Karung Goni dan Kertas Semen Jadi Busana Casual Vintage

03 Dec 2019 10:49 Inovasi

Kertas bekas bungkus semen dan karung goni biasanya hanya menghuni tong sampah. Di tangan mahasiwa Institusi Sains dan Teknik Terapan Surabaya (ISTTS) barang bekas itu diolah menjadi busana bertema casual dan vintage.

Adalah Debi Stella Oktanita, Lucas Zelig, Dion Putra K, Melvin Chriatian, Antonio Louis, Rionaldi Wijaya dan Rizky Febrianto yang mengkreasikan barang bekas menjadi busana vintage. Mereka merupakan mahasiswa semester 1 Desain Komunikasi Visual (DKV) ISTTS.

"Konsep busana kami mengabungkan tema casual dan vintage. Kami buat busana sepasang untuk perempuan dan laki-laki," kata perwakilan tim Debi Stella Oktanita.

Debi biasa ia disapa mengatakan, untuk busana perempuan atasanya mengunakan karung goni dan roknya memakai bahan kertas semen. Roknya dibuat panjang agar bisa digunakan di acara formal juga.

Sementera untuk busana pria, lanjut Debi, atasan dan bawahnya mengunakan bahan karung goni. Hanya saja di bagian celana pendeknya ditambahkan detai yang terbuat dari kertas bekas semen.

"Selain busana kami juga membuat aksesorisnya, yaitu topi. Untuk yang perempuan topinya menyerupai ikat kepala yang terbuat dari pita bekas, karet bekas dan bulu kemoceng. Kalau untuk yang laki-laki topinya terbuat dari kertas semen," jelas Debi.

Debi mengungkapkan satu busana membutuhkan waktu sekitar tiga minggu untuk mengolahnya. Seperti membuat rok untuk busana wanita. Menurutnya pembuatan rok ini cukup rumit dibanding lainnya.

Pembuatan rok sendiri, ujar Debi, pertama horse hair yang sudah direkatkan dengan jarum pentul dijahit. Setelah itu baru membuat detailnya dari kertas bekas semen, kertas bekas semen di potong ukuran 8 x 12 cm sebanyak-banyaknya.

"Lalu potongan tersebut diremas-remas lalu dibuka kembali. Hasil remasan kertas ini lalu ditata sesuai pola horse hair yang sudah dihahit. Setelah ditata remasan kertas semen tersebut dijahit agar tidak mudah lepas," terangnya.

Usai memperlihatkan hasil karyanya, Debi dan kawan-kawannya tidak keberatan apabila ada yang ingin memesan busana daur ulang ini.

"Kalau memang ada yang minat dan minta dibuatkan. Kami tidak keberatan asal tidak menganggu jadwal kuliah," tandasnya.

Ia berharap dengan inovasinya lebih banyak masyarakat yang sadar bahwa sampah yang menumpuk bisa diolah menjadi benda bermanfaat.