Ketua LPAI, Seto Mulyadi atau yang akrab dipanggil Kak Seto. (Foto: Ant)
Ketua LPAI, Seto Mulyadi atau yang akrab dipanggil Kak Seto. (Foto: Ant)

Kak Seto Usulkan Sekolah Cukup Tiga Hari

Ngopibareng.id Pendidikan 04 December 2019 22:23 WIB

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi (Kak Seto) mengusulkan dalam kurikulum baru yang dirancang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, sekolah dalam satu minggu cukup tiga kali saja.

"Nah kami sudah membuat percobaan sekolah selama 13 tahun ini. Sekolah seminggu hanya tiga kali. Per hari hanya tiga jam. Tapi lulusannya yang masuk Kedokteran ada di UI, Gajah Mada, dan Undip. Kemudian USU dan Unhas. ITB dan IPB ada," katanya, Rabu 4 Desember 2019 seperti dikutip kompas.

Selain di sektor akademis, siswa-siswa binaannya di sekolah tersebut juga banyak yang jadi pengusaha hingga atlet yang sudah berlaga di kancah Internasional.

"Ada yang tuna rungu, putranya Mbak Dewi Yull lulus diundang ratu Elizabeth di London karena mampu memotivasi sesama tuna rungu," ujar Kak Seto.

Sebagai pembanding, Kak Seto juga memiliki sebuah sekolah formal bernama Mutiara Indonesia Internasional yang bekerja sama dengan Universitas Cambridge di Inggris dan telah berjalan sejak tahun 1982.

Dari kedua sekolah tersebut, homeschooling Kak Seto yang kegiatan belajar mengajarnya hanya 3 hari justru menerbitkan lulusan yang lebih memuaskan.

Menurut Kak Seto, hal itu bisa terjadi lantaran anak-anak merasa senang saat bersekolah.

"Anak-anak begitu ditanya, senang enggak sekolah di sini? Seneng banget pak. Itu yang penting. Kalau zaman now begitu dengar, anak-anak hari ini guru mau rapat, mereka langsung berteriak. Horeee bebas dari penjara rasanya," kata Kak Seto.

Kak Seto menjelaskan, di sekolahnya itu proses belajar mengajar dibangun secara efektif dengan memanfaatkan diskusi antar sesama. PR yang diberikan pun harus memicu kreativitas si anak.

Dengan sedikitnya waktu di sekolah, kata Kak Seto, anak-anak bisa meluangkan waktunya bersama keluarga serta mengembangkan minat dan bakat mereka.

Jadi anak-anak tidak jadi "robot" yang diharuskan menerima setiap pelajaran yang ada tanpa mempertimbangkan bakat terpendam mereka yang beda antara satu dan lainnya.

"Nah ini yang saya harapkan idenya Mas Menteri baru. Pokoknya gaya (kurikulum) milenial," kata Kak Seto. (kcm)

Penulis : Witanto

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

22 Oct 2020 19:15 WIB

Transformasi Sains dan Teknologi Penting bagi Kaum Santri

Khazanah

Pesan Hasan Chabibie, Plt. Kepala Pusdatin Kemendikbud

20 Oct 2020 21:45 WIB

Kemendikbud dan Telkom Langgar Hak Cipta, 220 Seniman Galang Aksi

Nasional

Memutar film tanpa seizin pembuatnya.

17 Oct 2020 06:33 WIB

Survei ASI: Program Kuota Internet Kemendikbud Berdampak Penting

Pendidikan

Penjelasan Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia Ali Rif'an

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...