Karya Imam Ghazali Berpengaruh Luas, Ulil: Tak Hanya Muslim Sunni

Ngopibareng.id Khazanah 02 April 2018 15:20 WIB

Salah satu karya Imam Al-Ghazali yang paling fenomenal adalah Ihya’ Ulumiddin yang memiliki pengaruh luas tak hanya di kalangan muslim Sunni tapi juga bagi kalangan Syi’ah bahkan di kalangan Yahudi pun pemikirannya mendapatkan tempat tersendiri.

Terdapat seorang filosofi Yahudi yang menuliskan ringkasan Ihya’ Ulumiddin yang ditujukan pada orang-orang Yahudi, yang mana ditulis ke dalam bahasa Arab dengan aksara Ibrani. Tulisan tersebut merupakan rangkuman dari pemikiran Imam Al Ghazali dari Ihya’ Ulumiddin mengenai pendisiplinan batin, atau dalam kitabnya disebut sebagai tahdzibu an nafs.

“Aspek pendisiplinan batin inilah yang merupakan pencapaian luar biasa dari Imam Al Ghazali,” kata Ulil Abshar Abdalla, dalam diskusi bersama ngopibareng.id.

Ulil menjelaskan, hikmah merupakan salah satu kebenaran yang dikehendaki oleh umat Islam dalam proses beragama. Jika diistilahkan dalam bahasa hadits disebut sebagai ihsan, yang merupakan puncak kebenaran yang hendak dituju oleh agama Islam.

“Untuk mencapai hikmah itu tidak bisa dilakukan secara instan, diperlukan proses yang panjang, apabila ada orang yang yang menghendaki hikmah dengan ujuk-ujuk, pasti tidak akan dapat,“ lanjutnya.

Ia memaparkan, ada beberapa proses yang harus dilampui untuk mencapai hikmah, salah satu proses untuk mendapatkannya adalah dengan dimulai dari hati atau iman. Iman merupakan sikap hati yang tepat untuk menghadap pada Tuhan dan merupakan syarat yang paling utama. Jika seseorang tidak memiliki iman, maka ia akan kehilangan kompas untuk menuju hikmah.

Namun iman baru menjadi start awal, lanjutnya, seseorang tidak akan mampu mencapai hikmah tanpa melalui syariah.

“Seseorang yang ingin mencapai kota A, namun ia tidak memiliki mobil, maka dia tidak akan pernah sampai,” kata intelektual NU itu mencontohkan.

Hikmah harus melalui jalan syariah, yang dalam bahasa filsafat kontemporer disebut sebagai proses pendisiplinan.

“Hikmah merupakan hasil disiplin atau usaha yang dilakukan secara konsisten, kalau dalam bahasa tasawuf disebut dengan istiqamah, dan dilakukan dalam waktu yang cukup panjang,” paparnya. (adi)

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

18 Nov 2020 03:01 WIB

Gus Baha: Musibah bila Santri Tak Mengenal Kitab Mbah Hasyim

Khazanah

Jangan lebih mengenal pemikiran Ulil Abshar Abdalla atau Nusron Wahid...

13 Nov 2020 05:46 WIB

Imam Al-Ghazali: Sibukkan Dirimu dengan Melakukan Dua Perbaikan

Islam Sehari-hari

Sesuai Kitab Ihya Ulumuddin yang dipelajari di pesantren

08 Nov 2020 04:39 WIB

Imam Al-Ghazali dan Pelajaran Filsafat di Pesantren, Ini Faktanya

Khazanah

Hujjatul Islam berfilsafat dengan metode penyusunan kitab

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...