Karomah Gus Miek, di Antara Gus Sabuth dan Gus Tajuddin

08 Oct 2019 21:33 Khazanah

KH Hamim Thohari Djazuli alias Gus Miek berkepribadian unik. Sang Waliyullah ini, tentu saja, menyimpan banyak karomah dan kisah-kisah keteladanan. Terkait dua putra Gus Miek, buah cinta bersama Nyai Lilik Suyati (yang wafat pada Minggu, 6 Oktober 2019): Gus Tajuddin dan Gus Sabuth.

Dua putra Gus Miek itu, kini dikenal dengan nama lengkap H.Agus Tajjuddin Heru Cokro, putra sulung dan H Agus Sabuth Pranoto Projo, putra kedua Gus Miek yang kini melanjutkan perjuangan dalam Semaan Al-Quran Jantiko Mantab.

Gus Miek tak selalu berada di lingkungan Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Mojo Kediri. Karena dakwahnya, memungkinkan Gus Miek untuk menjelajah ke berbagai lokasi, termasuk di dunia malam, diskotek dan bar hotel berbintang.

Gus Miek menyimpan banyak kisah, termasuk hal-hal yang menjadi karomah sang Waliyullah berikut:

Pada suatu hari, Gus Miek, yang telah kembali ke Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso Mojo Kediri. Hal itu membuat beberapa santri yang menjadi pelayannya bahagia. Para santri yang melayaninya, justru penuh harapan bisa kembali mengikuti pendidikan di pesantren.

Tetapi, Gus Miek memiliki pandangan yang berbeda kepada santri-santri. Gus Miek justru memandang bahwa pahala mengaji pada KH. Djazuli dan putra-putranya sama besarnya dengan menjalankan tugas yang diberikan KH. Djazuli dan putra-putranya.

Suatu ketika, Gus Miek pernah memberi wejangan-wejangan pada KH Anshorullah (PP. Mamba’ul Hasan, Ksatrian, Kanigoro, Blitar), santri yang ditugaskan menimba air untuk memandikan Gus Tajuddin dan Gus Sabuth.

Gus Miek lalu berkata: “Kamu itu, kalau dipanggil Romo atau Ibu atau putra-putranya, jangan menunggu selesai mengaji. Tetapi langsung diletakkan kitabmu, terus sowan dan diniati mengaji.”

Amar Mujib (Putra Pendiri Pondok Pesantran Lor Mangunsari; ia juga adik ipar dari KH. Ahmad Siddiq), merupakan pelayan Gus Miek paling muda saat itu. Amar Mujib sering meninggalkan Gus Miek bila sudah tidur. Amar pergi untuk menghafal imrithy agar bisa masuk sekolah.

Gus Miek marah karena merasa dinomorduakan. “Masya Allah, Mas Adin (Zaenudin Djazuli) kakakku, kalau hanya ingin masuk sekolah, saya buatkan surat,” kata Gus Miek.

Dalam buku ‘Perjalanan dan Ajaran Gus Miek’ karya Muhammad Nurul Ibad disebutkan: Amar Mujib kemudian pulang mengambil kitab-kitab untuk mengaji.

Pada saat penerimaan santri baru, Amar Mujib meminta izin Gus Miek untuk sekolah dan mengaji, dan meminta surat pengantar sebagaimana yang pernah dijanjikan oleh Gus Miek.

Gus Miek justru menjawab: “Aku tidak ridho dunia akhirat kamu mengaji atau sekolah. Kalau kamu tetap saja mengaji atau sekolah, kamu mulai sekarang putus hubungan dengan aku dunia akhirat. Anak-anak satu pondok itu, Mar, anak sebanyak itu, yang jadi itu cuma satu. Jadi orang itu, kalau bisa mengambil jalan trabas (pintas); yang selamat itu yang mau mengambil jalan trabas; yang penting, kamu mengikuti aku.”

Amar Mujib pun tak berani membangkang karena ia dan bahkan kedua orang tuanya percaya kepada kewalian Gus Miek.

Ibnu Katsir Siroj, Putra KH. Khobir Mangunsari, yang juga pernah menjadi pelayan Gus Miek, juga menemukan kenyataan yang sama.

Pada saat akan mengaji, Gus Miek justru mencegahnya dan mengajaknya bepergian ke Malang. Cukup lama, selama satu minggu. Sehingga, kitabnya yang ditaruh di atas tumpukan bata merah menjadi hancur karena kehujanan.

Demikian juga ketika hendak mengikuti ujian, Gus Miek justru mengajaknya pergi. Sehingga, Katsir tidak bisa mengikuti ujian. Tetapi, di kemudian hari Gus Miek memberikan ijazah.

Demikian kisah dari buku ‘Perjalanan dan Ajaran Gus Miek’ yang ditulis Muhammad Nurul Ibad.