Aktivitas positif untuk populasi banteng. foto:google
Aktivitas positif untuk populasi banteng. foto:google
Jejak Konservasi Banteng di Jawa Timur (2)

Karena Banteng (mungkin) Biasa Dianggap Enteng

Ngopibareng.id Jawa Timur 20 March 2018 20:40 WIB

Banteng apa Sapi Alas. Sapi Alas apa Banteng. Bingung kan? Jangan bingung, sebab itu hanya penamaan lokalitas yang disematkan oleh masyarakat lokal.  

Banteng punya nama lain sebagai Bos  Javanicus.  Nah, orang Jawa, menyebutnya,  sebagai Sapi Alas. Beberapa suku di Kalimantan menyebutnya sebagai Klebo dan Temadu.

Sejumlah ahli dalam beberapa buku menyebut Sapi Alas masuk dalam klasifikasi mamalia dan masuk dalam famili bovidae dan sub famili bovinae. Memiliki subspecies  di  Jawa  dan  Bali  yaitu  B. javanicus javanicus, di Kalimantan B. javanicus lowi, dan di Asian mainland B. javanicus birmanicus. Pendeknya, banteng adalah mamalia bernilai dan sudah seharusnya masuk dalam ranah perlindungan.

Seperti dicatat dalam banyak literasi, di Jawa Timur, populasi banteng hidup di Taman Nasional Alas Purwo, Baluran, dan Meru Betiri.  Di luar kawasan konservasi mereka hidup hutan Perum Perhutani dan juga di perkebunan rakyat. Fakta inilah yang membuat populasi Bos  Javanicus ini rawan terhadap ancaman kepunahan seperti yang dimaksud dalam endangered species itu.

Kerawanan dan ancaman ini membuat Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur selaku UPT Teknis KSDAE sudah barang tentu tak bisa tinggal diam. Balai ini mengusung program site monitoring dan ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai site monitoring habitat banteng.

Habitat banteng yang berada diluar kawasan konservasi di wilayah Jawa Timur berada di Perkebunan Treblasala, Hutan Lindung Londo Lampesan dan Hutan Lindung Lebak Harjo.

Baseline data tahun 2013 menyebut, jumlah banteng pada tiga site monitoring itu berjumlah 50 ekor. Namun jumlah mereka makin tahun semakin tajam jumlah penurunannya.

Tahun 2017 misalnya, populasi banteng di tiga site monitoring itu hanya berhasil mencatat 20 ekor saja.

Bila diperinci yang ada Perkebunan Treblasala berjumlah 17 ekor, Hutan Lindung Londo Lampesan 3 ekor, sementara di Hutan Lindung Lebakharjo teridentifikasi kosong.

Sebelumnya, di tahun 2016 dicatat ada kenaikan populasi sebanyak 2 ekor. Jumlah ini coba dibandingkan dengan baseline data tahun 2013, populasi banteng saat ini jauh berkurang.

Penurunan ini jelas memprihatinan bukan? Persoalan menjadi dilematis manakala para sapi alas itu melebar di luar kawasan konservasi. Konsekuensinya; banteng dianggap hama bagi perkebunan karena memakan kakao yang ditanam.

Kemungkinan adanya konflik terbuka antara satwa banteng dengan manusia tentu tak dapat dihindarkan. Sebab, banteng merambah ke lahan milik warga. Di luar itu, masih adanya perburuan liar di wilayah perkebunan maupun di hutan lindung.

Boleh jadi, penurunan populasi yang terdata, terdapat kekeliruan dalam pendugaan populasi karena metode yang digunakan adalah metode tidak langsung. (bersambung)

fotogooglefoto:google

Penulis : Widi Kamidi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

29 Nov 2020 16:11 WIB

Dituding Dalang “Hancurkan Risma“, Ini Kata Machfud Arifin

Pilkada

Machfud komitmen jaga keutuhan NKRI.

27 Nov 2020 20:43 WIB

Banteng Ketaton Ngaku Pekikan Hancurkan Risma, Ini Alasannya

Pilkada

Banteng Ketaton Surabaya tegas lawan arogansi Risma.

27 Nov 2020 16:50 WIB

Viral! Video 19 Detik Nyanyikan “Hancurkan Risma Sekarang Juga”

Pilkada

Suasana jelang Pilwali Surabaya semakin memanas.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...