitab oleh KH Fawaid Abdullah:

Coba kita perhatikan sejarah ulama zaman old itu dalam mencari ilmu. Hanya ingin mencari ilmu satu Hadist saja rela menempuh jarak yang sangat jauh, dengan medan yang sangat sulit sekalipun, misalnya dari Kota Madinah menuju Negeri Syam. Bahkan (hanya) dengan ditempuh rela berjalan kaki sekalipun.

Sungguh mereka itu mempunyai spirit dan motivasi di atas rata-rata dan luar biasa sekali. Mereka sangat cinta kepada orang-orang yang Ahlul Ilmi, menangis ketika ditinggal wafat oleh para Guru dan panutannya.

Diceritakan, ketika Mu'ad bin Jabal RA mendekati ke-wafat-annya, para murid-murid nya menangis sejadi-jadi nya. Melihat murid-murid nya menangis, Mu'ad bin Jabal berkata : "Wahai murid-murid ku, apa yang menyebabkan kalian menangis ini ?, Murid-muridnya menjawab : "Demi Allah, bukan sebab dunia-mu kami ini menangis, tetapi aku ini menangis sebab Ilmu dan Iman !, engkau telah ajarkan kepadaku ke-dua nya, dan kini ke-dua nya (juga) akan pergi !. Mu'ad bin Jabal menjawab : "Sungguh, ilmu dan iman tetap akan menempati tempat nya sendiri, dari mana didapat dan diperoleh ke-dua nya !".

Para ulama zaman Old itu tidak pernah malu untuk belajar, apalagi tentang ilmu faedah dan ilmu hikmah dari siapa saja dan dimana saja, walau kepada Guru yang sangat jauh sekalipun.

Riwayat Imam Al Dailamiy, Sungguh Rasulullah SAW bersabda : "Khudz Al Hikmah, Ambillah Ilmu Hikmah itu, Darimana saja keluar !". Makanya, terkadang para Sahabat Nabi belajar satu ilmu itu justeru dari kalangan Tabi'in.

Imam Al Humaidiy, salah.seorang murid dari Imam Syafi'i berkata : "aku ini pernah menemani Guru ku, Imam Syafi'i menempuh perjalanan dari Kota Mekkah menuju Mesir, banyak ilmu faedah dan ilmu hikmah yang dapat aku ambil selama perjalanan itu".

Imam Ibnu Hanbal berkata : "Imam Syafi'i tidak segan2 belajar ilmu Hadist kepada ku, Imam Syafi'i berkata : "Antum A'lamu bil Hadist, engkau lebih Alim dan lebih memahami ilmu Hadist".

Begitu sangat hebat nya para Ulama itu, diceritakan bahwa Imam Sam'aniy belajar ilmu itu sampai mempunyai 4 ribu Guru.

Sebagaimana hal nya diceritakan juga oleh Imam Abu Hanifah  dan Imam Ibnul Mubarok bahwa pada zaman itu, belajar ilmu seorang Murid kepada seorang Guru rela walau sangat jauh sekalipun dan hanya satu fan, disiplin ilmu saja.

Mereka itu pada zamannya begitu sangat luar biasa kecintaan nya kepada Ahli Ilmu. Begitu sangat luar biasa memuliakan nya. Ketawadlu'an nya, bahkan dengan sering berziarah "sowan dan Silaturrahim" ke kediaman "rumah" Gurunya.

Yang tepat itu, seharusnya memang murid yang mencari atau sowan kepada Gurunya. Bukan sebaliknya, Guru yang sowan "mencari" murid-muridnya. Zaman now, justru terkadang terbalik. Guru yang mencari Murid.

Seharusnya kita ini mencontoh dan mentauladani jejak dan perilaku para Ulama zaman Old itu. Generasi saat ini harusnya banyak belajar mengambil ilmu hikmah dari Generasi sebelumnya, bagaimana memperlakukan Guru, menghormati Guru, menghargai dan memuliakan Gurunya demi mendapatkan kemanfaatan dan keberkahan-keberkahan dari para Gurunya.

Wallahu A'lam. (adi)